Jakarta, Selular.ID – Isu ancaman terhadap keamanan terus menerpa Huawei sepanjang tahun ini. Di Eropa, Jerman dan Inggris telah berada di bawah tekanan oleh kepala dinas intelijen untuk membuat pendirian mereka terhadap Huawei menjadi lebih jelas.

Prasangka terhadap Huawei, berkembang menyusul langkah AS, Australia dan Selandia Baru. Ketiganya telah mengeluarkan larangan terhadap vendor Cina itu untuk memasok peralatan dan jaringan 5G ke operator di negara-negara tersebut.

Kini langkah yang sama ditempuh Jepang yang tengah menyiapkan peraturan baru untuk melarang perusahaan itu mengajukan penawaran pada kontrak pemerintah. Menanggapi seruan boikot itu, Ketua rotasi Huawei, Ken Hu meminta kepada pemerintah yang memberlakukan larangan terhadap peralatan China untuk menunjukkan bukti dugaan ancaman keamanan dan membuka jalur komunikasi sehingga dapat mengambil tindakan. Namun ia mencatat, sejauh ini seruan pelarangan tersebut tidak terjadi di banyak negara.

BACA JUGA:
Uji Fast Charging dan Ketahanan Baterai Saat Main Game Ala Oppo, Huawei dan Samsung

“Ketika datang isu keamanan, kita perlu membiarkan fakta berbicara sendiri. Catatan Huawei tentang keamanan bersih. Kami memiliki rekam jejak yang solid “, kata Hu saat konferensi pers di kantor pusat Huawei di Shenzhen (18/12/2018).
Menurutnya, lebih dari 30 tahun, perusahaan tidak pernah memiliki masalah keamanan cyber yang serius atau melihat bukti yang menunjukkan peralatan yang mereka gunakan berdampak pada ancaman keamanan.

Hu menambahkan bahwa perusahaan sangat menyadari bahwa perusahaan itu harus proaktif dengan pemerintah, masyarakat setempat, dan pelanggannya. Ia pun menegaskan akan selalu bekerja sama dengan otortitas terkait.

“inilah yang telah kami lakukan, dan kami bersedia mengambil langkah-langkah tambahan dibandingkan dengan rekan kerja kami di industri.

“Kami tidak akan santai. Ketika teknologi menjadi lebih kompleks dan jaringan menjadi lebih terbuka, kami akan terus meningkatkan investasi kami dalam upaya terkait keamanan”, papar Hu.

BACA JUGA:
Bocor, Huawei P30 Tampakkan Diri

Sebagai contoh, Huawei berencana untuk meluncurkan pusat keamanan di Brussels pada Q1 2019 sebagai bagian dari rencana jangka panjang untuk memperluas kerjasama dengan pemerintah lain di seluruh dunia, seperti yang sudah dilakukan Huawei di Kanada dan Inggris. Selain itu, pihaknya akan menginvestasikan $ 2 miliar selama lima tahun ke depan untuk meningkatkan proses rekayasa perangkat lunak agar lebih siap untuk masa depan.

Hu mencatat bahwa meskipun ada upaya untuk menciptakan ketakutan tentang Huawei, namun kepercayaan pelanggan terhadap tak berubah.

“Pelanggan tetap mempercayai kami dan bekerja bersama kami. Saya berterima kasih atas dukungan mereka”, kata Hu.

Tiga kelompok bisnis yang dimiliki Huawei, imbuh Hu, semua memiliki pertumbuhan bisnis yang memuaskan pada tahun 2018. Ketiga divisi tersebut, masing-masing enterprise, network dan consumer, memiliki peran yang sangat penting bagi pertumbuhan perusahaan.
Dengan pertumbuhan yang sangat baik, Huawei menargetkan rekor total pendapatan $ 100 miliar pada akhir tahun ini. Hingga Desember 2018, Huawei telah mendapatkan lebih dari 25 kontrak 5G komersial dan mengirimkan lebih dari 10.000 BTS 5G.

BACA JUGA:
Cara Beli Huawei Mate 20 Pro Seharga Rp1

Hu mengatakan dia tidak dalam posisi untuk menjawab pertanyaan terkait penangkapan CFO Meng Wanzhou di Kanada atas dugaan pelanggaran sanksi perdagangan karena ini adalah kasus yang sedang berlangsung.

Meski demikian, ia menegaskan kembali perusahaan yakin dalam langkah-langkah kepatuhan perdagangannya, bersama dengan sistem peradilan di Kanada dan AS.

Hu pun menegaskan, kasus yang menimpa Meng Wanzhou tidak berdampak pada rencana perjalanan para eksekutifnya di seluruh dunia.