Jakarta, Selular.ID – Pasca akuisisi Uber oleh Grab pada akhir 2017, kompetisi bisnis ride sharing di Tanah Air kini hanya menyisakan dua pemain, GoJek dan Grab. Dengan pasar yang bersifat oligopoli, masyarakat kini tak lagi punya banyak pilihan. Apalagi jika melihat struktur tarif yang tak jauh berbeda dari keduanya.

Selain bisnis transportasi, GoJek dan Grab mulai mengembangkan bisnis lain, seperti antar barang, jasa bersih-bersih, dan pesan-antar makanan. Demi memperkuat layanan tersebut, keduanya juga mengekspansi bisnis e-money, guna memudahkan masyarakat dalam melakukan transaksi.

Suka atau tidak suka, transportasi online telah menjadi penyelamat perekonomian. Menurut Bima Yusdistira, peneliti dari Indef, ketika saat ini pertumbuhan ekonomi kita stagnan pada angka 5 persen, sektor transportasi online malah tumbuh 8,6 persen selama triwulan satu 2018 dibanding periode sama 2017.

Apalagi baik Grab maupun GoJek mampu menyerap cukup banyak tenaga kerja. Indef menyebutkan, penyerapan tenaga kerja di sektor transportasi online mengalami kenaikan 8,5 persen pada kwartal pertama tahun 2018. Hal ini, memberikan dampak positif pada penyerapan tenaga kerja secara keseluruhan, dan bisa meningkatkan perekonomian Indonesia.

Secara lebih rinci, hingga Maret 2018, mitra pengemudi yang bergabung dengan GoJek tercatat mencapai 1 juta orang. Sedangkan Grab jumlahnya lebih besar lagi, 2 juta orang.

Begitu pun dari sisi pendapatan, juga terjadi peningkatan. Sebelum bergabung di sektor transportasi online, pendapatan mitra driver di bawah Rp 2,5 juga per bulan. Setelah bergabung bisa menghasilkan Rp 4,5 juta per bulan.

BACA JUGA:
Indosat Perkuat Pelanggan Enterprise Tingkatkan Bisnisnya melalui Digital

Dengan pencapaian tersebut, kehadiran Grab dan GoJek berperan sangat besar dalam memutar roda perekonomian. Berkat kontribusi perusahaan ride sharing, Presiden Joko Widodo patut berterima kasih.

Pasalnya, dengan mempekerjakan 3 juta orang sebagai mitra pengemudi, Grab dan GoJek telah membantu Jokowi menyelesaikan sebagian dari janji politik yang ia ucapkan jika ia terpilih sebagai Presiden.

Sebelumnya Jokowi menjanjikan sebanyak 10 juta lapangan pekerjaan akan tercipta dalam masa lima tahun (2014 – 2019). Hingga Oktober 2018, empat tahun masa Kabinet Kerja, pemerintah mengklaim sudah tercipta 8,7 juta. Di sisa waktu pemerintahan yang tinggal 1 tahun lagi, pemerintah optimis target 10 juta lapangan pekerjaan bakal terlampaui.

Buy Back Indosat

Jika Grab dan GoJek sudah “membantu” Jokowi dalam merealisasikan janji-janji politik, terutama dalam upaya menciptakan lapangan kerja, tidak demikan halnya dengan Indosat Ooredoo.

Pasalnya, hingga kini rencana upaya pemerintah untuk membeli kembali (buy back) saham perusahaan telekomunikasi yang pernah menjadi kebanggaan Indonesia itu masih jauh panggang dari api. Padahal dalam kampanye pilpres 2014, Jokowi optimis bisa membawa kembali Indosat ke pangkuan ibu pertiwi.

Alotnya upaya buy back disampaikan langsung oleh Direktur Utama Indosat Ooredoo Chris Kanter saat bertemu Presiden Jokowi, Kamis (29/11/2018). Dalam pertemuan tersebut, Kanter yang baru menjabat sebagai dirut pada Oktober lalu, menyarankan kepada Jokowi agar menunda upaya tersebut karena berbagai alasan.

BACA JUGA:
Ini Alasan Chris Kanter Mau Turun Gunung Pimpin Indosat

Seperti dilansir dari Detikcom, Kanter mengatakan saat ini bukanlah waktu yang tepat jika pemerintah ingin buyback. Dia menjelaskan saat investor Qatar membeli saham Indosat dari pemerintah, nilai kapitalisasi pasar perusahan sekitar US$ 3,3 miliar.

Namun saat ini turun menjadi kurang dari US$ 1 miliar, sehingga tidak mungkin investor tersebut mau menjual dalam posisi rugi.

Kalaupun Ooredoo mau memberikan diskon 50% atas harga saham yang mau dijual ke pemerintah, menurut Chris negara malah justru dirugikan.

“Katakanlah belinya dengan hitungan nilai kapitalisasi pasar US$ 1,5 miliar, ya buat pemerintah merugikan kan barangnya sebenarnya US$ 1 miliar. Itu malah bisa jadi isu besar,” tambahnya.

Kanter menambahkan sebenarnya pemerintah melalui Menteri BUMN Rini Soemarno beberapa waktu lalu sudah pernah difasilitasi bertemu dengan investor Qatar untuk menyampaikan niat membeli kembali Indosat, namun sejauh ini Qatar memang tidak memiliki rencana untuk menjual. 

Bahkan sebaliknya, saat kinerja Indosat tidak menggembirakan, mereka justru menyetujui rencana perusahaan untuk meningkatkan nilai capex, yakni sebesar US$ 2 miliar untuk 3 tahun ke depan.

Saat ini memang performa Indosat tengah dalam tekanan. Indosat melaporkan kinerja keuangan kuartal 3 tahun 2018 EBITDA sebesar Rp1.64 miliar (-49% y-y, + 5% q-q), lebih rendah dari perkiraan Bahana Sekuritas, yakni bisa mencapai 24% y-y dan 17% q-q.

Sementara itu, rugi bersihnya terus membesar. Jika periode yang lalu masih meraih laba sebelum pajak Rp1,7 triliun, namun di periode ini Indosat membukukan kerugian sebesar Rp1,4 triliun.

BACA JUGA:
Jaringan 4G Plus Indosat Rambah Sumatera Utara

Dibandingkan dengan pesaingnya kinerja Indosat terbilang cukup parah. XL Axiata merugi di kuartal 3 tahun 2018, sebesar Rp 274 miliar dari sebelumnya laba Rp193 miliar. Sedangkan laba PT Telkom Rp 27.6 triliun di periode yang sama.

Keengganan Oredoo Group menjual kembali Indosat kepada pemerintah Indonesia, sebenarnya tidak mengejutkan. Dalam kesempatan bertemu langsung dengan mantan Group CEO Ooredoo Nasser Marafih di Doha, Qatar (28/10/2015), saya mengonfirmasi langsung apakah memang Ooredoo berniat melakukan divestasi sesuai dengan keinginan presiden Jokowi.

“Investasi yang dilakukan Ooredoo di Indosat bersifat jangka panjang. Seperti halnya di negara-negara lain, kehadiran Ooredoo di Indonesia merupakan kesempatan bagi kami untuk berupaya meningkatkan kualitas masyarakat sejalan dengan kemajuan teknologi selular”, ujar Nasseer.

Salah satu komitmen Ooredoo, imbuh Nasseer, tercermin dari nilai capex Indosat yang terus meningkat setiap tahun. Dalam beberapa tahun terakhir, Capex yang digelontorkan difokuskan pada modernisasi jaringan, terutama untuk mendukung langkah Indosat dalam meluncurkan layanan internet cepat berbasis 4G LTE.

Meski isu buy back terus mengemuka, Nasseer menghormati keinginan beberapa pihak terkait divestasi tersebut. Namun, ia menegaskan bahwa Ooredoo Group lebih fokus untuk mengembangkan Indosat sebagai operator terkemuka, terutama dalam hal layanan data sesuai dengan kebutuhan masyakat yang semakin berkembang.