Jakarta, Selular.ID – Seiring dengan meningkatnya perang dagang antara AS dan China, vendor-vendor China kini tak lagi leluasa memasuki pasar negeri Paman Sam.

Kebijakan drastis AS dibawah Presiden Donald Trump, membuat pabrikan China terpaksa mengerem laju ekspansi di pasar smartphone terbesar ketiga di dunia itu. Utamanya karena hambatan politik yang hingga kini masih terus disuarakan oleh senator-senator dari Partai Republik.

Hal itu berujung pada keluarnya undang-undang yang melarang pemerintah dan kontraktor pemerintah menggunakan teknologi dari Huawei dan ZTE. Larangan yang mulai diberlakukan pada Agustus 2018 itu, adalah bagian dari National Defense Authorization Act, dan berlaku selama dua tahun ke depan.

Ketetapan tersebut adalah keputusan final dari Kongres, di mana kubu Partai Republik yang mengusung Trump menganggap dua vendor asal China itu menjadi Ancaman AS.

Akibatnya, dalam dua kasus berbeda, dua pabrikan terkemuka China, Huawei dan ZTE merasakan pahitnya mendapat penolakan dari otoritas AS. Tuduhan spionase dan membahayakan keamanan nasional, membuat Huawei terpaksa mengalihkan fokus penjualan ke pasar Eropa. Padahal, Huawei telah menjalin kerjsama dengan AT&T untuk memasarkan varian Mate 10 di akhir 2017.

Nasib lebih buruk terpaksa ditelan ZTE. Selain keharusan membayar denda senilai USD1 juta, perusahaan juga harus merombak struktur manajemen jika masih ingin berbisnis di AS. Sebagai bagian dari kesepakatan, ZTE wajib memberhentikan 4 pejabat senior dan memberikan sanksi kedisplinan kepada 35 stafnya. ZTE juga harus menempatkan tambahan USD400 juta sebagai dana penjaminan.

BACA JUGA:
Huawei dan Honor Ciptakan Brand Baru

Akibat sanksi keras dari Departemen Perdagangan AS yang dijatuhkan pada April 2018, karena dianggap mendukung penjualan ke Korea Utara dan Iran, Bloomberg melaporkan bahwa ZTE setidaknya menelan kerugian hingga Rp44 triliun. 

Karena sanksi bertubi-tubi itu, ZTE pun kelimpungan. Agar tidak. collapse, perusahaan terpaksa mencari pinjaman hingga USD10,7 miliar dari Bank of China.

Meski pemerintah AS bersikap keras terhadap Huawei dan ZTE, namun tak semua vendor China menjadi paria di sana. Salah satu pabrikan yang kini terbilang beruntung adalah OnePlus.
Vendor yang masih seinduk dengan Oppo itu, tidak mengalami kendala untuk memasarkan varian terbaru, yakni OnePlus 6T. Hanya seminggu setelah peluncuran resmi di Tiongkok (12/10/2018), perusahaan mengumumkan bahwa OnePlus 6T diharapkan sudah dapat melenggang di pasar AS pada 30 Oktober mendatang.

Selain dipasarkan melalui gerai-gerai terbuka termasuk media daring, smartphone seharga USD 550 akan ditawarkan melalui program bundling dengan operator T-Mobile. Dengan mengandeng T-Mobile, OnePlus 6T berpotensi mencetak kesuksesan karena karena banyak konsumen di AS membeli perangkat mereka melalui operator.

BACA JUGA:
Resmi, Huawei Mate X Meluncur Juni 2019

Keberhasilan OnePlus “menaklukkan” pasar AS ditengah ketegangan yang mengimpit kedua negara, membuat HMD Global melihat celah yang sama. Pemegang merek smartphone Nokia itu, bertekad untuk mengembalikan kejayaan Nokia ke AS.

Memang sejak beberapa waktu lalu, pasar AS digembar-gemborkan sebagai target berikutnya dalam upaya HMD Global untuk menghidupkan kembali merek Nokia. Desas-desus tentang perjanjian distribusi potensial telah dilakukan HMD Global dengan Verizon.

Dalam postingan di Twitter, reporter VentureBeat Evan Blass mencatat “kami belum melihat handset bermerek Nokia di Verizon sejak Windows Phone bertenaga Lumia” menggebrak pasar AS seperti beberapa tahun yang lalu.

Namun ia mengatakan merek ini “siap come back dengan aroma Android”. Khususnya edisi Verizon Nokia 2.1. Tentunya kesepakatan antara HMD Global dengan Verizon dapat membuka pintu baru bagi Nokia untuk kembali diminati oleh konsumen AS.

Dia menambahkan membawa perangkat seperti Nokia 2.1 akan memungkinkan Verizon untuk menguji tanggapan konsumen terhadap merek. Sekaligus memberikan kesempatan untuk mengevaluasi bagaimana HMD Global berfungsi sebagai mitra vendor. Sayangnya, sejauh ini Blass tidak memberikan petunjuk kapan ponsel Nokia mungkin diluncurkan oleh operator bersangkutan.

BACA JUGA:
Ini Smartphone 5G Pertama OnePlus

Seperti kita ketahui, setelah mendapatkan lisensi untuk menggunakan merek Nokia pada 2016, HMD Global secara konsisten meluncurkan kampanye untuk membangun kembali popularitas Nokia yang pernah berjaya sepanjang lebih dari dua dekade, dengan berbagai line up yang lebih segar.

Namun, seperti kasus yang dialami oleh Huawei dan ZTE, sekarang hanya terdapat segelintir merek-merek asal China yang berhasil masuk ke AS. Kebanyakan yang lolos adalah perangkat yang tidak dikunci yang dijual melalui saluran ritel.

Namun pangsa pasar produk yang dijual secara bebas, tidak sebesar pasar bundling, dimana vendor handset dapat menjual produk lebih banyak melalui kerjasama ekslusif dengan operator.

Jauh sebelum HMD Global yang berencana menaklukkan pasar AS, vendor nomor lima dunia Xiaomi, sesungguhnya sudah berniat melebarkan sayap ke sana.

Sebuah laporan baru dari Wall Street Journal (5/2), mengungkapkan bahwa Chairman Xiaomi, Lei Jun mengatakan bahwa perusahaannya berencana untuk masuk pasar AS pada akhir 2018 atau selambat-lambatnya di awal 2019.

Jika Xiaomi mampu memasarkan smartphone buatan mereka ke AS, tentunya itu semakin memperkuat reputasi merek mereka di pasar global. Apalagi sejauh ini, Xiaomi sudah menjual berbagai produk di sana, seperti kamera dan speaker.