Jakarta, Selular.ID – Tak berlebihan jika Xiaomi adalah fenomena di industri selular saat ini. Brand asal Tiongkok itu, tengah menikmati popularitas di tengah masyarakat yang mendorong tingginya permintaan. Hebatnya, popularitas tersebut diperoleh tanpa harus mengeluarkan dana promosi. Lho, kok bisa?

Sejak awal kehadirannya di Indonesia pada 2014, Xiaomi berusaha membangun persepsi sebagai brand smartphone yang menawarkan spesifikasi tinggi, namun dengan bandrol yang terjangkau di kantong konsumen.

Dengan bekerjasama dengan toko-toko online untuk menjual produknya, Xiaomi tak perlu mengeluarkan dana untuk membangun toko-toko fisik. Jurus murah meriah ini terbukti menjadi daya sihir yang kuat, menjadikan kehadiran Xiaomi dengan cepat diterima oleh masyarakat.

Untuk menjangkau lebih banyak pengguna sekaligus menumbuhkan loyalitas, Xiaomi dengan cerdik membangun komunitas. Dengan basis pengguna di tingkat bawah (grass root), komunitas Xioomi yang diberi nama MiFans itu terus membesar jumlahnya.

Menurut Head of Xiaomi South Pacific Region and Country Manager Xiaomi Indonesia Steven Shi, Pada akhir 2017 lalu, anggotanya sudah mencapai 300 ribu. Luar biasa. Rasanya tak ada brand smartphone lain yang punya keanggotaan sebanyak Xiaomi.

BACA JUGA:
Babak Baru Pertarungan Samsung Vs Xiaomi

Keberhasilan Xiaomi menerapkan strategi harga murah dan pemasaran berbasis komunitas, tentu saja dilengkapi dengan aktifitas PR (public relation). Kegiatan PR bahkan sangat strategis karena memang ditujukan untuk meniadakan biaya promosi dan iklan di media massa.

Sejak awal, Xiaomi secara konsisten memanfaatkan medium-medium digital untuk menggenjot publikasi. Di era revolusi digital yang mengawinkan viralitas dan kecepatan, aktifitas ini menjadi sangat krusial, terutama dalam menjangkau konsumen milenial.

Jadilah blogger, vlogger, dan para aktivis media sosial menjadi ujung tombak bagi Xiaomi dalam menciptakan efek word of mouth. Gencarnya para content creator itu memberitakan beragam hal tentang Xiaomi, membuat vendor yang berbasis di Shenzen itu berada di atas angin.

Bagaimana dengan media-media konvensional? Tentu saja Xiaomi tidak alergi. Faktanya, Xiaomi dengan cerdik memanfaatkan kekuatan media-media tersebut demi memperkuat reputasi yang tengah dibangun.

Bagaimana pun, ditengah tengah hitsnya para content creator, laporan yang diturunkan oleh media massa umum, baik cetak, elektronik maupun digital, memiliki keunggulan, terutama dari sisi kredibilitas dan independensi yang mampu mempengaruhi pembaca dan masyarakat umum.

BACA JUGA:
Spesifikasi Redmi Note 7, Si 'Perusak' Harga Pasar

Berbeda dengan content creator terutama para MiFans yang cenderung melakukan puja puji untuk Xiaomi, pemberitaan media massa cenderung tak bisa didikte. Itu sebabnya, demi membangun kedekatan, Xiaomi tak segan untuk mengemas beragam acara. Seperti melakukan sesi wawancara ekslusif dengan pendiri perusahaan Lei Jun.

Aktifitas lain, adalah mengundang para jurnalis untuk melakukan media trip, seperti kunjungan ke luar negeri. Baik untuk menghadiri undangan peluncuran produk, maupun melongok ke pabrik Xiaomi, seperti India.

Di sini, treatment Xiaomi jelas memperlihatkan bahwa vendor lebih memilih untuk men-servis jurnalis bukan institusinya. Sesuatu yang sesungguhnya menjadi dilema bagi media.

Jadilah, kombinasi berita yang dihasilkan oleh content creator dan media massa umum, membuat Xiaomi menikmati banjir publisitas. Keberhasilan Xiaomi melakukan IPO baru-baru ini juga tak bisa dilepaskan dari kontribusi media massa karena mendorong keyakinan para investor.

Sejatinya, saat vendor lain rela menggelontorkan dana besar untuk berpromosi, Xiaomi menjadi satu-satunya vendor di kelompok elit yang tak memiliki budget iklan! Xiaomi beralasan budget promosi hanya akan menambah beban konsumen yang menginginkan harga smartphone terjangkau.

BACA JUGA:
IDC: Top 5 Vendor Smartphone di Indonesia Q3 2018

Di satu sisi, Xiaomi mampu membuktikan bahwa untuk bisa sukses, sebuah brand tak harus mengeluarkan budget untuk berpromosi di media-media massa.

Xiaomi juga tak perlu menyewa jasa selebritis sebagai brand ambassador, seperti yang dilakukan Oppo, Vivo, Asus, Samsung, atau Advan yang harus keluar dana besar.

Keputusan Xiaomi tak mengeluarkan duit sepeser pun untuk beriklan namun bisa mencetak kesuksesan, merupakan credit tersendiri. Bagi saya pribadi, kiprah Xiaomi layak masuk dalam kasus pemasaran, karena jelas unik dan menarik. Rasanya, pakar pemasaran Hermawan Kertayajaya perlu mengangkat kiprah Xiaomi yang ‘nyeleneh namun sukses itu dalam forum-forumnya.

Sayangnya jika kita telaah lebih jauh, jelas kita melihat bahwa sesungguhnya dibalik keberhasilan yang diraih, manajemen Xiaomi tak peduli dengan nasib media massa di Indonesia.

Xiaomi seolah menutup mata bahwa media massa juga institusi bisnis yang harus menghidupi jurnalis dan karyawannya. Padahal iklan dari korporat atau brand, merupakan nyawa utama bagi sebuah media dalam bertahan hidup. Sayangnya, tak ada kamus imbal balik bagi Xiaomi.

Jika sudah begini, apa untungnya media massa memberitakan Xiaomi?