Friday, May 24, 2019
Home News Feature Mengukur Kekuatan Honor dan Gionee, Siapa Mampu Bertahan?

Mengukur Kekuatan Honor dan Gionee, Siapa Mampu Bertahan?

-

Jakarta, Selular.ID – Dengan pertumbuhan hingga 30%-50% per tahun, Indonesia adalah pasar smartphone terbesar ketiga di Asia Pasifik, setelah China dan India.

Menurut kajian lembaga riset e-Marketer, pada 2016 pengguna smartphone sudah mencapai 65,2 juta. Dengan angka pertumbuhan dua digit per tahun, maka pada 2019, e-Marketer memprediksi jumlahnya bakal menembus 92 juta pengguna.

Harga yang terus terjangkau dan penetrasi device 4G yang masih berkisar 30% dari total populasi, maka tentu saja ceruk pasar smartphone di Tanah Air masih sangat terbuka lebar.

Alhasil, setiap tahun selalu ada muka baru yang mencoba peruntungan. Sebut saja Honor dan Gionee. Dua merek asal China itu telah resmi menjajakan produknya untuk konsumen sejak beberapa waktu lalu.

Honor misalnya, berusaha membangun positioning sebagai smartphone berharga terjangkau namun mengusung spesifikasi yang mumpuni. Sejak pertama kali hadir pada Maret lalu, sub brand Huawei itu langsung berhadap-hadapan dengan Xiaomi dan Asus.


Honor diketahui telah resmi memperkenalkan Honor 9 Lite, Honor 7X, Honor 7A, dan Honor 7s. Perusahaan juga bersiap memperkenalkan varian terbaru, yakni Honor 10 pada akhir Juli 2018.

Begitu pun dengan Gionee. Vendor yang menunjuk Cinta Laura sebagai brand ambassador ini, diketahui sudah menjajakan sejumlah varian, seperti F205, M7 Power, S11 Lite, X1, P8M, S10 Lite, dan yang teranyar Gionee F205.

Baca juga: Menunggu Gebrakan Gionee di 2018

David Yeung, CEO Gionee Indonesia, menyebutkan bahwa Indonesia adalah pasar yang sangat penting bagi setiap brand smartphone termasuk Gionee, mengingat Indonesia merupakan pasar terbesar ketiga di kawasan Asia Pasifik.

“Sebagai sebuah negara berkembang, Indonesia memiliki potensi yang sangat besar, dengan konsumen yang menginginkan produk smartphone unggulan namun dengan harga terjangkau, sehingga dapat memenuhi kebutuhan gaya hidup mereka,” ujar David di sela-sela peluncuran M7 Power di Jakarta ((8/12/2017).

Senada dengan David, James Yang, Presiden Honor Indonesia menegaskan bahwa Indonesia merupakan tujuan utama ekspansi global Honor. Ia ingin Honor ingin menjadi merek smartphone yang paling dicintai kalangan muda dan yang berjiwa muda.

James Young, President Honor Indonesia

“Kami punya mimpi besar di Indonesia. Kami ingin menjadi Top 3 di sini dalam tiga tahun mendatang,” ujar James saat peluncuran Honor 7A di Jakarta, Senin (4/6/2018).

Target tinggi yang diusung James di Indonesia memang sejalan dengan visi Honor yang ingin menjadi brand global. Honor sendiri sudah berdiri sejak 2014. Selama empat tahun, perusahaannya telah melakukan ekspansi ke pasar manca negara.

Dengan dukungan Huawei, sebagai induk perusahaan, saat ini Honor telah hadir di 74 negara. Bukan hanya di negara maju seperti Eropa dan AS, James menekankan perusahaannya juga fokus hadir di negara berkembang seperti Indonesia.

“Kami ingin menjadi Top 5 vendor smartphone global dalam tiga tahun dan Top 3 dalam lima tahun,” tegasnya.

Baca juga: Honor Incar Top 3 Vendor Smartphone di Indonesia

Target tinggi yang diusung Honor sejalan dengan performa apik yang mereka bukukan. Berdasarkan data riset IDC, kiprah Honor di negara asalnya cukup menggembirakan. Honor menyumbang hampir separuh dari total 24% pangsa pasar yang dikuasai Huawei dan membuat mereka jadi nomor satu di China mengalahkan Xiaomi, Samsung, dan Apple.

Berbeda dengan Honor yang berani mengusung target besar di Indonesia, Gionee terlihat lebih low profile. Padahal, meski tidak sementereng Honor, Gionee juga sudah menjadi pemain global.

Baca juga: Gionee Tetapkan 13 Negara Jadi Tujuan Ekspansi

Didirikan sejak September 2002 di China, Gionee Communication Equipment Co. Ltd. adalah sebuah perusahaan teknologi yang berfokus pada riset dalam pengembangan perangkat-perangkat selular inovatif.

Dalam 15 tahun terakhir, Gionee telah tersedia di lebih dari 13 negara, termasuk Tiongkok, UAE, India, Nigeria, Mesir, Kenya, Nepal, Thailand, Myanmar, Kazakhstan, Filipina, Vietnam, dan Georgia. Dengan lebih dari 40 juta ponsel yang terjual sepanjang 2016, Gionee kini memiliki kapasitas produksi hingga 100 juta unit per tahun.

Sayangnya belakangan ini performa Gionee diketahui tengah kedodoran. Gionee dilaporkan telah membuat keputusan PHK yang signifikan, karena menderita kerugian setelah pertempuran yang mahal dengan para rival di pasar perangkat cerdas.

Baca juga: Gelombang PHK Melanda Gionee

Gionee telah memangkas separuh staf dari pabrik utamanya di Dongguan, China. Kebijakan drastis tersebut terpaksa diambil oleh perusahaan, akibat melambatnya pertumbuhan di pasar dalam negeri.

Para pemain yang lebih besar termasuk Xiaomi dan Huawei terus meningkatkan belanja mereka untuk pemasaran guna melindungi market share yang telah dikuasai, sehingga sulit bagi para pemain lapis kedua dan ketiga, seperti Gionee untuk bersaing di pasar yang sangat kompetitif.

Para eksekutif Gionee mengatakan, bahwa langkah-langkah seperti PHK akan memungkinkan upaya mereka dalam melanjutkan bisnis. Di sisi lain, untuk memulihkan kondisi keuangan, Gionee dilaporkan juga tengah menjajaki pembicaraan dengan investor baru.

Tak berlebihan jika melihat peta pasar yang ada saat ini, Honor berada di atas angin terhadap sejumlah pendatang baru seperti Gionee. Huawei sebagai induk perusahaan tentu akan all-out membantu Honor mencapai target yang telah ditetapkan.

Berbeda halnya dengan Gionee. Debut mereka di Tanah Air dibayangi performa induk perusahaan yang saat ini tidak menggembirakan. Apakah langkah Gionee akan terhambat di Indonesia? Kelak waktu yang akan membuktikan.

Subscribe to Selular Newsletter

Dapatkan berita menarik seputar harga smartphone terbaru dan informasi telekomunikasi Indonesia.

Latest