Monday, July 22, 2019
Home News Market Update Smartfren : Data Canalys Belum Teruji Keakuratannya

Smartfren : Data Canalys Belum Teruji Keakuratannya

-

Jakarta, Selular.ID – Beberapa waktu lalu, lembaga riset Canalys merilis data Top 5 Vendor Smartphone di Indonesia. Di Canalys, Samsung berhasil menduduki peringkat pertama dengan market share tertinggi selama kuartal 1 2017 (Q1 2017) hingga kuartal 1 2018 (Q1 2018). Diikuti Xiaomi, Opppo, Vivo dan Smartfren yang menyandang posisi kedua hingga kelima.

Predikat Top Top 5 Vendor Smartphone in Indonesia berdasarkan market share yang didapat kelima perusahaan tersebut selama Q1 2017 hingga Q1 2018. Data ini didapatkan Canalys berdasarkan analisa mereka. Namun, data Canalys ini dirasa tidak valid.

Kami tim Selular.ID pun menanyakan kevalidan data tersebut kepada pihak Smartfren, Advan dan lembaga riset serupa Canalys yakni IDC. Smartfren berhasil meraih posisi ke 5 dengan ponsel Andromax nya.

Data Canalys tersebut mengungkapkan pendapatan Smartfren Andromax Q1 2017 mencapai USD780 ribu atau setara Rp10 miliar. Sementara di Q1 2018, justru mengalami penurunan sebesar USD520.000 atau senilai Rp 7,2 miliar. Market sharenya pun mengalami penurunan sebesar 5,6% dengan pertumbuhan minus 34,0%.

Menurut kami tim SelularID, dari data Canalys tersebut jelas mengalami kejanggalan. Karena market share dan pendapatan Smartfren Andromax yang menurun dari Q1 2017 ke Q1 2018. Mengingat brand Andromax sendiri sudah tidak terdengar lagi kabarnya sejak akhir 2017 lalu hingga saat ini.

Ketika dikonfirmasi melalui pesan singkat, Derrick Surya, VP Brand & Marketing Communication (Division Head) at PT Smartfren Telecom Tbk meragukan keakuratan data Canalys tersebut.

“Saya juga tidak tahu Canalys dapat data tersebut darimana. Acuan kita dari hasil audit retail market share data dari GFK. Data yang kita terima dari GFK masih bulan Juni 2017 dan belum ada data terbaru,” ujar Derrick melalui pesan singkat yang dilakukan SelularID.

Kami juga menanyakan kebenaran data ini melalui pesan singkat kepada lembaga riset serupa Canalys, yakni IDC.

Menurut Risky Febrian, Associate Market Analyst Client Devices IDC Indonesia, jika melihat dari pendapatan dan market share-nya yang menurun, kemungkinan pencapaian tersebut tak hanya berdasarkan penjualan Andromax saja. Bisa jadi melalui paket bundling smartphone yang dilakukan Smartfren dengan vendor ponsel lain.

“Kemungkinan seperti itu. Kalau kami IDC, perhitungannya dari penjualan murni smartphone Andromax saja tidak termasuk paket bundling, jelas Risky.

Jika dibandingkan vendor ponsel lokal asal tanah air lainnya seperti Advan, tentunya pencapaian Smartfren ini tak wajar. Sayangnya, Advan tidak masuk Top 5 Vendor Smartphone di Indonesia. Padahal penjualan Advan cukup baik.

Bahkan Advan masuk Top 5 Smartphones Companies in Indonesia selama 2017 dengan posisi ketiga dan perolehan market share 7,7%.

SelularID juga meminta keterangan dari Tjandra Lianto, Marketing Director Advan, melalui pesan singkat.

Baca juga: Canalys: Top 5 Vendor Smartphone di Indonesia

“Padahal growth-nya minus, tapi kenapa Smartfren nomor 5. Kalau Xiaomi juga double data. Kami tidak tahu metode perhitungan apa yang digunakan Canalys, tutup Chandra.

Latest