Jakarta, Selular.ID – Jika kita menelisik laporan keuangan operator yang disajikan secara berkala, baik per kuartal, per semester, atau pun secara tahunan (full year), maka kita akan selalu membaca berbagai gambaran umum, terutama menyangkut kinerja keuangan. Seperti pendapatan perusahaan, EBITDA, profitabilitas, beban operasional, dan lainnya.

Gambaran lain yang disajikan, umumnya menyangkut pembangunan jaringan terutama BTS 4G untuk menopang tumbuhnya layanan data, pertumbuhan berbagai jenis layanan (consumer dan enterprise), dan inisiatif-inisiatif lain yang mendukung arah dan tujuan perusahaan di masa datang.

Tentu saja, laporan kinerja tersebut juga dilengkapi dengan tumbuhnya basis pelanggan yang diklaim terus menguat. Baik pelanggan secara umum maupun pelanggan layanan data yang memang tengah hype, sejalan tingginya pengguna mobile internet di Indonesia.

Memang selain EBITDA, revenue dan laba bersih, secara nature jumlah pelanggan yang dimiliki juga merupakan value yang sangat penting untuk mengukur kinerja suatu operator.

Itu sebabnya, meski pasar sudah terbilang jenuh, operator akan terus berusaha meraih pelanggan baru, agar value perusahaan terlihat tetap meningkat di mata investor meski dihadapkan pada kerasnya kompetisi.

BACA JUGA:
Kecepatan Internet Indonesia Paling Buncit, Benarkah?

Mengacu pada laporan keuangan 2017 dan sumber lainnya, total jumlah pengguna lima operator selular pada akhir tahun lalu, mencapai 440.100.000.

Telkomsel berada di posisi pertama. Anak perusahaan Telkom ini sukses membukukan 197 juta pelanggan. Posisi kedua ditempati oleh Indosat Ooredoo yang punya 110 juta. Kemudian Tri Hutchinson di posisi keempat dengan 68,3 juta. XL Axiata di posisi kelima dengan 53,5 juta. Di posisi keenam Smartfren yang mengoleksi 12 juta pelanggan.

Sayangnya, jumlah pelanggan tersebut menciut drastis sebagai dampak dari program registrasi prabayar yang dijalankan pemerintah. Berdasarkan data hasil rekonsiliasi registrasi kartu SIM prabayar hingga 30 April 2018 lalu, tercatat ada 254.792.159 nomor pelanggan yang telah teregistrasi.

Rekonsiliasi dilakukan dengan menghitung data hits pada sistem data kependudukan Ditjen Dukcapil Kementerian Dalam Negeri dan data registrasi nomor pelanggan pada masing-masing operator.

Agung Harsoyo, Komisioner Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) mengatakan bahwa, angka tersebut merupakan angka yang paling realistis yang mencerminkan jumlah pengguna nomor selular di Indonesia.

BACA JUGA:
Kecepatan Internet Indonesia Paling Buncit, Benarkah?

Baca juga: BRTI: 254 Juta Pelanggan Angka yang Paling Realistis

“Selama ini kan referensi jumlah pelanggan selular tidak jelas, ada yang bilang 300 jutaan atau 400 jutaan. Data hasil registrasi yang sekarang lebih bisa dijadikan acuan mengenai jumlah pelanggan selular di Indonesia,” jelas Agung kepada Indra Khairudin, Editor Selular.

Menurut Agung, pelanggan prabayar tidak akan beranjak jauh dari angka  254 juta meskipun proses registrasi pelanggan baru masih akan berlanjut.

Sejauh ini, pengumuman menyangkut berapa data pelanggan riil operator masih belum dapat dipastikan. Tak satu pun operator buka suara karena mereka mengklaim bahwa hal itu merupakan domain dari Menkominfo Rudiantara.

Sayangnya menteri yang akrab dipanggil Chief RA itu, hingga hari ini juga belum memberikan tanda-tanda akan mengumumkan berapa jumlah pelanggan masing-masing operator. Apakah keengganan Rudiantara itu karena lobby-lobby dari operator tertentu? Wallahu a’lam.

Memang berdasarkan data yang diperoleh Selular, jumlah pelanggan prabayar menciut drastis. Beberapa bahkan harus rela kehilangan lebh dari setengah. Perinciannya adalah sebagai berikut :

  • Telkomsel 150 Juta
  • XL Axiata 45 Juta
  • Indosat Ooredoo 34 Juta
  • Hutchinson 3 Indonesia 17 Juta
  • Smartfren 7 Juta
BACA JUGA:
Kecepatan Internet Indonesia Paling Buncit, Benarkah?

Secara umum program registrasi pelanggan “sukses” menurunkan sebagian dari value operator. Operator harus kehilangan banyak pelanggan sebagai konsekwensi dari postur bisnis yang 90% didominasi pelanggan prabayar. Tentu hal itu akan menurunkan citra perusahaan di mata investor dan publik.

Baca juga: Masa Registrasi Prabayar Berakhir, Ini jumlah Pelanggan Prabayar Operator

Namun, ke depan kondisi itu diyakini akan mensehatkan industri selular yang selama lebih dari tiga dekade terjebak pada model bisnis yang keliru, seperti jor-joran jualan paket perdana ketimbang reload pulsa atau paket data.

Dalam hal ini, saya sangat setuju dengan pernyataan Dirut Telkomsel Ririek Adriansyah. Menurutnya penciutan pelanggan dengan sendirinya akan mendorong terciptanya pelanggan yang loyal sekaligus high value costumer.

“Bukan pelanggan yang senang berpindah operator karena iming-iming bonus pulsa atau data. Ujung-ujungnya hal ini akan menyehatkan operator dan juga industri secara keseluruhan”, tegas Ririek.