Wednesday, July 17, 2019
Home News Marak Terorisme, Kapolri Kecewa dengan Facebook CS

Marak Terorisme, Kapolri Kecewa dengan Facebook CS

-

Jakarta, Selular.ID – Serangan teror yang kerap terjadi belakangan waktu terakhir di Indonesia menjadi tanggung jawab banyak pihak, khususnya Kepolisian RI. Karena aksi teror ini tak hanya terjadi di dunia nyata saja, melainkan dunia maya. Mulai dari proses pencucian otak, perekrutan hingga jadwal penyerangan dilakukan melalui jejaring sosial oleh para teroris.

Menyangkut keberadaan terorisme di dunia maya, Kominfo juga bekerjasama dengan Kepolisian RI memberantas segala penyebaran akun terorisme dan radikalisme.

SelularID beberapa waktu lalu menemui Rudiantara selaku Menteri Kominfo terkait kasus terorisme tersebut. Kominfo juga mengadakan pertemuan bersama Google dan Facebook membahas seputar aksi teror di dunia maya tersebut.

Baik dari Kominfo, Google dan Facebook sudah memblokir sejumlah akun yang berbau terorisme dan radikalisme.

Menyoroti perkembangan kasus terorisme ini, kami meminta keterangan dari Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri), Jenderal Tito Karnavian.

Beberapa waktu lalu tim SelularID telah meminta keterangan dari Jenderal Tito Karnavian terkait pemindahan server platform media sosial internasional seperti Twitter, Facebook dan lainnya ke Indonesia. Karena selama ini server mereka hanya di kantor pusatnya, di negara masing-masing. Namun, hal ini urung terjadi hingga kini.

Untuk itu, Kepolisian RI dan Kominfo terus bekerjasama dengan Facebook dan jejaring sosial lainnya guna membersihkan semua akun berbau terorisme dan radikalisme.

“Pemahaman mengenai terorisme dan radikalisme kebanyakan didapatkan oleh para pelaku terorisme melalui internet, salah satunya media sosial. Seperti Facebook, Google, YouTube, Telegram, website dan lainnya. Tak hanya paham terorisme saja, bahkan tips merakit bom untuk melancarkan aksi teror bisa disaksikan video nya di YouTube dan penjelasannya di Google,“ tutur Kapolri, Jenderal Tito Karnavian melalui acara diskusi publik.

Menurutnya, penyebaran ideologi terorisme tidak hanya secara tatap muka langsung, tapi melalui media social (medsos).

Bahkan kasus penyadapan telepon yang terjadi beberapa waktu lalu oleh jaringan teroris dinilai Tito juga menggunakan medsos.

“Kami akan berusaha untuk menutup akun media social tersebut. Namun, pelaksanaanya tak semudah yang dibayangkan. Kepimilikan Facebook dan Telegram pun dari asing. Kapolri bersama Kominfo sudah berkordinasi dengan Facebook, Google, Telegram dan lainnya untuk menghapus akun terorisme pada platform mereka,” jelas Tito.

Jika platform nya yang ditutup pasti akan menimbulkan pro-kontra. Karena Facebook, Google, Telegram, YouTube dan sebagainya banyak sekali manfaatnya, tak hanya sisi negatif yang ditimbulkan saja.

Latest