SHARE

India MarketJakarta, Selular.ID – GSM Association memprediksi jumlah pengguna komunikasi lewat perangkat mobile di Asia Pasifik akan meningkat hingga 3,1 miliar pada tahun 2020. India disebut akan menjadi kunci pertumbuhan layanan mobile di kawasan tersebut. Negeri Sharukh Khan itu diprediksi akan menjadi salah satu dari empat negara dengan pasar terbesar dalam jumlah pengguna.

Tiga negara lain dengan pasar perangkat mobile terbesar adalah China, Indonesia, dan Jepang. Jumlah pengguna dari empat negara itu sudah mencakup lebih dari tiga perempat dari total pengguna di kawasan Asia Pasifik.

Tak heran, dengan populasi hampir mencapai 1 milyar, India adalah pasar yang layak diperebutkan oleh semua vendor handset. Laporan Strategy Analytics, menyebutkan bahwa sepanjang 2017, India akan melampaui Amerika Serikat sebagai pasar smartphone terbesar di dunia setelah China.

Linda Sui, Direktur Strategy Analytics, menyebutkan bahwa China telah menjadi mesin dalam perkembangan smartphone global selama beberapa tahun terakhir ini. Namun pertumbuhan China sekarang cenderung melambat. Sedangkan India saat ini dengan sangat cepat menjadi gelombang pertumbuhan besar yang berikutnya.

Strategy Analytics memprediksi, akan ada 174 juta smartphone yang akan terjual di India pada 2017. Meningkat pesat dibandingkan 2015 yang mencapai 118 juta unit.

Sedangkan riset yang dilakukan oleh perusahaan jaringan asal Swedia, Ericsson, mengungkapkan total pengguna smartphone di India, diprediksi akan mencapai 520 juta pada 2020 mendatang.
Tentu saja, berakhirnya era kejayaan Nokia pada 2010 dan peluang pertumbuhan yang sangat besar, membuat vendor lain punya kesempatan untuk meraih sebesar-besarnya pangsa pasar. Tak terkecuali vendor-vendor lokal yang berambisi menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Tercatat merek-merek lokal seperti Micromax. Lava dan Intex, berusaha mengambil porsi pasar yang lebih besr ditengah kepungan merek-merek global. Micromax bahkan sempat menjadi brand lokal paling diminati setelah Samsung.

Laporan lembaga riset IDC menunjukkan Samsung memimpin pasar dengan 25,1 persen pangsa pasar pada kuartal II (Q2) 2016. Posisi kedua ditempati oleh Micromax dengan 12,9 persen. Kemudian Lenovo di posisi ketiga dengan 7,7 persen, Intex 7,1 persen dan posisi lima besar ditutup oleh Reliance Jio dengan 6,8 persen pangsa pasar. Sisanya gabungan vendor lain dengan total 40,4 persen pangsa pasar.

Secara keseluruhan, pasar smartphone India mengalami pertumbuhan 17 persen pada Q2 2016. Dalam periode itu, brand-brand lokal India masih terlihat bertaji. Namun IDC mengingatkan, agresifitas pemain-pemain lain, khususnya vendor Tiongkok yang mencatat pertumbuhan hingga double digit. Hal ini menjadi ancaman bagi vendor lokal dan Samsung sebagai pemimpin pasar.

“Pengapalan vendor-vendor asal Tiongkok tumbuh 28 persen dari kuartal sebelumnya. Lenovo group, Vivo, Xiaomi, Oppo dan Gionee menjadi kunci pendorong pertumbuhan,” jelas IDC.

Titik Balik

Peringatan IDC pun akhirnya terbukti. Performa vendor lokal di akhir 2016 anjlok tajam. Menurut laporan Counterpoint Research yang dikutip Bloomberg, pabrikan smartphone asal China menduduki empat dari lima posisi teratas di kuartal terakhir 2016, mengalahkan Micromax dan Intex yang selama ini menjadi pilihan masyarakat India.

Walaupun Samsung masih memimpin pasar smartphone di negara ini, namun pabrikan asal Korsel tersebut mencatat penurunan pangsa pasar menjadi 24% di kuartal IV 2016 dari 29% pada kuartal yang sama tahun lalu.

Oppo in India

Sementara itu, Vivo, Xiaomi, Lenovo/Motorola, Oppo dan vendor Cina lainnya diperkirakan mampu menguasai total 46% pangsa pasar.

Direktur Penelitian Counterpoint, Neil Shah, mengatakan produsen smartphone China akan terus membanjiri India dengan produk mereka dengan strategi cabang ganda hingga tahun depan.
“Selain biaya pemasaran dan margin pengecer yang tinggi, Vivo, Oppo dan Huawei telah membayar premi dan menguasai pasokan komponen seperti layar OLED dan memori untuk tahun depan,” ujarnya, seperti dikutip Bloomberg.

Ekspansi merek China di India terus meningkat hanya dalam beberapa bulan terakhir. Sepanjang 2016, Micromax, Intex dan Reliance Jio berada pada lima peringkat teratas, namun tak satu pun mencapai lima besar di kuartal terakhir 2016.

Tingginya pertumbuhan smartphone asal China menunjukkan telah terjadi perubahan drastis di sebagian besar masyarakat India. Padahal pada 2015, muncul seruan untuk memboikot barang-barang China. Hal itu dipicu oleh isu-isu politik seperti persepsi dukungan pemerintah China terhadap Pakistan.

Dukungan Pemerintah

Meski konsumen di India mulai terlihat pragmatis dengan menyenangi smartphone asal China, namun vendor lokal tak berkecil hati. Mereka berusaha mencari celah dari sisi kebijakan. Intervensi pemerintah sangat diperlukan agar brand lokal tetap bisa bersaing menghadapi tantangan pembuat handset China.

Sebagaimana yang dilansir harian Financial Times, perusahaan riset Canalys mengungkapkan bahwa memasuki 2016, vendor-vendor China terus berusaha mengungguli brand-brand lokal India. Selain menawarkan produk dengan fitur berlimpah dan spesifikasi yang memikat, mereka juga mengusung strategi harga yang cenderung lebih murah dibandingkan pesaing.

Penetapan harga yang lebih murah membuat brand-brand China menikmati pertumbuhan yang tinggi. Namun sebaliknya brand lokal anjlok sangat dalam. Untuk menghindari kebangkrutan, Narendra Bansal, Chairman dan MD dari Intex Technologies, menyerukan dibentuknya kebijakan”Anti-Dumping” terhadap handset China.

Kebijakan semacam itu juga dapat diterapkan pada produk-produk yang dirakit di India oleh perusahaan China, dalam upaya untuk melawan dukungan yang dirasakan oleh vendor China dari pihak berwenang di Beijing.

Pendapat Narendra diamini oleh Shubhajit Sen, CMO Micromax. Ia mengatakan bahwa ekosistem industri di China secara historis muncul karena banyak subsidi dan insentif dari pemerintah setempat.

Pemerintah India sedang menjalankan strategi yang disebut “Make in India”, yang dimaksudkan untuk mengubah pasar yang sedang berkembang menjadi pusat desain dan manufaktur global. Hal ini mengakibatkan sejumlah pemain luar negeri mendirikan pabrik di negara ini.

Perusahaan-perusahaan tersebut juga banyak membelanjakannya untuk pemasaran dan periklanan, namun kehadiran mereka, pada gilirannya, menghasilkan persaingan yang semakin ketat bagi pembuat handset lokal termasuk Micromax, Intex, Lava dan Karbonn.

Sementara vendor China juga mendapat keuntungan dari volume yang signifikan di pasar dalam negeri dan pasar internasional lainnya. Di sisi lain, vendor India kurang berhasil dengan ekspansi internasional mereka.

Untuk mencegah kebangkrutan masal, pendiri Karbonn dan MD Pradeep Jain, mengatakan bahwa pemerintah harus melakukan sesuatu
“jika tidak, itu adalah kerugian bagi industri smartphone lokal, dan juga kerugian bagi pemerintah”, tegasnya.

Pada akhirnya desakan dari para pemimpin brand lokal, berujung pada dialog. Financial Times melaporkan bahwa para pemimpin industri telah bertemu dengan wakil pemerintah untuk membahas masalah tersebut.

Mereka berharap pemerintah segera menyusun kebijakan yang bisa melindungi industri ponsel dalam negeri dari ekpansi berlebihan smartphone asal China.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here