Saturday, July 20, 2019
Home News Survei: Soal Pemahaman IoT, Perusahaan di Asia Tenggara Masih Rendah

Survei: Soal Pemahaman IoT, Perusahaan di Asia Tenggara Masih Rendah

-

Ilustrasi Internet of Things
Ilustrasi Internet of Things

Jakarta, Selular.ID – Perusahaan di Asia Tenggara (SEA) mencetak skor sedikit lebih rendah dalam pemahaman customer experience (CX) yang berbasis IoT (IoT-enabled CX). Demikian seperti diungkap dalam laporan survey bertajuk The 2016 Internet-of-Things (IoT)-Enabled Customer Experience (CX) Report for Asia-Pacific yang dikeluarkan oleh Genesys baru-baru ini. Dalam kajian disurvei hampir 500 pemimpin bisnis dalam enam industri penting di 11 negara di Asia Pasifik (APAC).

Meski dalam laporan tersebut dalam pemahaman CX berbasis IoT perusahaan di Asia memiliki skor lebih rendah, namun Asia Tenggara memiliki skor yang setara dengan Asia Pasifik dalam hal penggunaan dan kesiapan teknologi.

Survei ini diselenggarakan oleh Genesys yang bekerja sama dengan Frost & Sullivan. Dalam laporan tersebut disajikan wawasan mengenai cara perusahaan di Asia Pasifik dalam memahami Internet of Things (IoT) dan sejauh mana mereka menggunakan berbagai alat untuk meningkatkan pengalaman pelanggan.

Riset tersebut juga menguji cara pandang perusahaan dalam memanfaatkan IoT demi meningkatkan CX dan kesiapan mereka untuk menggunakan teknologi yang sedang berkembang ini. Tingkat pemahaman para pelaku bisnis di Asia Tenggara utamanya dipengaruhi oleh rendahnya persepsi mengenai CX berbasis IoT. Dari seluruh responden, hanya 27 persen yang percaya bahwa IoT meningkatkan CX, sementara ada 34 persen responden yang menilai IoT lebih banyak menawarkan keuntungan dari sekadar biaya.

Meski memiliki persepsi lebih rendah dibanding kawasan Asia Pasifik secara umum, nyaris separuh (49 persen) perusahaan di Asia Tenggara kini tengah menjajaki atau mempertimbangkan rencana penggunaan teknologi IoT untuk meningkatkan pengalaman konsumen. Sebetulnya, Asia Tenggara bersaingan dengan India. Keduanya berada pada peringkat kedua dalam hal jumlah perusahaan terbanyak yang memakai teknologi IoT untuk meningkatkan CX, atau yang tengah menjalankan fase uji coba.

Keith Budge, Senior Vice President, APAC, Genesys, mengatakan penelitian ini menegaskan, berbagai perusahaan di kawasan ini memahami peran IoT yang dapat menyediakan data konsumen yang bernilai tinggi dan menghadirkan pengalaman pelanggan yang lebih kaya.

“Dan terlepas dari rendahnya persepsi di Asia Tenggara, kami terkesan ketika mengetahui ada banyak perusahaan yang sedang mengevaluasi berbagai cara untuk memakai solusi peningkatan CX berbasis IoT atau tengah menjalankan fase uji coba,” lanjut Keith Budge.

Celah antara kesadaran dan implementasi
IoT adalah faktor utama yang memungkinkan perusahaan terus menghadirkan pengalaman yang dirancang sesuai karakter pelanggan dan bersifat terpadu, khususnya dalam era konvergensi teknologi dalam customer journey, mencakup baik kanal digital maupun fisik.

Secara keseluruhan, kajian tersebut mengungkapkan ada 83 persen responden di Asia Pasifik yang terbilang akrab dengan IoT dan nyaris 50 persen meyakini arti penting IoT dalam meningkatkan CX; meski demikian, hanya 15 persen yang telah menerapkannya.
Budge mengatakan temuan ini mengemukakan peran penting dari penyedia teknologi seperti Genesys dalam membantu berbagai perusahaan di Asia Pasifik agar berhasil menerapkan IoT dan, karenanya, benar-benar menyadari potensi IoT untuk meningkatkan CX.

Keuntungan penggunaan teknologi
Di antara mereka yang telah memakai teknologi IoT demi customer journeys yang lebih baik, sebanyak lebih dari 70 persen menyatakan bahwa solusi mereka memudahkan untuk mempengaruhi keputusan pembelian dan keterlibatan pelanggan. Lebih dari sepertiga responden mengakui IoT berdampak besar terhadap peningkatan kepuasan pelanggan.
Keuntungan lain yang disebutkan oleh responden termasuk dampak positif pada brand equity (33 persen), peningkatan dalam efisiensi operasional (33 persen) dan peningkatan produktivitas karyawan (35 persen).

Di Asia Pasifik, studi tersebut menemukan bahwa para pelaku bisnis menyadari besarnya keuntungan penggunaan IoT. Lebih dari separuh responden (60 persen) mengindikasikan setidaknya telah memulai langkah pertama dalam upaya penerapan IoT, dengan 16 persen responden ingin menerapkan IoT dalam perusahaan mereka dalam waktu setahun. Sebanyak 29 responden berharap dapat mencapainya dalam waktu dua tahun ke depan.

Kendala yang menghambat penggunaan teknologi
Sebanyak 75 persen dari responden di Asia Tenggara memandang tim manajemen, dipimpin oleh CEO sebagai pemangku kepentingan utama, sebagai pendorong utama untuk strategi CX berbasis IoT di perusahaannya.

Meski demikian, laporan tersebut mengidentifikasi sejumlah tantangan yang menghambat para pelaku bisnis dalam memakai teknologi IoT untuk CX, termasuk masalah signifikan tentang “pemahaman proposisi nilai IoT” oleh perusahaan. Kendala yang sering disebut adalah rendahya tingkat kesadaran jajaran manajemen (C-suite) tentang arti penting atau nilai teknologi IoT.

Latest