Senin, 24 Juni 2024
Selular.ID -

Meski Tersandung, Samsung Tak Terhuyung

BACA JUGA

samsung-galaxy-note-7Jakarta, Selular.ID – Meski tertimpa masalah Galaxy Note 7 terbakar yang menimbulkan kerugian, namun dinilai  tidak akan menggoyahkan posisi Samsung di puncak.

Samsung belum tergoyahkan sebagai penguasa pasar smartphone baik di Indonesia maupun global. Setidaknya itu didasarkan pada hasil laporan beberapa lembaga survey. Dari laporan Strategy Analytics, per kuartal kedua (Q2) 2016, Samsung sukses memasarkan 77,6 juta unit smartphone secara global atau menguasai 22,8 % pangsa pasar. Ini meningkat dari setahun lalu yang meraih 21,3% pangsa pasar (71,9 unit). Persis di bawahnya, menguntit Apple yang berhasil memasarkan sebanyak 40,4 juta unit iPhone, atau meraup 11,9% pangsa pasar di Q2 2016. Apple justru mengalami penurunan di mana setahun lalu di kuartal yang sama, menguasai 14,1 % pangsa pasar.

Laporan yang hapir sama juga dirilis oleh lemba survey IDC (International Data Corporation). Yang menempatkan Samsung di posisi teratas dengan 22,4 % pangsa pasar, atau sukses memasarkan 77 juta unit smartphone-nya. Setahun sebelumnya Samsung ‘baru’ menguasai 21,3% pangsa pasar (73 unit). Di posisi kedua juga diduduki Apple yang meraih 11,8 % pangsa pasar smartphone global, atau sukses menjual 40,4 juta unit. Hasil ini menurun dari kuartal yang sama tahun lalu, dengan 13,9% pangsa pasar (47,5 juta unit).

Berhasrat untuk menjaga pangas pasarnya, Samsung sudah menyiapkan smartphone andalannya untuk bersaing di setengah tahun ke depan. Salah satunya yaitu Galaxy Note 7 yang tadinya sudah siap tersebar di pasar di kuartal ketiga tahun ini. Samsung begitu menjagokan seri smartphone yang satu ini. Terutama sebagai suksesor Galaxy S7/S7 Edge yang laris manis di pasar. Ini terlihat salah satunya dari penamaan ‘Note7’ . Seharusnya Galaxy Note 6 yang dirilis jika didasarkan pada urutan penamaan. Karena seri Note terakhir yaitu Galaxy Note 5. Namun Samsung langsung lompat ke seri Galaxy Note 7.

Menurut Irfan Rinaldi, Product Marketing Samsung Mobile Indonesia, ini tidak lepas dari smartphone Galaxy S7 dan S7 Edge. “Para pengguna banyak yang merasa puas dengan kemampuan yang dibawa Galaxy S7 dan S7 Edge. Dan hal ini yang terus kami jaga, makanya Samsung memutuskan menggunakan seri Galaxy Note 7” ujarnya. Irfan lebih lanjut menjelaskan, berbagai keunggulan fitur yang ada di Galaxy S7 dan S7 Edge semakin ditingkatkan lagi pada Galaxy Note 7. Di mana di seri Note terbaru ini ada sejumlah kemampuan baru dan lainnya yang ditingkatkan. “Agar ada semacam kesinambungan dengan seri sebelumnya Galaxy S7 dan S7 Edge, maka seri Note terbaru ini dinamakan Galaxy Note 7” tambah Irfan.

Tersandung
Ambisi Samsung untuk mencuri start dan berlari menjauh kompetitornya, dengan merilis Galaxy Note 7 lebih dulu, ternyata gagal. Samsung malah terjungkal, akibat tersandung masalah kerusakan baterai yang menyebabkan ledakan pada beberapa Galaxy Note 7 yang sudah terjual. Setidaknya hingga 1 September 2016 terdapat 35 kasus yang dilaporkan secara global.

Akibat masalah ini, Samsung melakukan recall atau penarikan Galaxy Note 7 di berbagai negara. Samsung  menarik kembali seluruh Galaxy Note 7 baik yang sudah diterima konsumen maupun seluruh stok yang ada di penjual.Samsung pun berjanji akan menggantinya dengan unit yang baru.
Di Indonesia di mana masih dalam masa pre order, akhirnya pun dibatalkan. Konsumen yang sudah terlanjur melakukan pre order, akan menerima refund atau pengembalian dana secara utuh, plus ada kompensasi.

Imbas dari penarikan Galaxy Note 7, membuat Samsung menderita sejumlah kerugian. Diantaranya saham Samsung Electronics yang jatuh hingga nyaris 7% ke titik terendahnya. Gara-gara saham anjlok, nilai kapitalisasi pasar Samsung pun menyusut. Sebanyak US$ 14,3 miliar (Rp 185,9 triliun) lenyap hanya dalam beberapa hari.Tidak hanya itu, penarikan Galaxy Note 7 diprediksi akan mengurangi 1 triliun won (Rp 1,85 triliun) dari laba Samsung di triwulan III-2016. Hal itu diungkapkan Myung Sub Song, analis dari HI Investment & Securities. Lebih lanjut ia juga memprediksi pengiriman Note 7 yang mungkin dilakukan di akhir tahun ini juga akan menyusutkan target pemasaran dari sebelumnya 12-15 juta unit menjadi hanya 6 juta unit.

Belum lagi biaya dari proses penarikan yang juga menyedot budget. Diperkirakan sebanyak ada 2,5 juta unit Galaxy Note 7 yang terpaksa ditarik dari pasaran. Diperkirakan oleh lembaga financial Credit Suisse AG, ongkos penarikan di seluruh dunia bisa mencapai 1 miliar dollar AS atau lebih dari Rp 13 triliun. Namun disebutkan meski terdengar besar, jumlah kerugian finansial yang ditimbulkan recall Galaxy Note 7 diperkirakan tak sampai 5 persen dari potensi pendapatan bersih Samsung pada 2016, yang diproyeksikan mencapai kisaran 23 triliun Won atau sekitar 20,6 miliar dollar AS.

Dimanfaatkan Apple
Saat Samsung sedang dirundung masalah ternyata momentum dengan cerdik dimanfaatkan oleh Apple sebagai competitor terdekat. Vendor berlogo apel tergigit ini bergegas meluncurkan smartphone jagoan terbarunya, iPhone 7 dan 7 Plus. Dan benar saja, ketika saham Samsung sedang jatuh, sebaliknya saham Apple malah naik 2,2 % (ke posisi US$ 105,44 atau Rp 1,4 juta per lembar) tak lama setelah peluncuran iPhone 7 dan iPhone 7 Plus.  Sebelumnya memang banyak yang berasumsi Galaxy Note 7 memang sengaja dihadirkan Samsung lebih cepat untuk melawan Apple yang juga akan merilis smartphone andalan terbarunya, seri iPhone 7 / 7 Plus. Galaxy Note 7 diluncurkan dan dipasarkan lebih awal dari iPhone 7 sempat dinilai langkah jitu yang dilakukan Samsung. Apalagi pada awalnya, Galaxy Note 7 pun terbilang laris manis baik yang pre order maupun yang sudah terjual. Sebelum tersandung kasus baterai bermasalah.

Namun meski mengalami sejumlah kerugian, langkah yang dipilih Samsung dinilai sudah tepat. Recall Galaxy Note 7 memang menghambat langkah Samsung yang ingin menjaga momentum sukses seri Galaxy S7. Namun langkah cepat Samsung melakukan penarikan kembali dianggap tepat ketimbang nantinya akan merusak reputasi Samsung. “Potensi hancurnya reputasi brand Samsung jauh lebih besar dibandingkan kerugian finansial jangka pendek,” ujar salah satu analis.

Dan sekarang jika Samsung bisa cepat mengatasi masalah recall ini , mungkin bisa meminmalisir kerugian jangka panjang. “Keuntungan momentum curi start yang dilakukan Samsung dibandingkan Apple memang sudah hilang,. Tentu isu ini akan merugikan mereka di kuartal ini, namun jika mereka dapat cepat menyelesaikannya, tidak akan ada dampak jangka panjang,” kata Bryan Ma, analis riset IDC.

Perlahan Samsung sepertinya bisa menetralisir kasus kegagalan Galaxy Note 7. Disaat yang bersamaan, Samsung pun tetap percaya diri bisa menjaga pengsa pasarnya untuk tetap di puncak. Vendor asal Korea ini yakin kasus Galaxy Note 7 tidak berimbas pada produk mereka lainnya. Setidaknya itu dibuktikan dengan tetap meluncurkan Galaxy On 7 di Indonesia.

Seto Anggoro, Product Marketing Manager Samsung Electronics Indonesia, meyakini tidak ada dampak yang terjadi terkait kasus meledaknya Note 7 hingga penarikan kembali oleh Samsung di secara global terhadap produk-produk smartphone lainnya. “Gak ada hubungannya dengan meledaknya Note 7 pada On 7, karena beda segmen, dan tentu saja rencana sendiri-sendiri. Jadi, tidak ada efeknya,” ujar Seto di peluncuran Galaxy On 7

Seto menjelaskan bahwa penarikan kembali Note 7 juga takkan mempengaruhi kepada daya tarik pasar untuk membeli produk Samsung. Sebab, bila terjadi permasalahan, dikatakan Seto, Samsung memiliki rekasi yang cukup tanggap kepada konsumen. “Samsung cukup bereaksi. Justru seharusnya itu turut menumbukan kepercayaan konsumen, karena Samsung bertanggung jawab dengan reaksi cepat dengan mengkompensasinya,” ucapnya.

Masih Sulit Dilawan
Kasus kegagalan Galaxy Note 7 memang menimbulkan kerugian bagi Samsung. Sedikit banyak akan mempengaruhi kinerja keuangannya meski hanya dalam jangka pendek. Namun sepertinya hal ini tidak akan mempengaruhi kedigdayaan Samsung di pangsa pasar smartphone. Posisi Samsung sebagai penguasa pasar masih sulit untuk digoyahkan.

Alasan pertama karena perbedaan penguasaaan pangsa pasar Samsung dengan kompetitor terdekatnya, cukup jauh. Kita ambil lagi data dari lembaga Strategy Analytics per kuartal kedua (Q2) 2016. Di mana Samsung yang berada di puncak menguasai 21,3% pangsa pasar. Jauh meninggalkan Apple di posisi kedua dengan 11,9% . Begitu pula data dari lembaga IDC, yang juga menempatkan Samsung dengan 22,4 % pangsa pasar di posisi pertama. Terpaut jauh dengan Apple yang berada persis di bawahnya dengan 11,8 % pangsa pasar.

Begitu pula untuk pasar Indonesia. Samsung masih menduduki posisi nomor wahid. Berdasarkan data dari lembaga riset Counterpoint, Samsung meraup 22% pangsa pasar, dikuntit oleh Oppo dengan 17% dan Asus 14%.

Alasan kedua karena strategi Samsung yang menyasar semua segmen pasar smartphone, mulai dari low end, middle end hingga high end. Jadi ketika Galaxy Note 7 yang membidik segmen pasar high gagal di pasar untuk saat ini, Samsung masih bisa menjaga panga pasarnya di segmen lainnya. Ini dibuktikan dengan tetap meluncurkan seri smartphone lainnya, seperti Galaxy On 7 yang merupakan smartphone segmen middle end , yang sudah dilepas di pasar Indonesia. Ini berbeda dengan Apple yang hanya mengincar segmen high end.

Dan alasan yang terakhir yaitu karena Samsung tidak hanya kuat di pasar smartphone high end. Vendor asal Negeri Ginseng ini juga menguasai pangsa pasar smartphone segmen low end dan middle end. Setidaknya ini terlihat dari laporan lembaga riset Counterpoint terhadap pasar smartphone di Indonesia sepanjang Q2 2016. Samsung masih kokoh di puncak sebagai pemimpin pasar smartphone di Indonesia. Vendor asal Negeri Ginseng ini sukses meraup pangsa pasar smartphone sebesar 22%. Keberhasilan ini tidak lepas dari beberapa smartphone Samsung seri J yang laris manis di pasar. Galaxy seri J yang merupakan smartphone kelas low to middle, menyumbang lebih dari 50% dari total penjualan smartphone Samsung.

Dengan brand awareness yang masih bernilai tinggi dan produk yang kerap laku di pasar, tampaknya Samsung masih akan lama bertengger di posisi puncak. Kecuali jika vendor ini tidak belajar dari keruntuhan Nokia, yang begitu digdaya beberapa tahun silam.

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU