Selular.ID – Pergantian Dian Siswarini dari kursi Direktur Utama Telkom Indonesia masih menyisakan tanda tanya.
Bukan hanya mengenai alasan pergantian, tetapi juga ke mana langkah Dian selanjutnya setelah tidak lagi memimpin perusahaan telekomunikasi pelat merah tersebut.
Pengamat Telekomunikasi sekaligus Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi menilai pergantian pimpinan BUMN tidak selalu dapat dibaca semata-mata melalui indikator bisnis.
Ada dinamika pemegang saham, kebijakan pemerintah hingga jejaring kepentingan yang ikut membentuk lingkungan pengambilan keputusan.
Baca juga:
- Dian Siswarini Dianggap Gagal Pimpin Telkom? Pengamat Ungkap Hal Ini
- Danantara Beri Target Dirut Baru Telkom, Perampingan Anak Usaha Dikebut
Meski demikian, Heru mengingatkan tidak ada dasar untuk langsung menyimpulkan faktor tersebut menjadi penyebab Dian Siswarini diganti dari posisi Dirut Telkom.
“Sebagai catatan tambahan, ya kita juga harus realistis bahwa pergantian pimpinan BUMN di Indonesia sering kali tidak hanya berkaitan dengan indikator bisnis, tetapi berada dalam lingkungan yang juga dipengaruhi dinamika pemegang saham, kebijakan pemerintah, dan jejaring kepentingan,” ujar Heru kepada Selular, Jumat (2/10/2026).
Dian Siswarini Bakal Dapat Posisi Baru?
Menurut Heru, tanpa penjelasan resmi dari pemegang saham, terlalu dini menyimpulkan bahwa dinamika tersebut berada di balik pergantian pucuk pimpinan Telkom.
Karena itu, perkembangan yang justru menarik dicermati adalah langkah Dian Siswarini berikutnya.
“Namun, tanpa penjelasan resmi, kita tidak bisa menyimpulkan bahwa faktor-faktor tersebut menjadi penyebab pergantian Dian Siswarini,” jelasnya.
Heru kemudian mempertanyakan apakah Dian bakal mendapatkan amanah baru setelah meninggalkan kursi Dirut Telkom.
“Karena itu, publik justru bisa melihat langkah berikutnya, amanah apa yang akan diberikan kepada Dian setelah Telkom? Apakah mendapat peran strategis lain di ekosistem BUMN atau pemerintahan?” kata Heru.
Bahkan, nama mantan orang nomor satu Telkomsel tersebut dinilai berpotensi masuk radar untuk posisi strategis lainnya.
“Termasuk kemungkinan masuk dalam radar posisi strategis seperti Danantara atau pemerintahan,” sambungnya.
Pernyataan tersebut masih berupa kemungkinan dan bukan informasi mengenai penunjukan resmi Dian Siswarini untuk jabatan tertentu.
Pergantian Telkom Bagian Strategi Lebih Besar?
Dian digantikan Nanang Hendarno melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Telkom pada 30 September 2026.
Nanang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Network Telkom dan kini mendapat mandat memimpin perseroan sekaligus melanjutkan sejumlah agenda transformasi.
Pergantian tersebut menjadi sorotan karena Dian belum terlalu lama menduduki posisi Direktur Utama Telkom.
Di sisi lain, kinerja perusahaan tidak serta-merta memberikan dasar untuk menyebut pergantian terjadi karena kegagalan individu.
Heru sebelumnya juga mengingatkan bahwa penilaian terhadap seorang Direktur Utama Telkom tidak cukup hanya menggunakan indikator pendapatan, laba maupun harga saham TLKM.
Kinerja operasional, kualitas jaringan, monetisasi aset, arus kas, pertumbuhan bisnis baru, kepuasan pelanggan hingga keberhasilan transformasi harus dilihat secara keseluruhan.
Karena itu, menurut Heru, perkembangan setelah pergantian direksi akan menjadi petunjuk penting untuk membaca keputusan tersebut.
“Pada akhirnya, waktu yang akan menjawab apakah pergantian ini murni soal strategi korporasi atau bagian dari konfigurasi yang lebih luas,” pungkas Heru.
Kini sorotan tidak hanya tertuju kepada Nanang Hendarno dan strategi barunya memimpin Telkom.
Langkah Dian Siswarini setelah meninggalkan Telkom juga patut ditunggu, terutama jika nantinya mendapat amanah strategis lain di lingkungan BUMN ataupun pemerintahan.


