Selular.ID -

Cisco: Lebih dari 50% Serangan Siber di Indonesia Manfaatkan AI

BACA JUGA

Selular.ID – Cisco mengungkapkan bahwa lebih dari separuh organisasi di Indonesia telah mengadopsi kemampuan keamanan berbasis kecerdasan buatan (AI) secara ekstensif, sementara hampir seluruh praktisi keamanan yang disurvei melaporkan peningkatan kemampuan deteksi dan respons ancaman sedikitnya 25%.

Namun, laporan Relentless Defense Report yang dirilis pada 15 Oktober 2026 itu juga menyoroti hambatan operasional, mulai dari koordinasi antartim hingga akses data, yang dapat memperlambat respons terhadap ancaman siber berbasis AI.

Dalam laporan tersebut, Cisco memberikan skor rata-rata pertahanan siber organisasi di Indonesia sebesar 72 dari 100.

Sebanyak 29% organisasi di Tanah Air masuk kategori Relentless Defenders, yaitu kelompok dengan kinerja pertahanan siber terbaik menurut metodologi laporan tersebut.

Angka ini lebih tinggi dibandingkan proporsi global yang mencapai 8%.

Cisco menilai kemampuan menghadapi ancaman siber tidak hanya bergantung pada teknologi keamanan yang digunakan.

Tonton juga:
Video Rekomendasi Untuk Anda

Koordinasi antara tim keamanan, jaringan, dan teknologi informasi (TI), dukungan pengambilan keputusan dari jajaran eksekutif, serta kemampuan mengakses data yang relevan turut menentukan kecepatan organisasi dalam mendeteksi dan menangani insiden.

“AI secara fundamental telah meningkatkan eskalasi risiko dalam pertahanan siber. Di era pasca-Mythos, kecepatan pertahanan didorong oleh kelincahan operasional, bukan hanya teknologi,” kata Cin Cin Go, Managing Director Cisco Indonesia.

Menurut Cin Cin, organisasi perlu mengintegrasikan keamanan ke dalam operasional bisnis dan mengurangi sekat antartim agar keputusan dapat diambil secara tepat waktu.

Pendekatan tersebut menjadi semakin penting ketika teknologi AI memungkinkan agen otonom menjalankan tindakan dalam hitungan detik.

Koordinasi dan akses data masih menjadi hambatan

Laporan Cisco mengidentifikasi kendala operasional sebagai salah satu faktor yang memperlambat penguatan pertahanan siber.

Hambatan ini tidak hanya berada di tim keamanan, tetapi juga melibatkan fungsi TI, pengadaan, dan jajaran eksekutif yang memiliki kewenangan serta tanggung jawab berbeda.

Di Indonesia, hanya 63% organisasi yang menyatakan tim keamanan, jaringan, dan TI telah bekerja sebagai satu kesatuan dengan visibilitas serta perangkat kerja yang sama.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa koordinasi lintas fungsi masih menjadi pekerjaan rumah bagi sebagian organisasi.

Tantangan lain muncul ketika tim keamanan harus menjelaskan kinerja mereka kepada pimpinan perusahaan.

Sebanyak 43% responden mengatakan metrik yang mereka gunakan terlalu teknis untuk meyakinkan jajaran eksekutif.

Sementara itu, 29% kesulitan menerjemahkan metrik bisnis menjadi informasi yang dapat memengaruhi keputusan manajemen.

Sebanyak 26% organisasi bahkan belum memiliki metode yang konsisten untuk mengukur kinerja keamanan.

Tanpa ukuran yang seragam, perusahaan dapat mengalami kesulitan menilai efektivitas strategi perlindungan maupun menentukan prioritas perbaikan.

Akses terhadap data juga menjadi persoalan. Cisco melaporkan bahwa 38% responden di Indonesia menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengumpulkan dan menghubungkan data dari berbagai sistem daripada menangani ancaman secara langsung.

Sebanyak 46% lainnya mengaku kehilangan wawasan penting karena data yang dibutuhkan tidak dapat mereka akses.

Fragmentasi data atau data silo terjadi ketika informasi tersebar di berbagai sistem yang tidak terhubung secara memadai.

Dalam operasi keamanan, kondisi ini dapat menyulitkan tim untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai aktivitas mencurigakan dan menentukan tindakan yang diperlukan.

AI mempercepat deteksi, tetapi penerapan agen otonom belum merata

Di sisi lain, laporan Cisco menunjukkan bahwa AI mulai memberikan dampak nyata terhadap operasi keamanan organisasi di Indonesia.

Hampir seluruh praktisi yang disurvei melaporkan peningkatan kemampuan deteksi dan respons sedikitnya 25%.

Lebih dari sepertiga responden juga menyebut peningkatan tersebut secara signifikan mengurangi beban operasional.

Lebih dari separuh organisasi dalam survei telah menggunakan kemampuan keamanan berbasis AI secara ekstensif.

Adopsi tertinggi tercatat pada keamanan data dan privasi, sedangkan Identity and Access Management (IAM), yakni pengelolaan identitas serta hak akses pengguna dan sistem, menjadi area dengan tingkat adopsi terendah.

Padahal, AI dapat membantu mengurangi beban pekerjaan tim keamanan dalam pengelolaan identitas dan akses.

Area ini juga semakin relevan ketika organisasi mulai menggunakan agen AI yang dapat menjalankan tugas secara mandiri.

Meski begitu, penerapan agen AI untuk operasi keamanan belum meluas secara merata. Sebanyak 40% organisasi yang disurvei belum menerapkan agen AI secara ekstensif untuk kebutuhan tersebut.

Cisco mengidentifikasi kekhawatiran mengenai kebocoran data, sistem yang disusupi, dan risiko dari pihak ketiga sebagai sejumlah hambatan penerapan.

Risiko pihak ketiga mencakup potensi masalah keamanan yang muncul melalui layanan, sistem, atau mitra eksternal yang terhubung dengan lingkungan organisasi.

Di tengah kekhawatiran itu, lebih dari 80% organisasi di Indonesia menyatakan percaya diri dapat mendeteksi dan merespons agen AI yang telah diambil alih atau disusupi pihak tidak berwenang.

Keyakinan tersebut tetap perlu dilihat dalam konteks kesiapan operasional, termasuk kemampuan memantau aktivitas agen AI dan mengendalikan hak aksesnya.

Ciri organisasi dengan pertahanan siber terbaik

Dalam perbandingan global, Cisco menemukan bahwa kelompok Relentless Defenders cenderung memiliki koordinasi tim yang lebih kuat serta kontrol yang lebih konsisten terhadap agen AI dan identitas nonmanusia.

Identitas nonmanusia merujuk pada identitas digital yang digunakan aplikasi, layanan, mesin, atau agen otomatis untuk mengakses sistem.

Sebanyak 83% organisasi dalam kelompok ini bekerja sebagai satu tim keamanan yang terkoordinasi dengan visibilitas dan perangkat kerja yang sama di lingkungan keamanan, jaringan, dan infrastruktur. Pada kelompok defender lainnya, proporsinya hanya 37%.

Perbedaan serupa terlihat pada pengendalian agen AI dan identitas nonmanusia. Sebanyak 86% Relentless Defenders menerapkan kontrol yang konsisten, dibandingkan 37% pada kelompok lainnya.

Sebanyak 77% dari kelompok berkinerja terbaik juga menyatakan sangat yakin mampu mendeteksi dan menangani agen AI yang disusupi, sedangkan pada kelompok lainnya angkanya mencapai 51%.

Laporan tersebut turut menunjukkan perbedaan dalam hasil penggunaan AI. Sebanyak 25% Relentless Defenders melaporkan AI membantu meningkatkan kecepatan deteksi ancaman lebih dari 100%.

Pada kelompok defender lainnya, proporsinya hanya 7%.

Selain itu, di antara organisasi yang meningkatkan anggaran keamanan, kelompok Relentless Defenders hampir dua kali lebih mungkin melaporkan penurunan insiden keamanan. Proporsinya mencapai 71%, dibandingkan 39% pada kelompok lainnya.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa kinerja pertahanan siber dalam laporan Cisco berkaitan dengan kombinasi penggunaan teknologi, koordinasi operasional, dan pengendalian akses.

Laporan ini tidak menyatakan bahwa penambahan anggaran semata menjadi penentu utama, melainkan menyoroti bagaimana organisasi menerapkan kontrol dan memungkinkan tim mengambil tindakan dengan cepat.

Bagi organisasi di Indonesia, tantangannya bukan hanya memperluas pemanfaatan AI untuk mempercepat deteksi ancaman.

Penyelarasan kerja tim keamanan dan TI, pengukuran kinerja yang dapat dipahami manajemen, serta akses data yang terintegrasi juga menjadi bagian dari kesiapan menghadapi ancaman yang semakin cepat.

Seiring penggunaan agen AI berkembang, kemampuan mengawasi identitas, aktivitas, dan hak akses teknologi tersebut akan menjadi bagian penting dari operasional keamanan.

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU