Selular.ID – PT Infra Fiber Teknologi (IFT) melalui platform RAIA Grid memproyeksikan perolehan pendapatan hingga Rp1,3 triliun pada akhir tahun 2026.
Manajemen memproyeksikan potensi pendapatan berkisar Rp200 miliar hingga Rp250 miliar per bulan.
Proyeksi ini ditopang oleh operasional bisnis infrastruktur digital hasil pengalihan aset serta rencana mulainya produksi unit pemrosesan grafis (Graphics Processing Unit/GPU) lokal pada Desember 2026.
Langkah efisiensi penyiapan fasilitas produksi dilakukan dengan memanfaatkan properti bangunan yang sudah ada untuk direnovasi selama 2,5 hingga 3 bulan.
Hendri Mulya Syam, President Director RAIA Grid, menjelaskan bahwa penyiapan fasilitas ini memungkinkan perusahaan langsung memulai produksi perdana GPU pada akhir tahun.
“Pada Januari 2027, fasilitas ini ditargetkan beroperasi dengan kapasitas penuh sebanyak 140 hingga 150 unit GPU per bulan,”ujar Hendri, di Jakarta, (26/08/26).
Seluruh volume produksi GPU tersebut dipastikan telah memiliki pembeli terikat melalui skema kontrak jangka panjang.
Hendri menuturkan bahwa perusahaan telah mengamankan kontrak pembelian produk GPU untuk jangka waktu lima tahun ke depan.
Kepastian pasar ini dipicu oleh tingginya pemintaan GPU global di tengah pesatnya pembangunan pusat data (data center).
Solusi Kelangkaan GPU Global dan Pasar Pusat Data
Inisiatif manufaktur GPU lokal yang dijalankan RAIA Grid hadir untuk menjawab kelangkaan pasokan GPU di tingkat global.
Saat ini, fasilitas produksi GPU di kawasan regional masih terbatas pada beberapa titik seperti Penang, Malaysia, serta Amerika Serikat.
Kehadiran fasilitas produksi di Indonesia diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pengisian perangkat komputasi di berbagai pusat data domestik.
Tanpa keberadaan GPU, fasilitas pusat data hanya berfungsi sebagai properti fisik yang dilengkapi pasokan listrik, sistem pendingin, dan suplai air.
GPU berperan sebagai mesin pemroses utama yang memungkinkan pusat data mengolah beban kerja kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) dan komputasi berkinerja tinggi.
Oleh karena itu, pasokan GPU domestik menjadi komponen krusial dalam menghidupkan fungsi operasional pusat data di dalam negeri.
Peta jalan bisnis RAIA Grid juga ditopang oleh proyeksi arus kas stabil dari segmen infrastruktur jaringan serat optik.
Melalui model bisnis bersama PT Indosat Tbk (Indosat Ooredoo Hutchison/IOH), pengoperasian aset jaringan yang dibeli diperkirakan menyumbang pendapatan berkisar Rp200 miliar hingga Rp250 miliar per bulan.
Pengembangan Kabel Bawah Laut dan Infrastruktur Akses Terbuka
Selama sisa masa operasional 6,5 bulan hingga penutupan tahun 2026, akumulasi pendapatan dari lini infrastruktur jaringan diproyeksikan menyentuh angka Rp1,3 triliun.
Angka pendapatan tersebut belum memperhitungkan potensi pemasukan dari lini bisnis manufaktur GPU maupun proyek pengembangan jaringan kabel serat optik bawah laut (submarine cable) yang sedang disiapkan perusahaan.
Pengembangan proyek kabel laut tersebut membutuhkan waktu eksekusi sekitar 2,5 tahun hingga dapat terhubung dan beroperasi penuh.
Kehadiran jaringan kabel laut ini dirancang untuk memperkuat kapasitas bandwidth dan jangkauan digital superhighway yang dibangun oleh IFT dan mitranya.
Sebagai pengelola platform infrastruktur berbasis akses terbuka (open-access), RAIA Grid memposisikan seluruh portofolio jaringan dan fasilitas manufakturnya untuk melayani berbagai pemangku kepentingan.
Kapasitas konektivitas dan pasokan GPU tersebut siap disalurkan ke operator telekomunikasi, pengelola pusat data, hingga pelanggan korporasi di seluruh Indonesia.


