Jumat, 19 April 2024

Strategi Transformasi Perusahaan, Segmen Enterprise Kini Jadi Tulang Punggung PT Telkom

BACA JUGA

Uday Rayana
Uday Rayana
Editor in Chief

Selular.ID – Gelombang disrupsi membuat industri telekomunikasi menghadapi tantangan yang tak ringan. Sepanjang lebih dari satu dekade ini, sudah banyak perusahaan telekomunikasi yang bergelimpangan.

Mereka terpaksa keluar gelanggang karena tidak kuat menghadapi ketatnya persaingan, rendahnya tarif, dan beban biaya (capex dan opex) yang sangat besar.

Operator-operator yang tinggal nama itu, seperti Internux (Bolt), Bakrie Telecom (Esia), Berca Hardaya Perkasa (HiNet), First Media (Sitra), Jasnita Telekomindo (Jasnita), dan Sampoerna Telecom (Net1).

Memasuki era digital, kebutuhan akan internet broadband membuat sektor padat modal ini merupakan pilar bagi tumbuhnya ekonomi digital di Indonesia.

Dalam catatan ATSI (Asosiasi Telekomunikasi Selular Indonesia), lebih dari Rp 4.000 triliun ekonomi digital berputar di Indonesia saat ini.

Baca Juga: Telkom Jadi BUMN Terbaik dalam Penanganan Krisis dan Pengelolaan Media di BCOMSS 2024

Ironisnya, di saat ekonomi digital berkembang sangat pesat, industri telekomunikasi yang jadi penopangnya malah sedang tidak sedang baik-baik saja. Tercermin dari pertumbuhan tahunan yang terus menukik.

Berdasarkan laporan Biro Pusat Statistik (BPS), sektor informasi dan telekomunikasi pada kuartal pertama 2023, tumbuh melambat ke level 7,19% secara tahunan. Hal ini menjadi alarm bagi ekosistem industri teknologi digital yang mampu tumbuh tinggi saat pandemi covid-19.

Meski pertumbuhan industri telekomunikasi tak lagi “mewah” seperti tahun-tahun sebelumnya, namun kinerja raksasa telekomunikasi Indonesia, PT Telkom tetap terjaga.

Tengok saja hingga kuartal ketiga 2023, Telkom sukses mencatatkan kinerja impresif. Perusahaan BUMN itu, mencetak laba bersih Rp 19,5 triliun, naik 17,6% (yoy).

Direktur Utama Telkom, Ririek Adriansyah mengatakan pencapaian positif Telkom tidak lepas dari dampak peningkatan pendapatan yang didukung penguatan strategi transformasi perusahaan.

Ririek menyebutkan, llangkah transformasi melalui inisiatif FMC (fixed mobile convergence) mulai menunjukkan progres yang positif, terutama dari sisi synergy value dan cost efficiency.

Strategi utama lain Five Bold Moves juga berjalan on the track, seperti InfraCo, Data Center, dan B2B Digital IT Service.

“Untuk hasil yang lebih besar membutuhkan proses dan waktu, namun kami optimis langkah transformasi ini akan memberikan output yang baik untuk keberlangsungan perusahaan nantinya”, ujar Ririek, dalam sesi khusus bersama para pimpinan media massa (15/3/2024).

Seperti diketahui, salah satu dari lima langkah strategi transformasi perusahaan Telkom adalah mewujudkan FMC lewat penggabungan IndiHome ke dalam Telkomsel. Pasca integrasi yang rampung pada Juli 2023, Telkom sebagai induk usaha kini fokus menggarap segmen B2B.

Hal ini tentu menjadi tantangan yang tak ringan, mengingat IndiHome sebelumnya merupakan cash cow terbesar kedua bagi Telkom setelah Telkomsel.

Namun menurut Direktur Group Business Development Telkom, Honesti Basyir, meski tak lagi mengurusi bisnis consumer, kontribusi B2B terhadap pendapatan perseroan sangat besar.

Bahkan, nilainya berpotensi meningkat lantaran masifnya era digitalisasi yang membuat sejumlah perusahaan melakukan adaptasi. Seperti industri keuangan, perbankan, asuransi, hingga pertambangan masif melaksanakan digitalisasi.

“Sehingga, kondisi ini menjadi pasar yang menjanjikan bagi Telkom dengan segmen B2B”, ujar Honesti.

Tercatat, di segmen enterprise, Telkom membukukan pendapatan Rp 14,6 triliun. Angka itu tumbuh 6,6% YoY yang dikontribusi dari solusi B2B Digital IT Services dan Enterprise Connectivity.

Guna mendorong pertumbuhan, Telkom terus memperkuat kapabilitas di bisnis cloud melalui kerja sama strategis dengan pemain teknologi global, di samping terus meningkatkan kualitas dalam memberikan solusi digital kepada pelanggan.

Ditambahkan oleh Direktur Enterprise & Business Service Telkom Venusiana, demi memenangkan pasar regional, Telkom akan fokus pada digitalisasi Usaha Kecil dan Menengah (UKM), korporasi swasta dan BUMN, hingga instansi pemerintah.

“Market B2B saat ini, enterprise dan goverment kita memang sudah menggarap, dengan kita fokus ke B2B ada market di SMI atau UKM selama ini yang kita belum fokus. Semua dijalankan oleh tujuh Telkom Regional yang tersebar di seluruh Indonesia”, ujar Venusiana.

Dalam upaya menjaring pasar UKM, segmen enterprise juga telah meluncurkan Indibiz dengan berbagai solusi yang tersedia, seperti Indibiz Ruko, Indibiz Finance, Indibiz Education, dan Indibiz Hotel.

Meski pasar enterprise sangat menjanjikan, namun Venusiana mengakui bahwa menggarap B2B bukan perkara mudah. Salah satu tantangan yang tak ringan adalah ketersediaan SDM (Sumber Daya Manusia) yang mumpuni.

Karena itu, pihaknya kini tengah mengeksekusi tiga strategi utama. Ketiganya adalah, memberdayakan pegawai daerah, meningkatkan kapabilitas melalui re-skilling dan up-skilling, serta mengubah pola pikir dari B2C ke B2B.

Sejalan dengan peningkatan kapabalitas SDM, Venusiana juga mengembangkan langkah-langkah strategis di sisi produk, kemitraan, dan upaya memenangkan pasar.

Dari sisi produk, langkah yang dilakukan adalah meningkatkan produk konektivitas B2B, menciptakan solusi digital berbasis industri vertikal, serta mengembangkan platform digital.

Di sisi kemitraan, adalah mengembangkan kesiapan produk (start-up, mitra lokal dan global), memperkaya manajemen saluran, dan membangun kolaborasi keahlian industri vertikal.

Sedangkan upaya memenangkan pasar, berbagai strategi yang dilakukan adalah mengidentifikasi dan merinci peluang pasar, memetakan kesiapan infrastruktur dan pergerakan pesaing, serta melakukan penetrasi pasar secara massif.

Baca Juga: Safari Ramadan 2024 Telkom Sidak Kesiapan Infrastruktur Telekomunikasi

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU