Senin, 15 April 2024
Selular.ID -

Pertumbuhan Aktivitas Digital Justru Membuat Operator Telekomunikasi Kelimpungan

BACA JUGA

JAKARTA, SELULAR.ID – Pertumbuhan aktivitas digital ternyata justru menimbulkan tekanan bagi perusahaan telekomunikasi.

Pasalnya, pertumbuhan konsumsi data jauh lebih pesat dibanding pendapatan.

Dirjen Sumber Daya Perangkat Pos dan Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Ismail memaparkan bahwa industri telekomunikasi kini ada di tahap untuk memastikan keberlanjutan bisnis.

“Jadi memang industri telekomunikasi sedang mengalami situasi yang tidak mudah. Pertumbuhan teknologi, perpindahan, shifting business model,” katanya dalam acara Tech and Telco Summit 2024, Selasa (5/3/2024).

TONTON JUGA:
@selular.id

XL Axiata resmi menutup layanan Live On pada 23 Februari 2024. Layanan yang menyasar pelanggan muda itu hanya berusia 3,5 tahun, sejak diluncurkan pada 5 Oktober 2020. Penutupan Live On menyusul pembubaran dua operator digital lainnya yang pernah ada di Indonesia. Tercatat Smartfren menutup Switch Mobile pada Januari 2021 (debut Maret 2020) dan Indosat Ooredoo Hutchison menutup MPWR (baca: Empower) pada Oktober 2022 (dirilis Desember 2020). Saat ini, tertinggal satu operator digital untuk kalangan muda yakni by.U milik Telkomsel. #byu #telkomsel #xl #xlaxiata #liveon #internet #internetprovider #provider #digital

♬ In Love With You – BLVKSHP

Ia menjelaskan sekarang peran perusahaan telekomunikasi bukan lagi sebagai playmaker, tetapi punya peran lebih besar lagi yaitu sebagai penyedia infrastruktur.

Kemunculan berbagai perusahaan berbasis aplikasi, baik dari dalam maupun luar negeri, membuat konsumsi data naik pesat.

Baca juga: 4 Operator Bersatu Hadirkan 3 Layanan API GSMA, Salah Satunya SIM Swap

Permasalahannya, biaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan telekomunikasi untuk menunjang trafik tidak sebanding dengan pertumbuhan pendapatan.

“Biaya meng-handle trafik yang meningkat secara eksponensial kian meningkat. Kini industri telko, termasuk FMC, adalah jawaban untuk bertahan hidup tadi,” katanya.

Kominfo, tegas Ismail, tengah menyiapkan regulasi yang pas dengan kondisi industri saat ini.

“Bukan yang aneh membuat makin sulit. Kami membuat regulasi yang memudahkan biar bisa menjadi akselerator,” ungkapnya.

Kebijakan yang telah diterbitkan Kominfo, antara lain, adalah keleluasaan untuk menerapkan spectrum sharing agar terjadi inovasi.

“Kami juga memberikan kesempatan untuk berinovasi, menjadikan network, kalau hanya jualan bandwidth susah, tapi harus jualan solusi,” sambungnya.

Baca juga: Alasan Ini Bisa Bikin Operator Langsung Lompat ke Teknologi 6G

Kemudian, Kominfo juga membantu pembangunan infrastruktur di area yang sulit dijangkau dan biaya pembangunannya mahal lewat program Bakti dalam bentuk satelit atau BTS.

“Lalu memberikan kemudahan-kemudahan spektrum frekuensi, kami berdiskusi teman-teman ini soal spektrum agar affordable, sehingga regulatory charges bisa ditekan,” kata Ismail.

Simak berita menarik lainnya dari Selular.id di Google News

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU