Selasa, 18 Juni 2024
Selular.ID -

Bitcoin Koreksi Setelah Cetak ATH, Ini Langkah yang Harus Dilakukan

BACA JUGA

JAKARTA, SELULAR.ID – Minggu lalu menjadi perjalanan rollercoaster bagi investor Aset Kripto, karena Bitcoin (BTC) mencapai rekor tertinggi sepanjang masa sebesar $73,000 pada Kamis (14/3/2024).

Namun aksi profit-taking membawa Bitcoin turun hingga mencapai $64.600 pada hari Minggu (17/3/2024).

Financial Expert Ajaib Kripto, Panji Yudha, mengatakan Selasa (19/3) pagi pukul 08:00 WIB Bitcoin (BTC) bertengger di $67.010 setelah mengalami rejection di area resistance $69.000 pada perdagangan Senin (18/3/2024).

“Saat ini, BTC menunjukkan indikasi penurunan di bawah MA-20 dan potensi untuk melemah menuju sekitar area support di $64.000 – $64.500,” ujar Panji, Selasa (19/3/2024).

“Sementara, area support selanjutnya berada di angka $60.000,” sambungnya.

TONTON JUGA:

Lebih lanjut Panji menjelaskan setelah mencapai puncaknya pekan lalu, Bitcoin mengalami koreksi wajar dan momentum bullish pasti akan berlanjut setelah koreksi ini berakhir.

Baca juga: Daftar Negara yang Akui Kripto dan Bitcoin Sebagai Alat Pembayaran

“Meski demikian, pentingnya untuk tetap mengikuti pergerakan pasar mengingat pasar Aset Kripto bergerak dinamis selama 24 jam setiap hari,” kata Panji.

“Strategi yang dapat dipertimbangan saat ini adalah untuk ‘buy the dip’ Bitcoin (BTC) di area support guna untuk mendapatkan harga rata rata kepemilikan BTC yang rendah dan potensi memiliki jumlah Bitcoin lebih banyak, guna mempersiapkan potensi reli yang akan berlanjut hingga tahun 2025 nanti,” sambungnya.

Sementara, reli Ethereum (ETH) terhenti hingga harga ETH kembali turun di bawah $4.000 setelah berhasil mengimplementasikan peningkatan Dencun di jaringan utama (mainnet) pada Rabu (13/3/2024).

Ethereum (ETH) mengalami penurunan 4,00% menjadi $3.454 dalam 24 jam terakhir.

Adapun, total kapitalisasi pasar Aset Kripto berada di level $2,437 Triliun melemah sebesar 0,74% dalam 24 jam terakhir.

Sementara di sisi lain, sejak pekan lalu Solana (SOL) terus memperlihatkan performa luar biasa dengan meraih harga $210 pada perdagangan Senin (19/3/2024) sebelum akhirnya ikut melemah pada perdagangan hari ini, bertengger di $191,80 turun 5,44% dalam 24 jam terakhir, namun terhitung masih naik sebesar 29,50% dalam periode 7 hari terakhir.

Performa positif Solana didukung dari melonjaknya perdagangan di decentralized exchange (DEX) Solana yang mencapai volume US$2,9 miliar, melampaui Ethereum akibat dari naiknya perdagangan memecoin seperti “Book of Meme (BOME)” dan “SNAP”.

Prestasi ini menegaskan Solana sebagai platform blockchain yang banyak digunakan dengan pengaruh yang semakin besar di pasar kripto serta telah pulih dari keterpurukan pada 2022.

Baca juga: Wajib Tahu, Perbedaan Kripto dan Bitcoin Sebelum Berinvestasi

Pekan ini

Konferensi Nvidia GPU technology conference (GTC) 2024 yang akan berlangsung dari 18 hingga 21 Maret akan diawasi dengan ketat untuk mengetahui pengumuman terkait AI yang juga berpotensi akan berdampak ke kripto berbasis teknologi Artificial Intelligence (AI).

Kompleksitas proses hukum antara Ripple dan SEC berlanjut setelah batas waktu baru telah ditetapkan.

Gugatan Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) terhadap Ripple memiliki tenggat waktu utama pada 22 Maret, ketika SEC akan mempresentasikan laporan singkat terkait perbaikannya.

Gugatan ini memiliki arti penting bagi komunitas XRP dan kemajuan gugatan tersebut kemungkinan besar akan memengaruhi ke mana arah altcoin selanjutnya dalam beberapa minggu mendatang.

Selanjutnya, laporan Ripple akan jatuh tempo pada 22 April, dan laporan balasan SEC pada 6 Mei.

Adapun, Ripple juga akan menyelenggarakan Konferensi XRP Gold Coast, yang akan diadakan pada 22 hingga 24 Maret.

Pergerakan BTC berpotensi berfluktuasi seiring dengan adanya keputusan hasil pertemuan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan pada 19-20 Maret 2024.

Data indeks harga konsumen (IHK) dan indeks harga produsen (IHP) Amerika Serikat pekan yang lebih tinggi dari perkiraan pasar pada minggu lalu menyebabkan ketidakpastian untuk mencari petunjuk apapun mengenai prospek penurunan suku bunga bank sentral, ketahanan ekonomi AS, dan tanggapan perihal inflasi.

Baca juga: Jumlah Investor Kripto di Indonesia Capai 18,83 Juta Januari 2024

“Para pelaku pasar sedang mempertimbangkan ulang kapan dan seberapa besar penurunan suku bunga akan terjadi tahun ini, karena angka inflasi yang melebihi perkiraan pada pekan lalu,” kata Panji.

“Sementara, hasil FOMC besok Rabu (20/3), terdapat 99% peluang The Fed kembali akan mempertahankan suku bunganya di kisaran 5,25%-5,50%.”

“Adapun, potensi kemungkinan penurunan suku bunga 25 bps pada bulan Juni turun menjadi sekitar 50,7%, menurut Alat CME FedWatch,” lanjutnya.

Disclaimer: Investasi aset kripto mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Selular hanya membuat informasi dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli aset kripto. Harga aset kripto berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.

Ikuti berita Selular.id di Google News

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU