Senin, 15 April 2024
Selular.ID -

Waspada Eksploitasi Identitas yang Penjahat Dunia Maya Lakukan

BACA JUGA

JAKARTA, SELULAR.ID – IBM hari ini merilis laporan tahunan X-Force Threat Intelligence Index 2024 yang menyoroti krisis global eksploitasi identitas pengguna (user identity) oleh penjahat dunia maya.

Menurut IBM X-Force, divisi layanan keamanan ofensif dan defensif IBM Consulting, pada tahun 2023, penjahat dunia maya memiliki lebih banyak peluang untuk “log in” daripada meretas jaringan perusahaan melalui akun pengguna – menjadikan taktik ini sebagai senjata pilihan bagi para hacker.

Laporan X-Force Threat Intelligence Index berdasarkan pada pengamatan dan pemantauan lebih dari 150 miliar insiden keamanan per hari di lebih dari 130 negara.

Data juga dikumpulkan dan dianalisis dari berbagai sumber, termasuk IBM X-Force Threat Intelligence, Incident Response, X-Force Red, dan IBM Managed Security Services.

Data yang disediakan oleh Red Hat Insights dan Intezer ikut berkontribusi pada laporan 2024.

TONTON JUGA:
@selular.id

Resmi Rilis Vivo V30 Pro, Saat ini V30 Series hadir dengan desain yang menawan. Untuk kamera V Series memang tidak perlu diragukan lagi. #vivov30series #vivov30pro #vivoindonesia #zeiss #v30pro #vivo #vivoglobal #CapCut

♬ suara asli – SelularID – SelularID

“Seperti yang kita ketahui, Indonesia telah mengalami beberapa insiden keamanan siber, baik di sektor publik maupun swasta,” kata Roy Kosasih, Presiden Direktur IBM Indonesia.

“Oleh karena itu, langkah pertama untuk mengamankan data dan platform kita adalah dengan mengidentifikasi isu dan masalah yang ada.”

“X-Force Threat Intelligence Index memberikan informasi mengenai tren keamanan di kawasan Asia dan apa yang perlu disiapkan secara nasional,” lanjutnya.

Baca juga: Politik Identitas dan Hoaks Menurun di Media Sosial saat Pemilu 2024, Ini Penyebabnya

Asia-Pasifik adalah geografi ketiga tertinggi yang paling ditargetkan oleh peretas pada tahun 2023, terhitung dari 23% insiden yang ditindaklanjuti X-Force secara global.

Meskipun akun pengguna bisa menjadi penyebab utama serangan secara global, phishing masih bertahan sebagai vektor akses awal tertinggi di kawasan Asia, dengan 36% insiden pada tahun 2023, diikuti oleh eksploitasi aplikasi umum sebanyak 35%.

Penyalahgunaan akun pengguna dan hubungan terpercaya serta replikasi melalui removable media semuanya di posisi ketiga, masing-masing menyumbang 12% dari kasus yang dipantau.

Sekali lagi, malware adalah insiden yang paling banyak diamati, mewakili 45% serangan di Asia-Pasifik.

Ransomware memimpin segmen tersebut dengan 17%, diikuti infostealer (pencurian informasi) sebesar 10%.

Baca juga: Identitas Digital Tingkatkan Kepercayaan Digital di Industri Fintech

Backdoors – yang tahun 2022 merupakan 31% dari insiden siber – hanya menyumbang 3% kasus pada tahun 2023.

Penggunaan alat yang legal untuk cybercrime berada di posisi kedua dengan 28%, dan alat eksfiltrasi data juga sering diamati, sebanyak 14%.

Kasus akses server (14%) adalah insiden ketiga yang paling banyak diamati di organisasi-organisasi Asia-Pasifik.

Dampak paling umum yang diamati pada serangan di kawasan ini adalah reputasi merek dan pencurian data, masing-masing sebesar 27%. Ini diikuti pemerasan, penghancuran data, dan kebocoran data, masing-masing 20% dari kasus-kasus kejahatan siber.

Di tingkat industri, manufaktur menyumbang 46% dari insiden-insiden cybercrime, mewakili industri yang paling ditargetkan di Asia-Pasifik dua tahun berturut-turut.

Pada saat yang sama, secara global, manufaktur adalah industri nomor satu yang paling ditargetkan pada tahun 2023, dan Asia-Pasifik secara keseluruhan mengalami persentase insiden tertinggi di industri (54%).

Baca juga: Kominfo Targetkan Digital ID Tuntas Bulan Ini

“Meskipun serangan siber yang memanfaatkan AI menarik banyak perhatian, kenyataannya adalah bahwa perusahaan masih menghadapi tantangan keamanan yang lebih signifikan dari praktik-praktik dasar penjahat siber,” kata Roy Kosasih.

“Penggunaan identitas curian, phishing, dan eksploitasi aplikasi umum masih menjadi masalah keamanan utama, baik secara global maupun regional.”

“Dan situasi ini bisa semakin memburuk jika penjahat siber mulai menggunakan AI untuk mengoptimalkan serangan mereka,” jelasnya.

Baca berita menarik lainnya dari Selular.id di Google News

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU