Faktor Penyebab Harga Saham GoTo Anjlok

Startup yang lampaui GOTO karena sudah raih profit.
Startup yang lampaui GOTO karena sudah raih profit.

Selular.ID – Faktor penyebab harga saham GoTo anjlok, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GoTo) mengungkapkan sejumlah penyebab saham perseroan menurun.

Presiden GoTo Patrick Cao menjelaskan kondisi makro ekonomi menjadi salah satu penyebab anjloknya saham GoTo.

Faktor lain yang membuat anjloknya saham GoTo yakni, pasar modal, kondisi, persaingan dan kinerja perusahaan.

Ia juga menambahkan, berakhirnya penguncian saham atau lock up pada November lalu, terjadinya kenaikan jumlah saham.

Presiden GoTo Patrick Cao menambahkan dengan berakhirnya periode lock up, ada kenaikan dalam jumlah saham yang beredar di pasar yang mengakibatkan peningkatan transaksi jual beli saham. Katanya dalam public expose GoTo secara virtual.

Manajemen PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk juga mengaku sejumlah penyebab harga saham turun. Ia juga menambahkan, dua tahun lebih dunia bisnis terganggu akibat pandemi Covid-19. Situasi yang semakin memburuk akibat ketidakpastian geopolitik dan kondisi ekonomi global.

Baca juga: Saham ARB Berjilid-Jilid, GOTO Gelar Public Expose Insidentil Hari Ini

Saham GoTo kembali anjlok alias autoreject batas bawah (ARB) dari pergerakan sahamnya. GoTo mulai pembukaan perdagangan per harini sudah “mandek”. Saham GoTo saat ini anjlok 6,54% ke posisi harga Rp 100/saham.

Penurunan saham disebabkan beberapa faktor diantaranya, investor awal yang masuk di harga saham lebih rendah yang merealisasikan keuntungan. Dan berakhirnya masa investasi untuk investor finansial, serta kebutuhan likuiditas lainnya.

“semua langkah yang kami lakukan untuk memberikan manfaat dan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan,” Ujar Patrick.

Baca juga: Harga Saham GOTO Cuma Rp2 Per Lembar? Simak Penjelasan Perusahaan

Selama 9 bulan, GTV GoTo dapat menembur Rp 451, 47 triliun dari periode yang sama tahun lalu Rp 324,94 triliun, naik 38,94%, pendapatan kotor pun juga mengalami kenaikan 42,01% menjadi Rp 16,63 triliun dari sebelumnya yaitu Rp 11,71 triliun.