Laporan: Bahaya Ransomware Serang 66% dari 5600 Perusahaan Dunia

Kaspersky beri tips terhindar dari file berbahaya.
Kaspersky beri tips terhindar dari file berbahaya.

Selular.ID – Laporan dari Sophos, pemimpin global dalam keamanan siber, mengungkap bahwa ada 66% Ransomeware menyerang perusahaan seluruh dunia.

Data ini didapatkan oleh Sophos bahwa serangan Ransomware yang naik hingga 66% didapatkan pada tahun 2021.

Survei tahunan yang bertajuk State of Ransomware 2022, menemukan bahwa perusahaan yang diserang ransomware meningkat hampir lima kali lipat.

Berarti jika dinominalkan  mencapai $812.360 (Rp12 juta), yang didata bahwa ini juga lebih tinggi tiga kali lipat dari proposi organisasi.

Baca Juga: Waspada! Ransomware Masih Menjadi Ancaman Serius Keamanan Siber

Maka kasus ini alami kenaikan hingga 37% terhitung sejak tahun 2020, dengan 46% organisasi harus membayar uang tebusan untuk mengembalikan data mereka.

Laporan tersebut merangkum dampak dari ransomware pada 5.600 perusahaan menengah di 31 negara dari negara bagian Eropa, Amerika, Asia-Pasifik dan Asia Tengah, Timur Tengah, dan Afrika.

Laporan State of Ransomware 2022 juga mengungkap insiden ransomware yang terjadi selama tahun 2021, serta isu-isu terkait asuransi siber, diantaranya:

  • Lebih banyak korban membayar uang tebusan Pada tahun 2021, 46% organisasi yang datanya dienkripsi dalam serangan ransomware telah membayar uang tebusan. 26% perusahaan yang dapat memulihkan data terenkripsi menggunakan backup pada tahun 2021 juga telah membayar uang tebusan
  • Dampak serangan ransomware bisa sangat besar– Biaya rata-rata pemulihan dari serangan ransomware pada tahun 2021 adalah sebesar $1,4 juta. Hal ini membutuhkan rata-rata satu bulan untuk terjadi pemulihan dari kerusakan dan gangguan. Sembilan puluh persen organisasi mengatakan serangan itu mempengaruhi kemampuan mereka untuk beroperasi, dan 86% korban dari sektor swasta mengatakan mereka telah kehilangan bisnis dan/atau pendapatan akibat serangan yang terjadi.
  • Banyak organisasi mengandalkan asuransi siber untuk membantu mereka pulih dari serangan ransomware– 83% perusahaan menengah memiliki asuransi siber yang melindungi mereka jika terjadi serangan ransomware – dan, pada 98% insiden yang terjadi, perusahaan asuransi membayar sebagian atau semua biaya yang dikeluarkan (dengan 40% dari keseluruhan pembayaran mencakup pembayaran tebusan)
  • Sembilan puluh empat persen dari mereka yang memiliki asuransi siber mengatakan bahwa pengalaman mereka untuk mendapatkannya telah berubah selama 12 bulan terakhir, dengan tuntutan yang lebih tinggi untuk mengambil langkah-langkah keamanan siber, kebijakan yang lebih kompleks atau mahal dan tidak banyak perusahaan yang menawarkan perlindungan asuransi.

Baca Juga: 8 Cara Untuk Terhindar dari Serangan Ransomware

Chester Wisniewski, Sophos Press Office, menjelaskan dengan kenaikan kasus ransomware. Jadi masalah yang besar bagi keamanan siber.

“Temuan ini menunjukkan bahwa kita mungkin telah mencapai puncak dalam perjalanan evolusi ransomware, di mana keserakahan penyerang untuk mendapatkan pembayaran tebusan yang lebih tinggi berlawanan dengan terjadinya pengerasan pasar asuransi siber karena perusahaan asuransi semakin berusaha untuk mengurangi risiko dan eksposur ransomware mereka,” kata Wisniewski

Ia menambahkan bahwa belakangan ini penjahat siber semakin mudah untuk sebar ransomware dengan berbagai upaya.

“Dalam beberapa tahun terakhir ini, semakin mudah bagi penjahat dunia maya untuk menyebarkan ransomware, dengan hampir semuanya tersedia melalui as-a-service. Kedua, banyak penyedia asuransi siber telah menanggung berbagai biaya pemulihan ransomware, termasuk uang tebusan, yang kemungkinan berakibat pada permintaan tebusan yang semakin tinggi.” Tambahnya

Namun, hasil survei menunjukkan bahwa asuransi siber semakin manjadi ketat dan di masa depan korban ransomware mungkin tidak bersedia atau kurang mampu membayar uang tebusan yang sangat tinggi.