Prediksi Serangan Siber di Kawasan Asia Tenggara, Pencurian Data Diperkirakan Kian Meningkat

Serangan siber

Selular.ID – 2022 diprediksi bakal menjadi tahunya serangan siber yang kian lebih menyasar dan canggih.

Para ahli dari tim riset dan Analisis Global (GReAT) Kaspersky setidaknya mengungkapkan empat tren teratas yang harus diwaspadai khususnya di wilayah Asia Tenggara.

Penurunan serangan ransomware yang ditargetkan  

Masa pandemi bertepatan dengan munculnya serangan ransomware yang ditargetkan di seluruh dunia yang berfokus pada sektor paling kritikal serta bisnis. Dan tercatat beberapa perusahaan dari Asia tenggara termasuk di antara korban serangan tersebut.

Namun, dengan kerja sama internasional yang kuat dan beberapa gugus tugas untuk melacak kelompok ransomware, para ahli Kaspersky percaya bahwa jumlah serangan semacam itu akan berkurang selama tahun 2022.

“Inisiasi awal dilakukan oleh pemerintah Amerika Serikat (AS), yang melibatkan FBI, dan bahkan keapabilitas ofensif Komando Siber AS. Kaspersky mengantisipasi bahwa serangan tersebut mungkin dapat muncul sewaktu waktu, dengan fokus untuk menyerang negara-negara berkembang dengan kemampuan investigasi siber minimal atau negara-negara yang bukan sekutu AS,” kata Vitaly Kamluk, Direktur Global Research & Analysis Team (GReAT) untuk Asia Pasifik di Kaspersky.

Mengingat sikap geopolitik beberapa negara di Asia Tenggara, kemungkinan akan ada lebih sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali serangan semacam itu di negara-negara pada kawasan tersebut di tahun 2022.

Namun, layanan hosting yang tersedia secara luas yang ditawarkan oleh negara-negara seperti Singapura dan Malaysia, layanan dan infrastruktur pusat data masih dapat disalahgunakan oleh kelompok ransomware bertarget.

Penipuan online tingkat lanjut dan rekayasa sosial

Salah satu karakteristtik warga negara berkembang adalah keingingan untuk mendapatkan perasaan yang aman. Investasi yang besar untuk teknologi, termasuk keamanan siber, dapat menghasilkan perasaan aman secara online dalam jangka panjang.

Sehingga, populasi umum dapat lebih terhindar dari ancaman siber tradisional hanya saja lebih sulit untuk menemukan infrastruktur yang tidak terlindungi atau pengguna yang terinfeksi.

Inilah sebabnya mengapa penyerang lebih mengutamakan serangan yang berfokus pada non-teknologi, eksploitasi kerentanan manusia, melibatkan segala jenis macam rekayasa sosial melalui SMS, panggilan telepon otomatis, pengirim pesan populer, jejaring sosial, dll.

Sementara itu jumlah laporan scam terus meningkat dari tahun ke tahun menurut Kepolisian Singapura: +16% (2021), +108,8%(2020), +27,1% (2019), +19,5% (2018).

Ini juga relevan dengan negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara Di Thailand, hampir 40.000 orang menjadi korban penipuan online ditunjukkan dengan transasksi tidak dikenal dari rekening bank dan kartu kredit mereka.

Baca Juga: Laporan: Serangan Siber ke Mata Uang kripto Jadi Sasaran Favorit di 2022

Halaman Selanjutnya

Scammers juga menggunakan situs bank…