Prediksi Serangan Siber di Kawasan Asia Tenggara, Pencurian Data Diperkirakan Kian Meningkat

Scammers juga menggunakan situs bank palsu untuk mencuri rincian perbankan Malaysia tahun lalu. Peniruan identitas terhadap platform e-commerce teratas di Vietnam juga digunakan untuk mengelabui pengguna untuk mengirimkan sejumlah uang.

Tren ini didorong oleh otomatisasi beberapa layanan, seperti panggilan otomatis dan pengiriman pesan awal otomatis dengan harapan dapat memicu operasi penipuan manual yang digerakkan oleh manusia.

“Kami percaya tren ini akan berkembang lebih jauh di masa depan, termasuk produksi dokumen yang disesuaikan dengan korban, gambar, video deep fake, hingga sintesis suara. Ada kemungkinan bahwa akan ada pergeseran kembali dari skema ancaman dengan bantuan komputer (penipuan) ke kejahatan dunia maya murni berdasarkan kompromi lengkap aset digital (akun pengguna, telepon pintar, komputer pribadi). Kami memprediksi bahwa penipuan teknis nan canggih seperti itu kemungkinan mulai terjadi pada tahun 2022,” tambah Kamluk.

Pelanggaran data meningkat tajam

Dengan berkurangnya serangan ransomware yang ditargetkan secara terbuka mengekspos data curian, kita akan melihat munculnya data curian yang diperjual-belikan di pasar gelap.

“Dalam beberapa tahun terakhir, kami mengamati bahwa dalam banyak kasus pelanggaran data, para korban tidak dapat mengidentifikasi penyerang, atau mengetahui bagaimana skema yang menyebabkan data pribadi mereka dicuri. Meskipun selalu ada tantangan untuk mengidentifikasi penyerang dan mencari tahu sumber pelanggaran, persentase kasus tersebut telah meningkat secara signifikan dalam dua tahun terakhir mencapai lebih dari 75% menurut penelitian Kaspersky,” jelas Kamluk.

Para ahli dari Kaspersky melihat hal tersebut bukan lagi sekedar tantangan, melainkan juga sinyal yang mendorong para pelaku kejahatan siber kian aktif untuk meluncurkan ancaman mereka melalui pencurian data dan perdagangan ilegal.

Sehingga, kami mungkin akan dihadapkan dengan lebih banyak jumlah database yang dicuri, komunikasi internal, dan berbagai detail pribadi yang dicuri dari berbagai perusahaan untuk diperdagangkan di pasar gelap.

 Serangan Industri Cryptocurrency dan NFT

Diperkirakan juga jika serangan siber bakal menyasar industri kripto dan NFT. Dan negara Asia Tenggara tercatat juga memimpin dalam hal kepemilikan NFT, dengan Filipina menduduki puncak dengan skor (26,2%) menempati peringkat kedua diikuti oleh Malaysia (23,9%). Vietnam berada di peringkat ke-5 (17,4%) dan Singapura di peringkat 14 (6,8%).

Selain itu, para ahli dari perusahaan keamanan siber global memperkirakan bahwa serangan ini tidak hanya akan berdampak pada pasar cryptocurrency global tetapi juga harga saham masing-masing perusahaan, yang juga akan dimonetisasi oleh penyerang melalui perdagangan wawasan ilegal pasar saham.