Tak Ingin Bernasib Seperti LG, Samsung Restrukturisasi Unit Bisnis Selular

Samsung

Jakarta, Selular.ID – Chaebol Korea, Samsung meluncurkan perombakan besar-besaran tim kepemimpinan dan melakukan penggabungan divisi selular dengan bisnis konsumen yang lebih luas. Langkah itu dilakukan sebagai upaya meningkatkan sinergi dan mempercepat pengembangan produk.

Dalam sebuah pernyataan, raksasa elektronik yang berbasis di Seoul itu, mengumumkan struktur baru yang menggabungkan tiga unit bisnis yang sebelumnya terpisah, yaitu IT, Komunikasi Selular dan Elektronik Konsumen. Peleburan ketiganya kini dikenal sebagai Divisi SET.

Untuk memimpin Divisi SET tersebut, Samsung menempatkan wakil ketua dan co-CEO Samsung Electronics Jong-Hee Han yang baru dipromosikan. Sebelumnya, eksekutif tersebut adalah Kepala Bisnis Visual Display, peran yang akan dia teruskan bersama dengan tanggung jawab barunya.

Di antara banyak perubahan manajemen lainnya, CEO Samsung Electro-Mechanics Kye Hyun Kyung menjadi sesama co-CEO bisnis Elektronik dan juga akan mengepalai Divisi DS yang berfokus pada semikonduktor.

Bersamaan dengan co-CEO baru, Samsung menunjuk CFO baru, Hark Kyu Park, yang sebelumnya adalah kepala kantor manajemen perusahaan di divisi semikonduktor. CFO saat ini Choi Yoon-ho dilaporkan oleh The Korea Herald akan menjadi CEO Divisi Baterai SDI Samsung.

Dalam pernyataan yang merinci alasan pembentukan Divisi SET, Samsung mencatat bahwa unit gabungan akan memungkinkannya untuk menciptakan produk dan layanan yang berbeda yang berfokus pada pengalaman pelanggan.

Samsung menambahkan, tim manajemen baru akan “memimpin perubahan” dalam menghadapi “persaingan global yang semakin intensif”. Perusahaan berencana mengumumkan perombakan dan restrukturisasi eksekutif lebih lanjut pada 2022 mendatang.

Perubahan kepemimpinan dan penggabungan unit-unit bisnis menjadi Divisi SET, tak lepas dari kerasnya kompetisi yang kini terjadi di industri smartphone. Saat ini Samsung menjadi vendor tersisa dari Korea Selatan, pasca hengkangnya LG dari bisnis ini pada April lalu.

Seperti diketahui, LG terpaksa menyuntuk mati unit bisnis smartphone karena terus menelan kerugian. Selama enam tahun terakhir, vendor yang rajin berinovasi itu, merugi hingga $ 4,5 miliar. Sebelumnya LG mencoba menjual divisi smartphone ke Vingroup, konglomerat Vietnam – namun pembicaraan yang dilakukan tidak menemukan kesepakatan.

Keluarnya LG setelah berkiprah di bisnis ponsel sejak 20 tahun lalu, memungkinkan dua pesaing terdekatnya, Apple dan Samsung untuk melahap lebih banyak pangsa pasar di Eropa dan Amerika Utara, dua kawasan di mana LG memiliki pasar yang kuat.

Belajar dari kegagalan LG, Samsung berusaha sedini mungkin melakukan restrukturisasi. Pasalnya, meski masih menjadi penguasa pasar ponsel global, namun sejak 2014,  vendor-vendor China semakin agresif dan terus menggerogoti pangsa pasar Samsung.

Malah di beberapa negara utama, seperti India dan Indonesia, Samsung telah kehilangan mahkota sebagai market leader. Di India, Xiaomi sukses menjungkalkan Samsung sebagai penguasa pasar sejak 2018.

Kondisi yang sama juga terjadi di Indonesia. Sejak kuartal ketiga 2019 hingga kuartal ketiga 2021, tiga vendor China yaitu Vivo, Oppo dan Xiaomi, secara bergantian menghuni posisi puncak pasar smartphone nusantara.