Kembalinya Honor Menjadi Tantangan Berat Bagi Xiaomi

Honor Xiaomi

Jakarta, Selular.IDCounterpoint Research telah merilis laporannya tentang pasar smartphone China sepanjang Q3 2021. Menurut lembaga riset yang berbasis di Hong Kong itu, penjualan tercatat turun 9% YoY tetapi meningkat 3% QoQ.

Vivo tetap memimpin dengan pangsa pasar 23%, diikuti oleh kompatriotnya Oppo (20%). Kejutan terjadi saat Honor membuat comeback yang kuat dengan banyak produk, sehingga dengan mudah mengalahkan Xiaomi untuk mengambil alih posisi ketiga (15%).

Xiaomi yang merupakan merek smartphone terbesar di India, turun ke posisi keempat dengan pangsa pasar 14%. Tiga vendor lainnya: Apple, Huawei, dan Realme melengkapi grafik dengan pangsa pasar masing-masing 13%, 8%, dan 4%.

Sejatinya ini bukan kali pertama Honor mempecundangi Xiaomi. Menurut penelitian Sino Market Research, sepanjang 2017 penjualan online Honor di China menembus 54,5 juta unit dengan pendapatan 78,9 miliar yuan. Pencapaian itu cukup untuk mengalahkan Xiaomi yang berada di posisi kedua dengan raihan penjualan 50,9 juta unit dan pendapatan 63,7 miliar yuan.

Melonjaknya pangsa pasar sepanjang Q3 2021, menjadikan Honor sebagai merek smartphone dengan pertumbuhan tercepat di China. Tercatat, pangsa pasarnya hampir dua kali lipat dari 7,7% pada Q2 2021 menjadi 14,7% pada Q3 2021 karena penjualan tumbuh sebesar 96% QoQ.

Peningkatan pasar yang signifikan menujukkan, bahwa Honor adalah merek yang disukai oleh penduduk setempat, terutama di kalangan muda. Dukungan lebih dari 30 distributor dan pengecer yang merupakan investornya, terbukti mampu menopang tumbuhnya penjualan.

Counterpoint mencatat, seri Honor 50 dan Honor 20 adalah varian yang paling laris di negara ini pada kuartal terakhir. Namun lembaga riset itu memperkirakan, seri Honor Magic 3, tidak akan menjadi kontributor penjualan utama bahkan di masa depan.

Tak dapat dipungkiri, pulihnya pasar Honor membuat kinerja Xiaomi tertekan, setelah hampir dua tahun menguasai posisi ketiga sebagai brand smartphone paling popular di China.

Untuk membalikkan keadaan, Xiaomi diperkirakan akan all-out. Pertempuran terbuka sangat memungkinkan karena kedua merek memiliki kehadiran di pasar online yang besar. Akan menarik melihat bagaimana kedua vendor ini saling bersaing di kuartal mendatang.

Menurut Counterpoint, rivalitas ketat yang terjadi selama bertahun-tahun dengan Honor akan memaksa Xiaomi menyusun ulang strateginya. Vendor yang bermarkas di Beijing itu, tentu tak ingin, dominasinya di pasar online semakin terus tergerus oleh Honor.

Di sisi lain, Xiaomi juga masih harus berjuang di pasar offline, di mana dua merek di bawah BBK Group, Oppo dan Vivo memegang lebih dari 65% pangsa. Sejauh ini Xiaomi telah merespon persaingan dengan mendorong langkah agresif ke pasar ritel. Pada November lalu, perusahaan membuka toko ke 10.000 di China.  Vendor yang identik dengan harga murah itu, berkomitmen untuk melipatgandakan jumlah toko retail dalam waktu dua hingga tiga tahun ke depan.