spot_img
BerandaNewsFeatureSudah Hadir Sejak 2017, Mengapa Tecno Belum Menjadi Brand Populer di Indonesia?

Sudah Hadir Sejak 2017, Mengapa Tecno Belum Menjadi Brand Populer di Indonesia?

-

Jakarta, Selular.ID – Hadirnya teknologi 4G pada 2015, menjadikan aktifitas mobile internet semakin nyaman. Dengan kecepatan akses hingga 100 Mbps, jauh berkali lipat dari 3G, masyarakat tak lagi bergantung pada fixed broadband.

Internet yang tak lagi lemot, membuat populasi smartphone pun melonjak. Lembaga riset terkemuka, IDC mencatat, sekitar 50-60 juta unit ponsel terserap di pasar Indonesia. Dari jumlah itu, 80% diantaranya sudah didominasi smartphone.

Di sisi lain, wabah pandemi covid-19 yang merebak sejak awal 2020, semakin mendorong massifnya kebutuhan internet. Alhasil, hingga Maret 2021, Kementerian Kominfo mencatat jumlah pengguna ponsel pintar mencapai 167 juta orang atau 89% dari total penduduk di Nusantara.

Kombinasi pasar yang luas dan kebutuhan akan internet, jelas menjadi daya tarik bagi brand-brand smartphone untuk mendulang cuan dari bisnis ponsel di Indonesia. Itu sebabnya, meski pasar sudah terbilang sesak, brand baru tetap bermunculan. Mereka mencari peruntungan dengan memanfaatkan konsumen Indonesia yang tidak terlalu fanatik terhadap merek, terutama di segmen menengah bawah yang punya dana terbatas.

Salah satunya adalah Tecno. Vendor asal China itu, berharap dapat mencuri pasar dari merek-merek lain yang sebelumnya sudah terbilang mapan. Termasuk dari para kompatriotnya yang kini sudah “berotot” di Indonesia.

Laporan lembaga riset seperti IDC, mengungkapkan empat vendor asal China sudah nangkring di posisi elit pada Q2-2021. Xiaomi menjadi jawara dengan 25% pangsa pasar. Diikuti oleh Oppo (20%), Vivo (15%), Samsung (15%), dan Realme (10%). Melonjaknya penguasaan pasar, menunjukkan popularitas keempat brand itu semakin meningkat di mata konsumen.

Popularitas memang sangat penting di tengah kompetisi yang terbilang ketat. Beberapa pemain diuntungkan karena sudah “kelotokan”, seperti Samsung. Persepsi konsumen terhadap merek asal Korea Selatan itu, sejauh ini masih sangat kuat, terutama mengacu pada  inovasi dan kualitas. Itu sebabnya, meski sudah tak lagi menjadi market leader, Samsung tak pernah terlempar dari posisi lima besar.

Namun beberapa pemain yang juga terlihat mandek, karena tak pernah naik kelas. Padahal merek-merek itu sudah cukup lama malang melintang di Indonesia. Sebut saja Sharp dan Nokia.

Tecno sendiri bisa dibilang telat masuk. Brand yang popular di Afrika itu, menginvasi pasar domestik pada 2017. Bandingkan dengan Oppo yang sudah nongol pada 2014 dan Vivo pada 2015.

Menariknya, Realme juga belum terlalu lama masuk ke Indonesia, yaitu Oktober 2018. Namun dalam waktu yang relatif pendek, Realme sudah menduduki posisi lima jajaran brand smartphone terlaris di Tanah Air. Hal itu menunjukkan, ambisi Realme menjadi “game changer” bukan sekedar pepesan kosong.

Sebaliknya, meski setahun datang lebih awal, Tecno kalah popular dengan Realme. Hal itu menunjukkan, brand awareness Tecno berada di bawah Realme dan merek-merek smartphone China lainnya.

Minim Aktifitas Pemasaran

Tentu ada beberapa faktor dibalik rendahnya brand awareness Tecno. Namun faktor utama tentu saja adalah minimnya aktifitas pemasaran. Padahal di era hyper competition, sejatinya sangat sulit bagi sebuah brand untuk bisa mencuri pasar dari para pesaing. Dibutuhkan strategi pemasaran yang jitu dan konsisten untuk menggoyang pemain lain yang sudah mapan, apalagi market leader yang sudah memiliki brand awareness yang sangat kuat di mata konsumen.

Sayangnya sejak melenggang di pasar Indonesia empat tahun lalu, sejauh ini tidak ada jurus-jurus pemasaran yang diluncurkan oleh Tecno selain hanya menawarkan harga lebih murah dibandingkan pesaing. Itu pun dengan publikasi terbatas.

Hal ini terbilang kontras dengan upaya yang dilakukan vendor lain, misalnya Oppo. Sejak menginvasi pasar Indonesia, vendor yang berada di bawah naungan BBK Group itu, terbilang paling getol dalam mengembangkan aktifitas pemasaran.

Nyaris semua channel promosi mereka manfaatkan. Baik media konvensional maupun modern, termasuk new media yang semakin happening. Dari billboards, flyer, TV, media online dan media sosial, bahkan menyewa brand ambassador. Dengan semua channel tersebut, entah sudah berapa dana yang Oppo gelontorkan sejak kehadiran mereka di Indonesia.

Strategi marketing tersebut, sejalan dengan langkah membangun jaringan retail yang menjangkau pasar di seluruh Indonesia. Lengkap dengan pemanfaatan ribuan promoter  yang membuat calon pelanggan terpincut dan akhirnya mau membeli smartphone Oppo.

Untuk memperkuat ekuitas merek, Oppo juga rajin menggelar tematik event yang sangat berperan dalam mendorong tumbuhnya brand experience di mata konsumen. Sebagai contoh, pasca peluncuran varian Reno6, Oppo menggelar “Reno6 Ultimate Gaming Battle”, ajang kompetisi PUBG Mobile yang diadakan di Central Park Jakarta pada Minggu (26/9/2021).

Lewat event itu, Oppo ingin memperluas unique value proposition (UVP) dari varian Reno yang sudah dihadirkan sejak 2917. Tak hanya menawarkan fitur kamera yang memukau, namun Reno6 juga sarat dengan beragam fitur gaming yang tak kalah unggul dari jajaran ponsel yang mengklaim dirinya ‘smartphone gaming’.

Langkah pemasaran yang agresif tak sia-sia. Dengan penguasaan pasar yang tinggi, Oppo kini sudah menjadi salah satu brand yang tergolong TOM (top of mind) di mana loyalitas konsumen sudah terbentuk.

Hal ini sangat kontras dengan Tecno yang cenderung menjalankan strategi pemasaran konservatif. Entah karena memiliki budget terbatas atau melihat pasar Indonesia tidak terlalu strategis, sejauh ini Tecno tidak terlihat jor-joran dalam upaya mengambil ceruk pasar.

Di sisi lain, produk yang dijajakan juga tidak banyak. Tengok saja, pada tahun ini Tecno hanya mengeluarkan dua produk di pasar Indonesia, yaitu Tecno Spark 7 NFC dan Tecno Pova yang membidik segmen gaming. Minimnya produk membuat Tecno semakin sulit bersaing dengan vendor smartphone lain, yang rata-rata mengeluarkan 7 – 12 produk setiap tahunnnya.

Artikel Terbaru