spot_img
BerandaNewsTelcoTol Langit Palapa Ring Terhubung, Perkuat 'Nafas' Telekomunikasi Hingga Ujung Negeri

Tol Langit Palapa Ring Terhubung, Perkuat ‘Nafas’ Telekomunikasi Hingga Ujung Negeri

-

Jakarta, Selular.ID – Untuk menghubungkan nafas digital masyarakat Indonesia secara menyeluruh bukanlah perkara mudah, ‘nyawa’ pun sampai menjadi taruhanya karena tingginya intensitas serangan kelompok kriminal, hingga tantangan letak geografis yang sulit untuk  ditempuh.

Hal ini coba diungkap oleh Moratelindo, salah satu mitra kerja Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) sebagai Badan Layanan Umum (BLU) di bawah Kementerian Kominfo, yang dipercaya untuk membangun jaringan Palapa Ring wilayah barat dan timur.

“Membangun Palapa Ring itu bukan sekedar harapan, tetapi juga monumen bagi kami. Tantanganya pun sangat besar, jadi yang pertama kita kedepankan itu kesiapan mental terlebih dahulu sebenarnya. Dan faktanya ini terjadi di Palapa Ring Timur,  dengan letak geografis yang menantang juga  ancamaan kelompok bersenjata. Di Palapa Ring Barat kami cenderung aman karena daerahnya sudah friendly, sehingga di wilayah tersebut pembangunan berjalan dengan baik,” kata Presiden Direktur Moratelindo, Galumbang Menak dalam acara webinar media sila dengan tema ‘Apa Kabar Tol Langit?’.

Sekedar informasi, Palapa Ring Barat meliputi wilayah Riau dan kepulauan Riau (sampai dengan Natuna) yang rampung digelar pada Maret 2018. Proyek Palapa Ring Timur berlangsung di wilayah Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua Barat hingga pedalaman Papua, dan juga tercatat menjadi proyek paling besar dari antara 2 proyek lainnya (Palapa Ring Barat dan Palapa Ring Tengah) dengan total panjang kabel serat optik darat (inland) 2.453 KM dan kabel serat optik laut (submarine) membentang sejauh 4.42 6 KM.

“Kalau Palapa Ring Timur  selain secara logistik yang memang sangat sulit, kita tahu sama tahun saja di sana sengat menantang. Khususnya di daerah Papua yang kami bangun berada di wilayah pegunungan yang ketinggianya itu mencapai 4000 m di atas laut. Menurut teori oksigen di titik ketinggian tersebut sangat tipis, hanya orang-orang tertentu saja yang bisa bekerja. Dan itu pun waktu kerjanya terbatas mungkin hanya 15 menit karana faktor tersebut,” cerita Galumbang.

Dan untuk menuju wilayah tersebut, Galumbang juga menceritakan akses terbaik hanya bisa ditempuh helikopter, dan itu pun harus terhalang oleh kondisi cuaca yang cepat berubah, dan juga kepiawaian dan keberanian pilot saat menuju lokasi juga cukup menjadi tantangan tersendiri.

“Terus terang untuk mengerjakan Palapa Ring Timur ini menjadi pengalaman saya yang paling kompleks. Saya bahkan sampai menyampaikan kepada para pemegang saham, dalam pengerjaanya saya jadi sering berdoa. Karena kenyataan yang menyulitkan itu, yang bukan lagi urusanya dengan ketersedian teknologi, tapi keamanan karena serangan bisa terjadi kapan saja, dan datang tidak hanya mengancam tapi langsung menghilangkan nyawa.  Sudah banyak korban, baik dari karyawan, kontraktor, maupun aparat TNI yang gugur demi mewujudkan internet di pelosok negeri, khususnya di wilayah Indonesia Timur ini,” ungkap Galumbang.

Dan mirisnya setelah semua infrastruktur itu dibangun, ancamannya pun tak begitu saja surut, tercatat hingga kini terjadi 174 kasus vandalisme terhadap fasilitas Palapa Ring Timur terjadi sejak akhir 2019 hingga awal tahun 2021 di Papua.

Vandalisme terjadi dalam berbagai bentuk, mulai dari perusakan optik, pembakaran perangkat, hingga ancaman terhadap pekerja proyek palapa ring timur. Bahkan, sebanyak 4 kasus masuk kategori vandalisme berat. Yang tentu persoalan ini juga perlu diperhitungkan guna meredam gangaun dari laju konektivitas Indonesia.

Tol langit palapa ring terintergrasi

Meski sulit, Bakti Kominfo pun hingga kini masih tetap memiliki komitmen kuat untuk menghadirkan jaringan internet di seluruh Indonesia khususnya di daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) dengan membangun tol langit melalui infrastruktur telekomunikasi backbone yang mengintergrasikan antar kota/kabupaten melalui jaringan serat optik palapa ring serta infrastruktur middle mile, berupa satelit multifungsi berteknologi tinggi (High Throughput Satelite), serat optik, dan microwave link sebagai penghubung hingga ke wilayah kecamatan.

Direktur Utama BAKTI Kominfo Anang Latif menjelaskan tol langit ini merupakan sambungan bebas hambatan berupa sinyal internet yang menghubungkan daerah-daerah di Indonesia.

“Tol Langit seperti jalan tol, jaringan internet di pedalaman yang sebelumnya hanya terwujud oleh satelit kini digantikan oleh fiber optic sehingga internet bisa berjalan lebih cepat layaknya di kota-kota besar,” papar Anang.

Dalam rencananya, Bakti bakal membangun fiber optic palapa ring integrasi di tahun 2022—2023 dengan total 12.083 km dalam 2 fase pembangunan, fase 1 (2022) sepanjang 5.226 km dan fase 2 (2023) sepanjang 6.857 km. Dari total fiber optic yang akan dibangun, 8.203 km akan digelar di daratan, 3.880 km di laut, dan sisanya berupa microwave link.

Catatan menariknya melalui Palapa Ring integrasi ini, akan menghubungkan tiga paket  yang sudah terbangun. Yakni wilayah barat, tengah dan timur. Yang ujung tujuannya tentu untuk memperkuat jaringan yang sudah ada ini dapat menjadi backup apabila di satu wilayah jaringannya terputus, sehingga pemanfaatan internet akan tetap terjamin maksimal.

Menjadi penting pula menginggat hingga kini kesenjangan digital di Indonesia masih melanda, tercatat pengguna internet aktif pada tahun 2019—2020 baru 73,7% dari seluruh total penduduk Indonesia, dengan tingkat penetrasi tertinggi di Pulau Jawa dan Sumatera. Target pemerintah melalui program tersebut setidaknya bakal mencakup sebanyak 92,6% dari total penduduk yang merupakan pengguna internet aktif.

spot_img

Artikel Terbaru