spot_img
BerandaNewsPengamat: Merger Tingkatkan Daya Saing Operator Selular di Era 5G

Pengamat: Merger Tingkatkan Daya Saing Operator Selular di Era 5G

-

Jakarta, Selular.ID – Menurut Ketua Pusat Kajian Kebijakan dan Regulasi Telekomunikasi Institut Teknologi Bandung (ITB) Ian Yosef M. Edward, aksi merger Indosat dan Tri Indonesia (Indosat Ooredoo Hutchison) dinilai berpotensi meningkatkan daya saing operator selular di era 5G.

“Dari peleburan tersebut tak dipungkiri sebagai upaya memiliki daya saing yang tinggi untuk menghadapi 5G. Dengan pengabungan ini, maka investasi untuk perangkat 5G akan lebih efisien, serta pelanggan ujungnya dapat menikmati biaya yang dapat diterima jauh lebih baik,” kata Ian kepada Selular, Selasa (21/9).

Ian pun menekankan tambahan dana dan frekuensi untuk membangun 5G, yang sebelumnya penguasaan frekuensi ini tentu akan dinilai oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), guna terciptanya persaingan usaha yang sehat, “akan dilanjutkan dengan perencanaan bersama yang matang, sehingga capital expenditure (capex)  dan operational expenditure (opex) berjalan sangat optimal,” paparnya.

Dari sisi harga layanan, tentu menjadi salah satu tantangan besar di era 5G, mengingat kecepatan internet, dan dibarengi dengan kualitas layanan digital yang semakin tinggi, tentunya harga paket akan menjadi sangat sensitive.

Ian pun menilai idealnya biaya 5G maksimal sama dengan 4G, dan kecenderungan harga akan menurun seiring berjalannya waktu, saat perangkat base transceiver station (BTS) dan customer premises equipment (CPE) terjangkau.

Sehingga langkah peleburan dua operator selular menjadi Indosat Ooredoo Hutchison ini menjadi tepat karena dapat mengakselerasi gelaran 5G. Dan tidak menutup kemungkinan langkah tersebut juga bakal mendorong operator selular lain melakukan hal serupa mengingat manfaatnya yang begitu besar bagi perusahaan di era 5G.

Baca juga :  7 Vendor yang Siap Bersaing di Ranah Ponsel Lipat
Baca juga :  Senator AS Desak Pemerintah Biden Untuk Jebloskan Honor ke Daftar Hitam

“4 operator itu optimal, kalau 3 operator kurang baik untuk persaingan usaha yang sehat. Sedangkan 5 operator terlalu banyak. Jika mengacu pada aturan UU Cipta kerja, operator itu diperbolehkan untuk sharing frekuensi/perangkat aktif, sehingga peluang 5G melalui terjalinya kerjasama akan tinggi, guna meningkatkan persaingan,” tandasnya.

spot_img

Artikel Terbaru