spot_img
BerandaNewsFeatureManuver CK Hutchison Berujung Merger Indosat Ooredoo dan 3 Indonesia

Manuver CK Hutchison Berujung Merger Indosat Ooredoo dan 3 Indonesia

-

Jakarta, Selular.ID – Setelah mengalami penundaan hingga tiga kali, pekan lalu dunia usaha Indonesia dihebohkan dengan aksi korporasi yang melibatkan dua operator selular, Indosat Ooredoo dan 3 Hutchison Indonesia. Penggabungan dua entitas usaha ini menjadikan Indosat Ooredoo Hutchison – nama operator pasca merger – sebagai operator terbesar kedua di Indonesia.

Merger senilai USD 6 miliar atau setara dengan Rp 85 triliun itu, juga diklaim sebagai yang terbesar di Asia. Tak tanggung-tanggung  lebih dari 100 juta pelanggan akan diangkut oleh operator selular baru itu. Dengan penggabungan ini, Indosat Ooredoo Hutchison akan menjadi penantang utama Telkomsel yang selama bertahun-tahun menguasai pasar Indonesia.

Menurut Vikram Sinha, Director and COO Indosat Ooredoo, setidaknya ada tiga manfaat dari merger Indosat Ooredoo dan 3 Indonesia, yaitu mempercepat inovasi digital dan kualitas layanan bagi pelanggan, berkontribusi terhadap rencana pemerintah untuk untuk mengubah indonesia menjadi negara digital, dan mempercepat pemulihan ekonomi Indonesia dari dampak covid-19.

Vikram menambahkan, merger ini akan menciptakan perusahaan yang lebih besar dan lebih kuat secara finansial dengan sumber daya untuk meningkatkan jaringan 4G di Indonesia dan mempercepat peluncuran 5G.

“Indosat Ooredoo Hutchison akan berada pada posisi yang dapat mempercepat laju pembangunan dan perkembangan jaringan untuk mendukung agenda digital pemerintah Indonesia, serta memberikan manfaat bagi para pelanggan dan masyarakat Indonesia pada umumnya,” kata Canning Fok, Group Co-Managing Director of CK Hutchison Holdings.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Selular.ID (@selularid)

Mengincar XL Axiata

Sejatinya, merger antara Indosat Ooredoo dan 3 Indonesia tak lepas dari manuver CK Hutchison, induk usaha 3 Indonesia. Pada 2019, konglomerat Hong Kong itu mulai melakukan pendekatan untuk melakukan merger. Menariknya kali pertama ajakan merger bukan kepada Ooredoo, induk usaha Indosat Ooredoo, tapi kepada Axiata Group Berhard Malaysia terkait potensi merger unitnya di Indonesia dengan XL Axiata.

Pembicaraan tersebut dilakukan setelah Axiata Malaysia mengakhiri rencana penggabungan dengan Telenor Norwegia. Kedua perusahaan sebelumnya telah menekan kesepakatan penggabungan non-tunai dari aset telekomunikasi dan infrastruktur mereka di Asia. Namun, seperti halnya Telenor, rencana penggabungan Tri Hutchinson dengan XL Axiata juga berujung pada kegagalan.

Kini dengan keberhasilan proses merger kedua operator, komposisi pun berubah. CK Hutchison akan mendapatkan 50% saham dari Ooredoo Asia dengan menukar 21,8% sahamnya di Indosat Ooredoo Hutchison untuk 33% saham di Ooredoo Asia. Kemudian, CK Hutchison juga akan mendapatkan tambahan 16,7% kepemilikan di Ooredoo Group lewat transaksi senilai USD 387 juta.

Baca juga :  Kuasai Lebih dari 50% Pangsa Pasar, Mengapa Apple Begitu Digdaya di Segmen Smartphone Premium?

Menyusul transaksi di atas, Para Pihak akan masing-masing memiliki 50% dari Ooredoo Asia, yang akan diberi nama baru yaitu Ooredoo Hutchison Asia dan memiliki 65,6% saham dan kendali atas Indosat Ooredoo Hutchison.

Pada akhir transaksi, Indosat Ooredoo Hutchison akan dikendalikan bersama-sama oleh Ooredoo Group dan CK Hutchison. Perusahaan gabungan akan tetap terdaftar di Bursa Efek Indonesia, dengan pemerintah Indonesia memiliki 9,6% saham, PT Tiga Telekomunikasi Indonesia memiliki 10,8% saham, dan pemegang saham publik lainnya memiliki kira-kira 14,0% saham.

Baca juga :  Layanan 4G Indosat Ooredoo Sambangi 124 Desa Terpencil

Para pihak yang terlibat memastikan akan menominasikan Vikram Sinha sebagai CEO perusahaan baru ini dan Nicky Lee sebagai CFO Indosat Ooredoo Hutchison. Sedangkan Ahmad Al-Neama akan tetap menjalankan tugasnya sebagai President Director and CEO Indosat Ooredoo. Begitu pun dengan Cliff Woo akan tetap bertugas sebagai CEO H3I hingga proses merger ditargetkan tuntas pada akhir Desember 2021.

Pemain Global

Sekedar diketahui seperti halnya, Singtel atau Axiata yang berbisnis di Indonesia lewat Telkomsel dan XL, Ooredoo juga merupakan grup telekomunikasi yang beroperasi di sejumlah kawasan, seperti Timur Tengah, Afrika Timur, dan Asia Tenggara.

Selain di Qatar sendiri, saat ini terdapat 9 negara di mana Ooredoo menjalankan bisnisnya, yakni Kuwait, Oman, Aljazair, Tunisia, Irak, Palestina, Maldives, Myanmar, dan tentu saja Indonesia. Ooredoo adalah pemegang saham terbesar Indosat dengan memegang sekitar 65% kepemilikan. Sejak 2016, induk usaha Indosat itu berniat menjual atau menggabungkan unit dengan operator telekomunikasi lain.

Sedangkan Hutchinson Asia Telecom (66%) dan PT Tiga Telekomunikasi (33%) yang terafiliasi dengan keluarga Thohir menjadi pemegang saham Tri setelah menyuntikkan modal segar sekitar Rp47 triliun (US $ 3,33 miliar) pada 2019. Thohir masuk ke Tri Indonesia pada 2019. Sebelumnya pada 2013, Thohir membentuk konsorsium dengan Patrick Walujo, pendiri Northstar Group.

Selain Tri, konglomerat Hong Kong yang didukung taipan Victor Li itu juga menggandeng perusahaan pelabuhan milik negara, PT Pelabuhan Indonesia II di Terminal Kontainer Internasional Jakarta.

CK Hutchison Group adalah perusahaan yang didirikan oleh konglomerat Hong Kong, Li Ka-Shing. Selain Indonesia, di Vietnam perusahaan menjalankan operasi HAT sejak Oktober 2016 dan mengoperasikan layanan selular dengan merek Vietnamobile. Kemudian, Hutchison Telecommunications Lanka bergabung dengan Etisalat Lanka menjalankan Hutch Sri Lanka dengan mayoritas saham 85%.

spot_img

Artikel Terbaru