spot_img
BerandaNewsFeatureA.T Kearney: Ketersediaan Frekwensi Menjadi Tantangan Utama Operator Menggelar 5G

A.T Kearney: Ketersediaan Frekwensi Menjadi Tantangan Utama Operator Menggelar 5G

-

Jakarta, Selular.ID – Era internet super cepat sudah di depan mata, berkat implementasi 5G yang digelar oleh Telkomsel dan Indosat Ooredoo. Ke depan tensi persaingan dipastikan akan semakin meningkat, seiring dengan terjunnya operator lain, seperti XL Axiata dan Smartfren di bisnis yang sama.

Diketahui XL telah melaksanakan ULO (Uji Layak Operasi) yang dilakukan sepanjang tanggal 3-5 Agustus 2021, yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo).

Pasca suksesnya ULO, XL Axiata pun telah mengantongi Sertifikat Keterangan Laik Operasi (SKLO) untuk menggelar layanan 5G secara komersial di Indonesia. Sembari melakukan persiapan komersialisasi 5G, XL kini telah menggelar demo dan showcase layanan 5G di empat kota di Indonesia, sejak 18 Agustus 2021.

Keempat kota itu adalah Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya. Selain di empat kota di atas, jaringan 5G XL Axiata juga tersedia di sebagian Jalan Margonda – Depok, dan area Gedung Sate – Kota Bandung. Selanjutnya Medan, Banjarmasin, dan Makassar akan menjadi kota 5G XL Axiata berikutnya. Ketiganya ditargetkan akan siap pada pertengahan September 2021.

Menurut Group Head Corporate Communication XL Axiata, Tri Wahyuni, untuk tahap implementasi awal, layanan 5G XL Axiata akan menargetkan  pelanggan mobile, karena memperhitungkan keterbatasan spektrum.

Berbeda dengan XL Axiata, Smartfren menegaskan tak mau buru-buru dalam menyediakan jaringan generasi kelima tersebut. Hal ini diungkapkan langsung oleh Presiden Director Smartfren, Merza Fachys, dalam acara uji coba jaringan 5G tahap kedua yang digelar secara virtual, Kamis (17/6/2021).

“Kalau ingin layanan 5G Smartfren di-ON kan hari ini juga tidak apa-apa. Tapi kita tidak ingin terburu-buru mengaktifkan 5G, kalau ujung-ujungnya hanya sekadar nyala dan ditangkap oleh ponsel pelanggan,” ungkap Merza.

Hal ini dikarenakan, kata Merza, Smartfren ingin menggelar jaringan 5G dengan totalitas alias tidak sepotong-sepotong. Oleh karena itu, Smartfren masih harus merampungkan hal-hal yang seharusnya diselesaikan lebih dahulu sebelum benar-benar menggelar 5G. Misalnya, soal dukungan dan kesiapan industri dan aplikasi lokal.

“Semua layanan 5G juga harus melalui teknologi fiber optik agar dapat kecepatan tinggi dan latensi rendah yang dijanjikan oleh 5G”, pungkas Merza.

Spektrum Eksisting

Harus diakui, untuk sampai pada implementasi 5G yang sesungguhnya, banyak persiapan yang ditempuh. Selain dari sisi infrastruktur, bisnis model, dan investasi, terutama untuk spektrum dan peralatannya.

Saat ini untuk mengembangkan 5G, Telkomsel menggunakan spektrum eksisting, yaitu 2,3 Ghz selebar 30 Mhz. Sedangkan Indosat Ooredoo dan XL Axiata sama-sama memanfaatkan spektrum selebar 20 Mhz pada frekwensi 1.800 Mhz yang dimilikinya.

Keputusan operator selular menggelar 5G dengan menggunakan spektrum eksisting, tak lepas dari langkah pemerintah yang hingga saat ini belum menentukan jenis frekwensi yang khusus dialokasikan untuk jaringan 5G.

Sebelumnya, Kementerian Kominfo menyebutkan terdapat sejumlah kandidat pita frekuensi yang bisa menjadi pilihan teknologi 5G sesuai rekomendasi ITU (Internasional Telecom Union), seperti 2,6 GHz dan 3,5 Ghz. Masing-masing spektrum memiliki kelebihan dan kekurangan. Namun, persoalan yang mendasar dari spektrum tersebut umumnya masih digunakan untuk kepentingan berbeda oleh pihak lain.

Saat ini ekosistem 5G yang ideal ada di frekuensi 3,5 GHz. Terlebih sudah banyak yang mengunakannya dan secara matang dimanfaatkan di negara-negara lain. Sehingga memudahkan vendor handset dan equipment manufacturer untuk men-deploy jaringan 5G. Dengan besarnya skala bisnis maka hal ini akan mendorong penurunan harga di tingkat konsumen.

Persoalannya, saat ini frekwensi 3,5 Ghz masih digunakan untuk kepentingan bisnis satelit, termasuk oleh PT Telkom. Begitu pun dengan 2,6 Ghz yang kini dikuasai MNC Group untuk kepentingan penyiaran televisi berbayar.

Penggunaan spektrum 2,3 Ghz dan 1.800 Mhz yang tidak umum, juga menyulitkan vendor handset menyiapkan perangkat 5G. Itu sebabnya, smartphone 5G yang sudah beredar di pasaran saat ini jumlahnya masih terbatas. Padahal menurut kajian IDC Indonesia, total market share smartphone 5G diperkirakan akan mencapai 5% dari total pengiriman smartphone di Indonesia pada 2021.

Bukan Terobosan

Lambatnya pemerintah Indonesia mengalokasikan frekwensi khusus untuk 5G, sebenarnya sudah diprediksi oleh lembaga riset dan manajemen terkemuka, A.T Kearney. Dalam laporan tertajuk “5G in ASEAN: Reigniting Growth in Enterprise and Consumer Markets”, lembaga ini menyimpulkan bahwa kawasan ASEAN akan menjadi kunci pertumbuhan 5G global.

Laporan yang diterbitkan pada Agustus 2020 itu, menyebutkan bahwa dampak terbesar dari implementasi 5G, akan dirasakan sejumlah sektor utama seperti manufaktur dan jasa sebagai kontributor terbesar perekonomian secara keseluruhan. Besarnya kontribusi dari sektor-sektor itu, akan mendorong adopsi layanan 5G untuk perusahaan, sebagai segmen pasar utama.

Lebih lanjut, kajian A.T Kearney itu menyebutkan bahwa pertumbuhan adopsi teknologi 5G diperkirakan akan berasal dari high-value customers dan high-value devices. Seiring dengan semakin terjangkaunya harga perangkat, jumlah pelanggan juga akan meningkat.

Sehingga pada 2025 nanti, penetrasi 5G bisa mencapai 25% hingga 40% di sejumlah negara di kawasan ASEAN, dengan kontribusi terbesar berasal dari Indonesia, mencapai 27%. Saat itu, jumlah pelanggan diprediksi sudah melewati 200 juta, dan setengahnya berbasis di Indonesia.

Meski berpotensi menjadi pendorong utama pertumbuhan 5G, namun lembaga yang berbasis di Chicago – AS itu, mengungkapkan sejumlah tantangan yang dihadapi  negara-negara ASEAN. Disebutkan bahwa lambatnya ketersediaan spektrum untuk layanan 5G dan peluncuran jaringan yang tidak optimal, akan menjadi tantangan terberat bagi pemerintah di masing-masing negara.

Tetapi bahkan jika dukungan spektrum dan peraturan sudah tersedia, adopsi dan pengiriman kasus penggunaan tetap tidak pasti, tambah laporan itu.

Sejauh ini, A.T Kearney, menyimpulkan bahwa Singapura akan mengungguli negara-negara di kawasan, dengan tingkat penetrasi yang diperkirakan mendekati 60% pada 2025.

Sebaliknya, laporan itu mengatakan negara-negara seperti Thailand, Vietnam dan Filipina dapat menemukan diri mereka dalam situasi “kalah-kalah” di mana 5G secara selektif diluncurkan dan perusahaan tidak mau membayar biaya untuk jaringan.

Dalam skenario ini, konsumen dan bisnis akan enggan untuk membayar biaya ekstra karena mereka hanya merasakan manfaat terbatas atas jaringan 3G atau 4G yang ada. Operator akan merespons dengan berfokus pada pengembalian investasi mereka di jaringan yang ada, membatasi ekspansi infrastruktur 5G.

Alhasil, A.T Kearney memperingatkan bahwa dalam situasi ini, 5G hanya akan menjadi “hanya lapisan teknologi”, ketimbang sebuah terobosan.

spot_img

Artikel Terbaru