BerandaInsightMASTEL: Pentingnya Ekosistem Device di Industri Smartphone

MASTEL: Pentingnya Ekosistem Device di Industri Smartphone

-

Jakarta, Selular.ID – Wabah pandemi Covid-19 yang berkepanjangan berdampak besar pada bisnis perusahaan, termasuk perusahaan teknologi di seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. Para pelaku industri ICT (Information and Communication Technology) dipaksa berinovasi untuk mengembangkan bisnis mereka di era pandemi ini. Namun, wabah pandemi tidak berdampak besar bagi vendor smartphone di Indonesia.

Permintaan akan smartphone di Indonesia justru semakin meningkat selama wabah pandemi di tahun 2021 ini. Mengingat masyarakat di Indonesia menggunakan smartphone untuk melakukan beragam aktivitas secara online, seperti bekerja dan belajar di rumah. Apalagi di pasar Indonesia saat ini hadir beragam smartphone dengan berbagai fitur yang dapat menunjang kegiatan belajar dan bekerja di rumah.

Berdasarkan laporan IDC terbaru, menunjukan peringkat lima besar merek smartphone di Indonesia untuk kuartal kedua 2021 secara berturut-turut dengan market share masing-masing dalam Indonesia Top 5 Smartphones Companies 2021Q2 adalah Xiaomi (27%), Oppo (19%), Vivo (17%), Samsung (16%), dan Realme (12%). Sebelumnya, laporan IDC bertajuk Indonesia Top 5 Smartphones Companies 2021Q1 menunjukan peringkat dan market share vendor smartphone di Indonesia diantaranya Oppo (24%), Samsung (19%), Vivo (19%), Xiaomi (18%) dan Realme (12%).

Data Canalys terbaru juga menyebutkan Merujuk pada laporan Canalys terbaru selama kuartal dua (Q2) 2021, Xiaomi berhasil melejit ke posisi puncak dalam Indonesia Top 5 Smartphone Vendors Q2 2021 dengan unit share sebesar 28%. Sayangnya, Oppo harus turun ke posisi runner-up selama Q2 2021 dengan penurunan unit share berjumlah sebesar 20%.

Di urutan ketiga ditempati oleh Samsung dengan unit share 18%. Selanjutnya di posisi keempat ada Realme dengan unit share 12%. Kemudian Vivo juga harus merosot ke posisi kelima selama Q2 2021 dengan unit share 12%.

Baca juga: Mastel: Ketergantungan Digital Indonesia Terhadap Asing Pengaruhi Ruang Siber

Mengacu pada laporan terbaru Masyarakat Telematika Indonesia (MASTEL) Buku Putih (White Paper) ICT Industry Outlook 2021 mengungkapkan perkembangan industri Indonesia, termasuk smartphone. Dalam penyusunan laporan ini, MASTEL melibatkan Asosiasi Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI), Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (APJATEL), Asosiasi IoT Indonesia (ASIOTI), Asosiasi e-Commerce Indonesia (IDEA), Asosiasi Data Center Indonesia (IDPRO), dan pihak lainnya.

“Industri telekomunikasi dan informasi memang mencakup lini bisnis yang sangat luas. Namun, kita bisa menggunakan sejumlah indikator untuk melihat proyeksi industri di 2021. Penetrasi fixed broadband diperkirakan akan melonjak dari 13% pada 2019 menjadi 20% pada 2022. Begitu pula dengan jumlah pengguna ponsel pintar (smartphone) yang diperkirakan terus meningkat dan menembus angka 210 juta pada 2021,” ungkap Kristiono selaku Ketua Umum MASTEL periode 2018 – 2021 yang juga menulis Buku Putih (white paper) ICT Industry Outlook 2021 ini.

Baca juga :  Oppo 2022: Eksplorasi dan Kolaborasi Ekosistem 5G

Sekedar informasi, Kristiono menjabat sebagai ketua umum MASTEL pada periode 2018-2021. Selanjutnya, dalam Musyawarah Nasional (Munas) ke-10 MASTEL pada April 2021 ini terpilihlah Sarwoto Atmosutarno sebagai Ketua Umum MASTEL untuk periode 2021 – 2024.

Laporan Buku Putih ICT Industry Outlook 2021 ini memprediksikan pangsa pasar IoT di Indonesia diperkirakan mencapai Rp355 triliun pada 2022 dengan 400 juta perangkat yang terkoneksi. Dalam perkembangan IoT, 5G dapat mendorong penggunaan IoT dengan ditawarkannya network slicing untuk meningkatkan performa dan endpoint density.

Baca juga :  Poco M4 Pro 5G Meluncur Akhir Oktober?

Dengan begitu, terciptalah ekosistem yang lebih intelligent dan peluang yang lebih luas lagi bagi IoT. Secara global, 5G telah mengalami peningkatan penggunaan melalui smartphone subscriptions, meski untuk di Indonesia sendiri, penerapan 5G masih mengalami perkembangan yang cukup lamban.

“Industri perangkat telekomunikasi di Indonesia saat ini kian tertekan oleh pabrikan asing yang punya modal lebih besar apalagi adanya kebutuhan setiap tahun terhadap perangkat smartphone baru di Indonesia yang jumlahnya sekitar 20 juta. Menurut data Statista, jumlah  perangkat smartphone di Indonesia tahun 2020 sejumlah 191 juta dan akan meningkat menjadi 210 juta selama tahun 2021 ini. Statista juga memprediksikan jumlah pengguna smartphone di Indonesia mencapai 256,11 juta hingga tahun 2025 mendatang,” jelas Kristiono.

Menurut Kristiono, hal lain yang perlu diperhatikan adalah komitmen pemerintah untuk mengalokasikan anggaran riset untuk membangun perangkat berteknologi tinggi beserta ekosistem penunjangnya demi mengurangi ketergantungan terhadap pihak asing.

“Industri device, termasuk smartphone di Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi perakit saja dan hanya memenuhi tingkat TKDN yang disyaratkan. Namun, lebih daripada itu agar industri perangkat nasional dapat kembali tumbuh dan berkembang perlu berkolaborasi dengan industri global. Harapannya, ini bisa menumbuhkan ekosistem industri perangkat, termasuk smartphone di Indonesia sehingga memberikan nilai tambah pemenuhan pasar lokal dan ekspor. Pada gilirannya, kondisi akan menunjukkan pertumbuhan R&D perangkat di Indonesia serta adanya alih teknologi dan peningkatan skill dari SDM lokal di Indonesia,” papar Kristiono.

Laporan tersebut juga menekankan pentingnya membahas lagi skema TKDN perangkat baik yang berbasis software dan hardware. Begitu juga pola industri perakitan perangkat nasional di Indonesia, terutama di tahun 2021 ini, diharapkan Indonesia dapat berperan serta aktif dalam penyediaan perangkat ICT baik untuk pasar domestik maupun ekspor secara global.

Artikel Terbaru