spot_img
BerandaNewsFeatureDari IPO yang Gagal dan Divestasi Paksa: Warisan Zhang Yimin di ByteDance

Dari IPO yang Gagal dan Divestasi Paksa: Warisan Zhang Yimin di ByteDance

-

Jakarta, Selular.ID – Jumat pekan lalu (21/5), pendiri ByteDance Zhang Yimin mengumumkan pengunduran diri sebagai kepala eksekutif dari perusahaan yang dibentuknya satu dekade lalu. Keputusan ini terbilang mengejutkan, mengingat ByteDance yang meraksasa karena layanan video pendek TikTok, tengah dibekap dengan beragam persoalan.

Salah satu persoalan yang mengemuka adalah divestasi yang diwajibkan pemerintah AS kepada perusahaan yang berbasis di Beijing itu. Namun hingga lengsernya Presiden Donald Trump pada Januari lalu, rencana pembelian TikTok yang dikelola ByteDance oleh sejumlah raksasa teknologi AS, seperti Microsoft dan Oracle jalan di tempat. Begitu pun dengan barisan pemodal ventura kakap, seperti General Atlantic dan Sequoia Capital, yang memiliki ketertarikan sama. 

Analis menilai bahwa mandeknya proses divestasi, karena ByteDance belum menemukan cara yang memuaskan untuk merestrukturisasi bisnisnya guna memenuhi persyaratan regulasi di China dan AS. Salah satu tantangan utama terletak dalam memisahkan operasi Douyin yang berbasis di China dari operasi global TikTok. Pasalnya kedua aplikasi besutan ByteDance itu berbagi algoritme yang sama.

Sebelumnya AS berencana membatasi TikTok. Alasannya tidak beda dengan pemblokiran Huawei, yakni ancaman keamanan nasional. Washington khawatir TikTok membagikan data pengguna ke pemerintah China. Untuk bisa beroperasi di negara itu, AS mensyaratkan ByteDance harus mendivestasi TikTok kepada perusahaan setempat. 

Divestasi paksa operasi TikTok AS yang dimulai di bawah pemerintahan Trump kini terkendala karena perubahan kebijakan. Presiden Biden terlihat masih ragu-ragu menghentikan tindakan hukum tersebut, tetapi masih meninjau masalah aplikasi China. Berbeda dengan AS, India telah melarang TikTok bersama dengan lusinan aplikasi China lainnya tahun lalu dengan alasan keamanan nasional.

ByteDance adalah hektocorn pertama dan satu-satunya di dunia, perusahaan rintisan swasta yang bernilai lebih dari US $ 100 miliar. ByteDance bernilai sekitar US $ 140 miliar pasca penggalangan dana pada 2020 ketika Tiger Global Management mendukung perusahaan tersebut. 

Sejumlah pemodal ventura terbesar di dunia tercatat sebagai investor, termasuk SoftBank, General Atlantic, dan Sequoia. ByteDance sejauh ini telah mengumpulkan sekitar US $ 4,4 miliar dalam 11 putaran penggalangan dana.

Harian yang berbasis di Hong Kong, SCMP sebelumnya melaporkan bahwa perusahaan, yang valuasinya mendekati US $ 400 miliar untuk investor baru, mempertimbangkan untuk go public baik di Hong Kong atau New York. Namun perusahaan mengatakan pada akhir bulan lalu bahwa mereka belum siap untuk mengajukan IPO pada tahap itu dan tidak memiliki rencana IPO dalam waktu dekat, tanpa menjelaskan lebih lanjut.

ByteDance mengoperasikan portofolio bisnis yang luas termasuk aplikasi video selular bentuk pendek TikTok yang viral, dan versi khusus China Douyin, platform penemuan konten Jinri Toutiao, layanan media sosial Helo, bisnis alat kerja Lark, dan perusahaan layanan platform BytePlus.

Sebagai sinyal bahwa bisnis tersebut semakin matang dan mendiversifikasi struktur modalnya, ByteDance yang berdomisili di Kepulauan Caymen mengambil pinjaman US $ 1,3 miliar dari HSBC, Goldman Sachs, Bank of America, dan bank lain pada 2019. 

Baru-baru ini, Chew Shou Zi dari pembuat smartphone Xiaomi didapuk sebagai kepala keuangan. Namun, perusahaan terus menghadapi hambatan, tak hanya di luar negeri, namun juga dalam negeri.

Seperti diketahui, perusahaan raksasa China telah menghadapi peraturan antitrust yang lebih ketat karena Beijing menempatkannya sebagai salah satu fokus pemerintahan pada tahun ini. Sejumlah pemain besar termasuk Alibaba Group Holding dan Tencent Holdings, Baidu dan Didi Chuxing telah didenda karena merger dan akuisisi yang tidak dilaporkan.

Meski meninggalkan warisan yang pelik, bagaimana pun Zhang Yimin telah membawa ByteDance sebagai perusahaan teknologi kelas dunia. Produk ByteDance tersedia di lebih dari 150 pasar dan pada tahun 2020 memiliki lebih dari 100.000 karyawan. Dengan 689 juta pengguna aktif global pada Januari 2021, TikTok menempati peringkat ke-7 jejaring sosial yang paling banyak digunakan di dunia. 

Meroketnya jumlah pengguna, pada gilirannya mendongkrak pendapatan ByteDance. Tercatat pada 2020 mencapai US $ 37 miliar, empat kali lebih besar dari saingannya yang lebih kecil Kuaishou Technology, The Information melaporkan pada bulan Januari.

Sebelumnya Asia Financial Report, melaporkan pada 2019, ByteDance membukukan pendapatan sebesar US$ 16 miliar. Diprediksi pendapatan ByteDance akan meningkat pada tahun ini, imbas pandemi corona yang memaksa penduduk dunia lebih banyak beraktifitas dari rumah.

Meroketnya kinerja ByteDance, terutama dari sisi pendapatan, turut mengantarkan Zhang sebagai hartawan. Menurut Forbes, Zhang yang baru genap berusia 38 tahun pada bulan lalu, memiliki kekayaan bersih US $ 35,6 miliar. Pundi-pundi uang sebanyak itu menempatkan Zhang sebagai miliader baru di Beijing, China.

Forbes mencatat, sepanjang 2020, terdapat 67 miliarder di Beijing. Namun kini berdasarkan laporan terbaru media ekonomi terkemuka AS itu, jumlahnya telah melonjak tajam menjadi 100 hartawan. Salah satunya adalah Zhang Yiming, pria yang mengawali karir sebagai  karyawan biasa di website untuk booking perjalanan, Kuxun pada 2006.

spot_img
spot_img

Artikel Terbaru