Monday, September 21, 2020
Home News Feature Adu Cepat Huawei vs Apple di Pasar Handset 5G

Adu Cepat Huawei vs Apple di Pasar Handset 5G

-

Jakarta, Selular.ID – Didorong oleh dua pabrikan utama, Huawei dan iPhone 12 yang merupakan smartphone terbaru Apple, produksi handset 5G diperkirakan akan mencapai 235 juta unit dengan tingkat penetrasi 18,9 persen pada akhir tahun ini.

Menurut kajian firma riset TrendForce, dipimpin oleh Huawei, merek-merek China diperkirakan akan menempati empat dari enam tempat teratas merek ponsel pintar 5G yang diperingkat berdasarkan volume produksi.

Huawei telah mengalihkan fokusnya ke pasar domestik karena tekanan dan sanksi AS. Komersialisasi 5G di China pada Oktober tahun lalu, membuat Huawei terus menggenjot produksi handset 5G. Vendor yang berbasis di Shenzen ini, diperkirakan akan memproduksi sekitar 74 juta smartphone 5G sepanjang 2020.

Setelah Huawei, Apple diprediksi juga ikut merajai pasar smartphone 5G. Produksi smartphone 5G tahunan Apple diperkirakan mencapai sekitar 70 juta unit pada 2020, yang menempatkan pembuat iPhone itu di posisi kedua.

“Fitur 5G akan meningkatkan biaya produksi smartphone yang sesuai. Jika Apple memutuskan untuk secara langsung mencerminkan biaya tambahan ini pada harga eceran seri iPhone 12, hal itu dapat menurunkan kesediaan konsumen untuk membeli, yang pada gilirannya mempengaruhi kinerja penjualan iPhone baru, “kata laporan TrendForce itu.

Setelah Huawei dan Apple, raksasa Korea Samsung juga akan menjadi pemain kunci dalam pasar smartphone 5G. Produksi berbagai perangkat 5G dari chaebol yang bermarkas di Seoul itu pada tahun ini,  diperkirakan mencapai 29 juta unit, menempatkan perusahaan di tempat ketiga secara global.

Selanjutnya Vivo, OPPO (termasuk OnePlus, OPPO, dan Realme) dan Xiaomi berada tempat keempat. Volume produksi smartphone 5G tahunan vendor-vendor itu, diproyeksikan masing-masing mencapai sekitar 21 juta, 20 juta, dan 19 juta unit.

5G tetap menjadi topik hangat di pasar ponsel pintar tahun ini, karena merek ponsel pintar dan produsen prosesor seluler, seperti Qualcomm dan MediaTek, berupaya untuk memperluas pangsa pasar mereka di pasar 5G.

“Dengan demikian, merek-merek China, yang berada di depan para pesaing mereka dalam strategi 5G, menempati 75 persen saham di pasar ponsel pintar global 5G pada paruh pertama 2020,” ungkap TrendForce.

Laporan tersebut memperkirakan bahwa dorongan agresif oleh produsen prosesor mobile akan mengarah pada kehadiran chipset 5G yang meningkat pesat di pasar menengah ke bawah, mendorong produksi smartphone 5G untuk melampaui 500 juta unit pada 2021. Angka itu berpotensi sekitar 40 persen dari total pasar ponsel cerdas.

Kekuatan Huawei

Dengan semakin banyaknya negara, terutama front liner yang mengaktifkan 5G seperti China, Korea Selatan, Hong Kong, Taiwan, Korea Selatan, Jepang dan Singapura, pasar smartphone 5G juga semakin membesar.

Dalam kajian Strategy Analytics, semua vendor papan atas  terus berupaya untuk memperkuat pijakan di pasar baru dengan beragam teknologi. Namun seperti halnya TrendForce, lembaga riset konsumer terkemuka itu, meyakini bahwa Huawei akan muncul sebagai pemenang utama dalam perlombaan 5G.

Dalam sebuah pernyataan, firma analis mengatakan bahwa Huawei berada pada posisi terbaik untuk menangkap lebih banyak penjualan ponsel pintar 5G China yang merupakan pasar smartphone terbesar di dunia.

Huawei dapat memanfaatkan keberhasilan itu untuk mendorong posisi yang lebih baik di pasar global yang belakangan menurun gara-gara sanksi dari AS.

Menurut Ville Petteri-Ukonaho, Associate Director Strategy Analytics, tak diragukan lagi bahwa China akan memegang kunci volume penjualan perangkat 5G pada 2020 mendatang.

“Perusahaan yang dapat meraih pangsa pasar perangkat 5G terbanyak, tentunya akan memiliki pengaruh besar untuk menggerakkan kurva belajar (learning curve), baik dari sisi produksi maupun penyebaran perangkat 5G”, ujar Ville.

Di sisi lain, SVP Strategy Analytics, David Kerr mencatat bahwa vendor Korea Selatan Samsung saat ini adalah perusahaan perangkat 5G terkemuka. Sayangnya, Samsung saat ini hanya memiliki 1% pangsa pasar di China.

Karena China diperkirakan akan menjadi pasar smartphone 5G terbesar, maka jalur ini menjadi jelas bagi Huawei untuk mengambil keuntungan.

“Huawei semakin mempercepat dan mengintensifkan upayanya di pasar dalam negeri untuk menghadapi ketidakpastian internasional,” kata David Kerr.

David menambahkan, sejak Q2 2019, Huawei telah memperluas pangsa pasar ponsel pintar di pasar domestik menjadi hampir 40%, jauh melampaui semua pesaing lainnya.

“Jika China memenuhi target agresifnya, Huawei dapat memotong kepemimpinan Samsung 5G secara mendalam, memposisikannya untuk pemulihan dan pertumbuhan di Eropa Barat dan pasar global lainnya”, pungkas David Kerr.

Saat ini meski dalam tekanan geopolitik karena selalu dikaitkan dengan aksi spionase China, Huawei masih tetap bertaji. Malahan vendor yang identik dengan warna merah menyala itu, mampu menyalip Samsung sebagai vendor satu di dunia pada kuartal kedua 2020.

Hal itu disebabkan mayoritas penjualannya melonjak di China. Huawei menjual lebih dari 70% smartphone di daratan China pada kuartal II-2020. Sementara itu, pengiriman smartphone di pasar internasional anjlok 27% YoY di kuartal April hingga Juni.

jumlah penduduk China yang besar membuat penjualannya di China saja melesat signifikan. Sehingga mendorong kesuksesan perusahaan merebut jumlah pangsa pasar global.

Menurut Canalys, smartphone Huawei telah terjual sebanyak 55,8 juta perangkat. Meskipun angka itu turun 5% year on year (yoy), jika dibandingkan dengan penjualan Samsung, Huawei lebih unggul. Pada periode yang sama Samsung menjual 53,7 juta perangkat, 30% lebih rendah dari tahun lalu.

Analis riset Flora Tang mencatat China telah menjadi pasar paling penting Huawei karena kinerjanya di luar negeri dipengaruhi oleh hambatan dalam mengakses layanan Google.

Ia mencatat “investasi besar”  Huawei dalam memperluas dan jaringan distribusi offline “terbayar” seiring dengan pertumbuhan portofolio 5G, yang mengakibatkan vendor mengambil 60 persen penjualan perangkat ini.

Namun, analisis dari Canalys Mo Jia memperkirakan bahwa kekuatan Huawei tidak akan bertahan lama. Dia mengungkap jika hanya mengandalkan penjualan di China tidak akan cukup menopang Huawei secara global selanjutnya.

“Akan sulit bagi Huawei untuk mempertahankan keunggulannya dalam jangka panjang. Kekuatan di China saja tidak akan cukup untuk menopang Huawei di puncak begitu ekonomi global mulai pulih,” kata Mo Jia.

Apple Semakin Berotot

Saat Huawei beralih fokus ke pasar domestik dan semakin digdaya karena besarnya pasar China, iPhone besutan Apple juga diuntungkan dengan persepsi sebagai merek smartphone paling diidamkan konsumen, bahkan oleh masyarakat China sendiri.

Hal ini terlihat sepanjang Q2-2020, penjualan iPhone melesat di negeri Tirai Bambu melesat. Padahal secara keseluruhan permintaan smartphone di China melemah karena covid-19.

Menurut laporan Counterpoint Research, bersama dengan Huawei, Apple mencatat pertumbuhan kuat dalam penjualan ponsel cerdas China selama Q2, mengalahkan penurunan keseluruhan 17 persen tahun-ke-tahun.

Pencapaian itu menempatkan Apple sebagai vendor dengan pertumbuhan tercepat selama periode tersebut, dengan penjualan naik 32 persen dan pangsa pasar meningkat dari 6 persen pada Q2 2019 menjadi 9 persen. Penjualan Huawei tumbuh 14 persen, mengambil bagiannya dari 33 persen menjadi 46 persen. Di sisi lain penjualan Vivo turun 29 persen, Xiaomi 35 persen, dan gabungan mereka lainnya termasuk Oppo anjlok 31 persen.

Tak hanya di China, Apple juga memperkuat posisi di Asia dengan kuatnya permintaan terhadap iPhone. Bahkan penjualan iPhone (di luar China) mencatat rekor di kawasan ini. Tercatat Apple membukukan pendapatan dua digit dan laba di Q3 2020 fiskal (periode dari 29 Maret hingga 27 Juni).

Pada panggilan pendapatan, CFO Luca Maestri mengatakan pihaknya menetapkan rekor pendapatan sepanjang masa di Jepang dan seluruh Asia Pasifik. Pendapatan di Jepang meningkat 21,7 persen tahun-ke-tahun menjadi $ 4,97 miliar dan 17 persen di seluruh Asia Pasifik menjadi $ 4,2 miliar.

Tiongkok Raya, yang meliputi daratan, Taiwan dan Hong Kong, adalah wilayah pertumbuhan Apple yang paling lambat, dengan penjualan naik 1,9 persen menjadi $ 9,3 miliar.

Maestri mengatakan fluktuasi nilai tukar mata uang mempengaruhi hasil-hasilnya, mencatat dalam mata uang konstan pendapatan Cina tumbuh 6 persen. Dia mengatakan iPhone 11 adalah ponsel terlaris di perkotaan Cina dan Apple memiliki lima dari enam smartphone terlaris di Australia.

Latest