Wednesday, July 15, 2020
       
Home News Feature Mencermati Agresifitas Vivo di Pasar Smartphone 5G

Mencermati Agresifitas Vivo di Pasar Smartphone 5G

-

Jakarta, Selular.ID – Vivo memenuhi janji dengan meluncurkan lebih banyak smartphone 5G pada 2020. Pada Jumat lalu (24/4), vendor yang berbasis di Shenzen itu, memperkenalkan perangkat 5G di bawah sub-merek iQOO, melanjutkan ambisi untuk mengambil posisi terdepan di pasar ponsel cerdas 5G.

Spesifikasi untuk iQOO NEO 3 5G ditampilkan di situs web vendor China itu. Smartphone 5g terbaru Vivo itu, sudah dibenamkan prosesor Qualcomm Snapdragon 865; menawarkan 6,57 inci, resolusi FHD + dan layar HDR10 + yang kompatibel, dengan kecepatan refresh 144Hz; serta dilengkapi dengan Universal Flash Storage 3.1.

Neo 3 5G juga sudah mengusung fitur “sistem pendingin cair 11-lapisan”, yang menghilangkan panas dari smartphone ketika digunakan untuk tugas-tugas intensif.

Di sektor kamera, Neo 3 5G dilengkapi pengaturan kamera belakang tiga lensa terdiri dari lensa utama 48MP, sudut lebar 8MP, dan 2MP, sedangkan kamera depan memotret dengan unit 16MP.

Fitur lain termasuk sensor sidik jari sisi-dimuat, buka kunci muka, Android 10, Wi-Fi 6, baterai 4500mAh dan pengisian kabel 44W.

Opsi memori termasuk 6GB dengan penyimpanan 128GB dengan harga CNY2.698 ($ 381,20); 8GB / 128GB untuk CNY2,998; 12GB / 128GB pada CNY3,298; dan 8GB / 256GB untuk CNY3,398. Neo 3 5G menawarkan dua opsi warna, masing-masing warna gelap dan biru muda, dengan ketersediaan unit di pasar domestik mulai 29 April 2020.

Dengan hadirnya Neo 3 5G, sejak September 2019 hingga kuartal pertama 2020, Vivo sudah meluncurkan enam perangkat 5G. Sebelumnya ada iQOO 5G, NEX3 5G, X30 5G, Z6 5G, dan S6 5G.

Demi mengambil posisi terdepan, Vivo memang sejak awal bertekad lebih agresif di pasar smartphone 5G. Vendor yang identik dengan warna biru itu, telah menyiapkan sejumlah varian dengan fokus utama pada segmen menengah, dengan lebih terjangkau di kantong konsumen.

Pulih Dari Corona

Strategi Vivo mempercepat peluncuran Neo 3 5G, tak lepas dari kondisi makro yang semakin membaik. Tercatat, pengiriman smartphone 5G di China selama Maret 2020 menunjukkan tanda-tanda pemulihan, setelah penurunan tajam pada Februari lalu. Demikian data yang diungkap oleh Akademi Teknologi Informasi dan Komunikasi China (CAICT).

Setelah berakhirnya kebijakan lockdown selama wabah puncak Covid-19 (coronavirus) dan toko-toko dibuka kembali, pengiriman smartphone 5G mencapai 6,21 juta unit bulan lalu dibandingkan dengan 2,38 juta pada Februari.

Terlepas dari dampak negatif dari pandemi, pengiriman Q1 mencapai 14,06 juta unit, melampaui total 13,8 juta di seluruh 2019. Vendor meluncurkan 43 model 5G pada kuartal terakhir dibandingkan dengan 35 pada 2019.

Sebelum wabah corona menyebar ke seluruh negeri, pasar smartphone 5G mulai bergairah setelah tiga operator utama negara itu meluncurkan teknologi mobile generasi berikutnya pada 31 Oktober 2019.

Tercatat pengiriman peranti 5G di negara itu berlipat dua bulan ke bulan di November 2019 menjadi 5,1 juta. Permintaan semakin melonjak, yakni 5,4 juta dikirimkan pada Desember 2019 dan 5,5 juta pada Januari.

Sebelumnya para vendor smartphone mulai merilis model 5G di China pada bulan Agustus setelah batch pertama dari smartphone diberikan sertifikat kualitas.

Pada kuartal pertama, model 5G menyumbang 29,5 persen dari total pengiriman smartphone 47,7 juta unit, dengan yang terakhir turun 34,7 persen tahun-ke-tahun.

Seiring dengan meningkatnya permintaan, kue smartphone 5G memang semakin gurih bagi vendor ponsel. Perusahaan jasa keuangan, perbankan dan investasi yang berbasis di AS, Goldman Sachs, bahkan memperkirakan pengiriman smartphone 5G secara global, bisa mencapai 200 juta unit sepanjang 2020. Dengan hampir setengahnya diserap oleh China.

Nilai tersebut sekitar 20 kali lebih banyak dari angka penjualan 2019. Perkiraan bahwa 2020 menjadi titik balik bagi penjualan smartphone 5G, didasarkan pada meluasnya pembangunan BTS 5G dan agresifitas vendor-vendor China yang mengguyur pasar dengan produk-produk baru.

Sekedar diketahui, setelah komersialisasi 5G pada Oktober tahun lalu, China terus menggenjot pembangunan jaringan 5G. Dilansir dari Reuters, Beijing telah lama mempertimbangkan membangun 5G harus menjadi prioritas strategis, menyusul pembentukan jaringan 3G yang relatif terlambat.

Menurut laporan Kementerian Industri dan Teknologi Informasi (MIIT), China telah membangun 130.000 BTS sepanjang 2019. Angka itu diproyeksikan meningkat menjadi lebih dari 600.000 unit pada akhir 2020. Hal ini menunjukkan, investasi akan terus digelontorkan tanpa terpengaruh wabah corona.

Dengan kue yang semakin membesar, persaingan di ranah 5G kini tak hanya didominasi oleh vendor-vendor yang sudah mapan, seperti Samsung dan Huawei. Namun juga Oppo, Vivo, dan Xiaomi. Bahkan, vendor-vendor di lapis ketiga mulai unjuk gigi. Seperti yang ditunjukkan oleh Realme, TCL, Coolpad, ZTE, Nokia dan Motorola. Persaingan akan semakin memanas, saat vendor terbesar ketiga di dunia Apple, diprediksi akan melepas peranglkat 5G-nya pada September 2020.

Perkuat Kolaborasi

Faktor harga memang membuat smartphone 5G terbilang belum popular. Rata-rata smartphone 5G saat ini berharga di atas 18 juta juta. Tengok saja salah satu varian ponsel 5G milik Samsung, yaitu Galaxy S10 5G yang dilego $1299 (Rp20 juta). Bahkan flagship Huawei, yakni Mate Xs 5G dibandrol hingga 38,9 juta.

Untuk bisa leading di pasar smartphone 5G dengan harga terjangkau, Vivo rajin melakukan kolaborasi dengan pemain vendor teknologi lainnya, seperti Qualcomm.

Pada pertengahan 2018, kedua perusahaan sukses mengintegrasikan susunan antena 28GHz di samping teknologi sub-6GHz dalam form factor tunggal, menandai apa yang disebut sebagai tonggak penting dalam desain perangkat 5G masa depan.

Dalam postingan di sebuah blog, VP Rekayasa Qualcomm Technologies Allen Tran mengatakan bahwa pencapaian tersebut sangat signifikan karena teknologi mmWave menyajikan sejumlah tantangan baru untuk desainer radio frequency (RF).

Pada September 2019, dalam sebuah briefing internal, GM Institut Riset Vivo Telecom Qin Fei, mengungkapkan bahwa kolaborasi perusahaan dengan Qualcomm sebagai faktor kunci dalam memungkinkannya untuk mengurangi biaya dan mencapai tujuan meluncurkan perangkat di China dengan harga sekitar CNY2,000 ($ 286).

Dia mengatakan bahwa Vivo akan “fokus pada membuat perangkat lebih terjangkau dan menawarkan pelanggan pilihan yang lebih luas”.

Qui mengatakan model Vivo sudah menyumbang setengah dari penjualan perangkat 5G di China, dengan mayoritas pembeli adalah gamer.

Rencana peluncurannya di luar China pada 2020 akan bergantung pada kesiapan jaringan, katanya. Seraya menambahkan, bahwa Vivo sedang mengembangkan model yang kompatibel dengan spektrum mmWave, dan fokus pada pasar Asia Pasifik dan Rusia.

Di dalam negeri sendiri, Vivo secara intensif menjalin aliansi dengan stake holder terkait. Salah satunya adalah China Mobile. Bersama operator selular terbesar di China itu, Vivo turut bergabung dalam program “China Mobile 5G Device Forerunner Initiative” yang dibentuk pada Februari 2018 .

Kolaborasi bertujuan mendukung perkembangan teknologi 5G secara global. Menggabungkan usaha pelaku industri, termasuk Vivo, program bersama ini diyakini akan mempercepat pengembangan perangkat 5G generasi lanjutan.

Shi Yujian, Senior Vice President and Chief Technology Officer Vivo mengatakan bahwa pertumbuhan industri smartphone semakin didorong oleh user experience, yang secara signifikan mengembangkan pengaruhnya terhadap produsen smartphone dalam standar dan regulasi terkait komunikasi.

“Bagi Vivo, 5G merupakan peluang sekaligus tantangan karena peralihan teknologi sejalan dengan perubahan pasar yang sangat cepat. Inovasi yang kontinuu adalah satu-satunya cara untuk terus maju di era dinamis saat ini,” ungkap Shi.

Jaringan 5G dikatakan Shi akan memberikan kecepatan lebih tinggi, interval lebih rendah dan bandwidth yang lebih besar dari sebelumnya. Sejalan dengan penerapan fitur utama dalam komunikasi mobile ini, perangkat 5G akan hadir dalam berbagai bentuk.

Melanjutkan AR/VR dan wearable yang terus berkembang, smartphone 5G akan terus menjadi platform inti bagi pengguna ponsel, dengan ukuran basis pengguna yang jauh lebih besar.

Vivo yakin smartphone 5G akan berlaku sebagai inti untuk Smart Sensors, Smart Control dan Smart Services. Smartphone akan mendeteksi dan menganalisa perilaku pengguna, membentuk pusat kendali untuk Internet of Things, dan menghadirkan layanan Artifical Intelligence yang semakin personal.

Bagaimana strategi Vivo di pasar smartphone 5G nasional? Mungkin saat ini masih terlalu premature. Namun kita bisa melihatnya kelak, setidaknya pada 2022, saat layanan 5G diprediksi sudah beroperasi secara komersial di Indonesia.

Upcoming Event

Upcoming Event

Latest