Tuesday, February 18, 2020
Home News Feature Mengungkap Rahasia Sukses Vivo: Runner Up di Indonesia dan India

Mengungkap Rahasia Sukses Vivo: Runner Up di Indonesia dan India

-

Jakarta, Selular.ID – Dengan semakin bergesernya pola komunikasi dari basic service (SMS dan voice) ke layanan data, GSM Association memprediksi jumlah pengguna smartphone di Asia Pasifik akan meningkat hingga 3,1 miliar pada 2020.

Pernyataan itu diungkapkan oleh Direktur Jenderal GSMA Mats Granryd, dalam ajang Mobile World Congress Shanghai 2016 (29/6/2016).

“Mobile merupakan alat utama untuk meningkatkan konektivitas dan akses internet ke seluruh penjuru Asia Pasifik. Mengantarkan manfaat sosial dan ekonomi untuk kawasan,” kata Mats.

Dalam catatan GSMA, Indonesia disebut akan menjadi kunci pertumbuhan layanan mobile di kawasan tersebut. Indonesia diprediksi akan menjadi salah satu dari empat negara dengan pasar terbesar dalam hal pengguna terbanyak.

Tiga negara lain dengan pasar mobile terbesar adalah China, India, dan Jepang. Jumlah pengguna dari empat negara itu sudah mencakup lebih dari tiga perempat dari total pengguna di kawasan Asia Pasifik.

Dengan potensi yang sangat besar itu, tak heran jika merek-merek smartphone dunia semakin bernafsu menggempur pasar Indonesia. Salah satunya adalah Vivo. Ibarat permainan ular tangga, kinerja Vivo terus menanjak, sejak pertama kali hadir di Indonesia pada 2015.

Berkat strategi yang konsisten dari sisi produk, promosi dan distribusi, pada akhir 2017, Vivo sudah menyodok ke posisi elit. Riset IDC menunjukkan, Vivo sudah menggenggam 11% pasar smartphone dan nangkring di posisi empat.

Padahal, di kwartal pertama 2017, penguasaan pasar Vivo tak lebih dari 4% dan masih di berada di peringkat ke 10. Pencapaian Vivo itu, terbilang istimewa karena mampu menjungkalkan banyak brand yang sebelumnya sudah kelotokan, seperti Lenovo, Evercoss, Advan, dan Asus.

Dengan momentum yang sudah tercipta, kinerja Vivo terus meningkat. Pada akhir 2018, meski masih berada di posisi empat, market share Vivo sudah membesar menjadi 15,9%.

Puncaknya pada kuartal ketiga 2019, Vivo mampu menorehkan sejarah baru dengan menduduki peringkat kedua di bawah Oppo.

Sesuai laporan IDC Q3-2019, penguasa pasar smartphone Indonesia resmi berganti. Setelah selama 6,5 tahun disandang Samsung, status itu kini diambil alih Oppo. Raksasa Korea Selatan itu bahkan terpental ke posisi tiga.

Sepanjang 2019, Vivo memang menghadirkan lebih banyak varian produk dengan keunggulan yang mengadaptasi kebutuhan konsumen tanah air.

Sejalan dengan fokus pada teknologi dan fashion, rangkaian produk vivo baik V-Series serta seri terbaru S-Series dan Z-Series pun menawarkan fitur-fitur terkemuka serta inovatif serta pertama bukan hanya di Indonesia namun juga secara global.

Edy Kusuma, Senior Brand Director vivo Indonesia, menuturkan sebagai brand teknologi, Inovasi penting bagi vivo untuk dapat terus berkembang.

“Strategi kami adalah memaksimalkan fungsi R&D untuk dapat terus menghadirkan pembaruan yang memberikan value lebih kepada konsumen. Tantangan ke depan adalah terus berinovasi, memproduksi produk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen, sekaligus terus mengeksplorasi tren teknologi lanjutan,” paparnya.

Sudah berada di posisi runner up, target Vivo tentu kini berubah. Vendor yang identik dengan warna biru itu, kini akan berusaha untuk mempertahankan posisi yang telah diraih, sekaligus berusaha menyodok posisi pertama yang kini digenggam Oppo.

Melonjak di India

Seperti halnya Indonesia, pencapaian Vivo di India juga fenomenal. Vendor yang berbasis di Shenzen itu, menciptakan sejarah dengan meraih tempat kedua di pasar ponsel pintar India untuk pertama kalinya pada kuartal keempat 2019.

Menurut laporan Counterpoint Research, Vivo meraih 21% pangsa pasar untuk mencapai tempat kedua, menggusur Samsung yang merosot ke tempat ketiga dengan 19%. Sementara Xiaomi kukuh bertengger di posisi puncak dengan 27% market share.

Oppo dan Realme adalah pemain lain dalam daftar 5 teratas, dengan perolehan masing 12% dan 8% pangsa pasar.

Tercatat, Vivo tumbuh 76 persen (year-on-year) di sepanjang 2019 dan 134 persen YoY di Q4 2019. Hal itu didorong oleh kinerja yang baik, terutama dari seri segmen budget dimana konsumen sangat berhati-hati dalam membelanjakan uangnya.

“Vivo secara jitu mampu mengeksplorasi pasar ke segmen online dan secara agresif memposisikan seri S di segmen offline dengan fitur-fitur baru. Strategi itu berhasil membuat perubahan pada smartphone di rentang harga Rs 15.000 hingga Rs 20.000,” kata Tarun Pathak, Associate Director Counterpoint.

Meski telah “nangkring” di posisi kedua, Vivo menilai bahwa jalan yang dilalui oleh perusahaan masih sangat panjang.

Menurut Nipun Marya, Direktur Strategi Brand Vivo India, tujuan perusahaan tidak hanya untuk meluncurkan perangkat baru, tetapi juga memberikan pelanggan pengalaman layanan purna jual yang lebih baik, yang merupakan moto utama perusahaan.

“Kami sangat fokus pada membawa inovasi baru untuk tetap terdepan di segmen smartphone,” kata Marya.

“Tujuan kami adalah memberikan layanan purna jual kelas dunia kepada konsumen yang selama ini telah menggunakan perangkat Vivo. Saya juga berterima kasih kepada mereka karena mempertahankan kepercayaan mereka pada merek,” tambahnya.

Selama empat tahun terakhir, Vivo telah tumbuh 24 kali di pasar India. Vivo hadir di lebih dari 70.000 outlet ritel di seluruh negeri.

Latest