Tuesday, April 7, 2020
Home Kaleidoskop Catatan Akhir 2019: Rapor Sub Brand, Siapa Berjaya Siapa Terpuruk?

Catatan Akhir 2019: Rapor Sub Brand, Siapa Berjaya Siapa Terpuruk?

-

Jakarta, Selular.ID – Sebagai negara dengan permintaan pasar terbesar keempat di dunia, Indonesia diprediksi akan terus menjadi bintang dalam industri smartphone global.

Besarnya kalangan muda usia, dibarengi dengan daya beli yang terus meningkat dan penetrasi smartphone yang masih terbilang rendah, menjadikan Indonesia lumbung pemasaran bagi merek-merek terkemuka.

Permintaan smartphone di pasar dalam negeri sebelumnya sempat melemah, pasca kebijakan TKDN 30% yang diberlakukan pemerintah, yakni periode 2015 – 2017. Namun kini pasar terbilang telah pulih. Tumbuh dua digit seperti tahun-tahun sebelumnya.

Lembaga survey pasar terkemuka, Canalys melaporkan bahwa Indonesia mencatat pertumbuhan tercepat dari sepuluh pasar smartphone global pada kuartal ketiga 2019, dengan pengiriman naik hingga 29 persen tahun-ke-tahun.

Dalam laporan itu, Canalys menyebutkan pengiriman mencapai 11,5 juta di Q3, dengan pertumbuhan tahunan yang meningkat dibandingkan dengan kuartal kedua, sebesar 10 persen.

Dengan pertumbuhan yang mengesankan, bukan tidak mungkin penjualan smartphone di akhir 2019, bisa melampaui tahun lalu yang mencapai 38 juta unit.

Keyakinan tersebut diutarakan oleh Nicole Peng, VP of Mobility Canalys. Menurutnya pasar Indonesia siap untuk memberikan “pertumbuhan yang kuat dalam 12 bulan ke depan berkat dorongan pemasaran dari vendor utama dan penyegaran produk yang cepat”.

Tak dapat dipungkiri, mesin pertumbuhan dipicu oleh beragam inovasi yang terus marak dalam tiga tahun terakhir. Mulai dari peningkatan pada fitur kamera, kualitas dan lebar layar, dukungan prosesor, kapasitas penyimpanan, hingga daya tahan batere.

Selain itu, kehadiran sub brand dari vendor-vendor raksasa, membuat pasar semakin dinamis. Meski sudah terbilang sesak, merek baru punya peluang untuk menggaet konsumen.

Walaupun pada dasarnya, kebanyakan mereka harus mengakuisisi pelanggan dari merek yang sebelumnya sudah mapan.

Seperti diketahui, untuk memikat segmen baru tanpa ‘mengganggu’ basis pasar yang sebelumnya sudah dikuasai, tiga brand smartphone terkemuka China, yakni Huawei, Xiaomi, dan Oppo, meluncurkan sub-brand sejak 2018.

Huawei menjadi brand yang pertama yang meluncurkan merek turunannya di Indonesia, Honor. Merek baru yang diluncurkan pada kuartal pertama 2018 itu, diposisikan bermain di segmen menengah. Sementara merek utamanya, Huawei tetap fokus pada segmen atas.

Langkah Huawei kemudian diikuti oleh Oppo menghadirkan sub brand Realme. Kehadiran Realme awalnya untuk menghadang agresivitas Xiaomi Redmi di India, sehingga produk-produk Realme kebanyakan dipasarkan secara eksklusif melalui jalur online.

Karena memiliki prospek yang dinilai baik, Realme yang diposisikan untuk pasar kelas mid to low end, kemudian merambah juga ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Di Indonesia sendiri, Realme mulai hadir pada kuartal terakhir 2018.

Xiaomi bereaksi dengan meluncurkan seri Poco untuk pasar kelas atas di India dan Indonesia. Pocophone resmi menyapa konsumen Indonesia pada Agustus 2018. Terakhir, Xiaomi malah menyapih Redmi sebagai sebuah brand yang mandiri.

Siapa Jawara?

Kini setelah lebih dari setahun berselang, bagaimana kinerja masing-masing sub brand itu?

Baik Honor maupun Pocophone ternyata belum mampu menjadi game changer.
Seperti halnya Huawei, Honor menawarkan produk-produk yang mumpuni. Namun persoalan manajemen, menjadi titik lemah dari Honor.

Awalnya, meski merupakan sub brand, manajemen memisahkan Honor sebagai institusi bisnis yang mandiri, terpisah dengan Huawei.

Untuk penjualan di Indonesia, Honor tak berafiliasi dengan induk perusahaannya tersebut. Honor lebih memilih menggandeng PT Icool International Indonesia sebagai distributor resmi.
Namun dalam perjalanannya, bisnis Honor tak berjalan mulus. Padahal diawal kehadirannya, Honor cukup mendapat respon positif dari konsumen Indonesia.

Persoalan yang membelit Huawei karena aksi boikot dari Amerika Serikat, menyebabkan Honor tak mendapat dukungan penuh dari kantor pusat. Jelas, berdampak pada pada operasional.
Banyak line up Honor urung diluncurkan. Membuat program marketing dan sales tidak mencapai target dari yang sudah ditetapkan.

Berbeda dengan Honor yang terjebak pada persoalan manajemen, mandeknya Pocophone lebih disebabkan oleh performa produk yang pada akhirnya mempengaruhi persepsi konsumen.
Sebagai smartphone flagship Xiaomi pertama yang masuk ke Indonesia, Pocophone F1 cukup menghentak, karena hadir dengan spesifikasi mentereng, namun harga miring.

Tak heran jika Pocophone ramai peminat pada penjualan perdananya di gerai online maupun offline, Kamis (30/8/2018).

Akan tetapi, pengalaman tak menyenangkan dialami seorang pembeli yang bertransaksi langsung di toko fisik Erafone. Kamera Pocophone F1 dikatakan bermasalah. Informasi ini pun menjadi viral dan momentum penjualan menjadi hilang.
Kualitas kamera yang dinilai buruk oleh sebagian konsumen, pada akhirnya membuat penjualan Pocophone di bawah standar.

Lembaga survey Canalys mengungkapkan, pengiriman Pocophone kurang dari 130.000 unit pada paruh kedua 2018. Kejadian bug atau error pada menu kamera, berujung pada sepinya peminat smartphone ini di Indonesia.

Nah, dari ketiganya, Realme bisa dibilang menjadi jawara. Sesuai laporan IDC Q3-2019 yang diumumkan pada Oktober lalu, secara tak terduga, realme naik ke posisi empat dalam daftar Top 5 Smartphone Brand di Indonesia.

Menurut  IDC, realme yang pada akhirnya disapih oleh Oppo, mengalami pertumbuhan yang sangat cepat di pasar smartphone di Indonesia.
Brand yang baru seumur jagung itu, berhasil mencatat peningkatan penjualan hingga 2x lipat atau merebut pangsa pasar smartphone Indonesia sebanyak 12,6% hanya dalam waktu satu kuartal.

Sebelumnya dalam laporan IDC Q2-2019, realme berhasil mendapatkan pangsa pasar 6,1% dan pada Q1-2019 realme mendapatkan 1,4% pangsa pasar dan dibandingkan dengan Q1-2019, realme mengalami pertumbuhan sebesar 900% pada Q3-2019.

Risky Febrian, Market Analyst IDC Indonesia mengungkapkan bahwa realme berkompetisi secara agresif sehingga naik ke peringkat keempat. Realme mampu mengapalkan dengan masif smartphone di rentang harga USD 100 – 200.

TERBARU

Vivo Y50 Meluncur di Kamboja

Jakarta, Selular.ID - Selain meluncurkan V19 versi global, Vivo juga memperkenalkan perangkat menengah baru,...

Google Tingkatkan Keamanan Face Unlock Pixel 4

Jakarta, Selular.ID - Pixel 4 dirilis pada Oktober 2019, dan pada 6 April, Google...

Zoom Tambah Fitur Keamanan

Jakarta, Selular.ID - Dalam upaya untuk mencegah Zoombombing, dengan orang tidak bertanggung jawab dan...

Latest