Sunday, June 7, 2020
Home News Feature Ahmad Al-Neama Menatap Optimis Kinerja Indosat Ooredoo 2020

Ahmad Al-Neama Menatap Optimis Kinerja Indosat Ooredoo 2020

-

Jakarta, Selular.ID – Sore itu (11/12) ada yang berbeda di pendopo Pura Mangkunegaraan, Solo. Puluhan awak media dari berbagai kota di Indonesia, berkumpul bersama di istana raja-raja Surakarta yang masih berdiri megah sejak dibangun pertama kali pada 1757.

Para jurnalis dan blogger itu, menantikan kehadiran petinggi-petinggi Indosat Ooredoo, yang akan memberikan penjelasan secara lengkap. Menyangkut kinerja perusahaan sepanjang 2019 dan prospeknya pada 2020.

Acara bertajuk Kumpul Media 2019 itu, pada akhirnya dibuka sekitar pukul 16.15, dan langsung dipandu oleh SVP Corporate Communication Indosat Ooredoo Turina Farouk.

Dalam forum ini, hampir semua petinggi Indosat Ooredoo hadir. Masing-masing Ahmad Abdulaziz Al-Neama (President Director/CEO), Eyas Naif Saleh Assaf (Director/Chief Finance Officer), Arief Musta’in (Director/Chief Innovation and Regulatory Officer).

Juga ada Vikram Sinha (Director/Chief Operating Officer), Thomas Chevane (Chief Strategy and Experiece Officer), Dejan Kastelic (Chief Technology and Information Officer), Hendry Mulya Syam (Chief Sales and Distribution Officer), Rietesh Kumar Singh (Chief Marketing Officer), dan Intan Abdams Katoppo (Chief Business Officer).

Turina menyebutkan bahwa ini adalah pengalaman langka. Pasalnya, di luar acara internal, hampir semua petinggi Indosat Ooredoo berada dalam satu panggung.

“Hadirnya pimpinan puncak Indosat Ooredoo di Kumpul Media 2019, membuktikan bahwa peran para jurnalis sangat penting dalam memperkuat reputasi perusahaan yang sudah dibangun selama ini”, ujar Turina.

Kebetulan pula, pada November lalu, Indosat Ooredoo genap berusia 52 tahun. Perusahaan mengusung tagline “Untuk Indonesia”.

Meski singkat, slogan ini memiliki makna yang sangat dalam. Karena menunjukkan bahwa sepanjang perjalanan sebagai operator telekomunikasi, Indosat Ooredoo terus bertransformasi dan berusaha memberikan layanan terbaik bagi masyarakat Indonesia.

Walaupun dalam beberapa tahun terakhir pertumbuhan industri telekomunikasi tak lagi seperti dulu. Operator saat ini menghadapi tantangan yang tak ringan.

Kehadiran OTT terutama asing, seperti Facebook, Instagram, WhatsApp, Youtube, dan lain-lain, semakin menggerus pendapatan, terutama dari layanan dasar (suara dan teks) yang sebelumnya menjadi lumbung operator.

Agresifitas OTT dibarengi dengan kejenuhan pasar dan tarif yang rendah, membuat operator harus mampu menemukan kurva kedua sebagai jalur pertumbuhan baru.

Di sisi lain, kebijakan yang ditempuh pemerintah, terutama program registrasi prabayar, membuat pertumbuhan industri selular menjadi tersendat.

Bahkan berujung negative growth, sebesar -7,3% pada akhir 2018. Ini adalah kali pertama industri selular tumbuh minus, sejak teknologi analog NMT (Nordic Mobile Telephone) diperkenalkan pada 1983.

Kinerja Indosat Hingga Q3-2019

Bisa dibilang 2018 merupakan tahun terberat bagi operator di Indonesia. Jumlah pengguna keseluruhan operator anjlok. Tak tanggung-tanggung terpangkas hingga 94 juta. Alhasil, revenue menukik dari sebelumnya Rp 157 triliun pada 2017, menjadi hanya Rp 148 triliun pada akhir 2018.

Turunnya kinerja dialami oleh seluruh operator, termasuk Indosat. Anak usaha Ooredoo Qatar itu, bahkan mencatat rugi bersih Rp 2,4 triliun pada 2018. Padahal pada 2017, Indosat masih mencetak laba Rp 1,13 triliun.

Indosat tak sendirian dalam menanggung kerugian. XL Axiata juga mengalami hal yang sama. Anak perusahaan Axiata Malaysia itu, mencatat rugi bersih Rp 3,3 triliun pada akhir 2018. Berbanding terbalik dengan laba Rp 375,2 miliar pada 2017.

Sementara bagi Telkomsel, meski masih mendulang laba sebesar Rp 25,5 triliun, namun pertumbuhannya menurun dibandingkan tahun sebelumnya.

Diketahui, sepanjang 2018, pendapatan anak perusahaan PT Telkom itu mencapai Rp 89,3 triliun. Turun sebesar 4,18% dibandingkan dengan 2017 senilai Rp 93,2 triliun.

Ibarat pil pahit, program registrasi harus ditelan operator demi perbaikan kinerja. Namun tanda-tanda perbaikan mulai kelihatan pada 2019.

Saat ini costumer base yang dimiliki operator terbilang bersih, bukan sekedar klaim seperti sebelumnya.

Di sisi lain, perilaku pengguna sudah berbeda. Rata-rata sudah menjadi konsumen yang loyal alias tidak gonti-ganti kartu. Hal ini menurunkan churn rate yang sebelumnya berada pada kisaran 20% setiap bulannya karena maraknya penjualan kartu perdana murah.

Dari sisi tarif, meski saat ini masih marak promo, namun fenomena tersebut masih dalam tahap yang wajar. Operator tidak lagi jor-joran, karena harga yang ditawarkan cenderung akan semakin rasional, sehingga akan berdampak pada peningkatan revenue sekaligus laba bagi perusahaan.

Meski tren industri mulai memperlihatkan tanda-tanda pulih, Indosat masih harus berjuang untuk mengembalikan performa.

Data laporan keuangan per September 2019, perseroan masih menderita rugi bersih sebesar Rp 284,59 miliar. Namun sudah menyusut 82% dari rugi bersih sebelumnya Rp 1,54 triliun. Kerugian yang berhasil ditekan itu terjadi seiring dengan pendapatan perusahaan yang terus meningkat pada periode tersebut.

Program Strategis 2020

Perbaikan kinerja Indosat disampaikan langsung oleh Ahmad Al-Neama pada acara Kumpul Media 2019 di Solo. Dalam paparannya, Ahmad yang ditunjuk sebagai CEO pada Agustus lalu menggantikan Chris Kanter, mengakui bahwa 2019 merupakan tahun yang sangat menantang bagi operator telekomunikasi di Indonesia.

Menurut Ahmad, berkembangnya ekosistem digital karena meningkatnya populasi smartphone dan gaya hidup berbasis aplikasi, sesungguhnya memberikan peluang bagi operator untuk menggarap new business.

Jumlah pengguna data yang terus melonjak setiap tahunnya, diyakini akan menjadi penopang pertumbuhan operator setelah revenue dari basic service terus menurun.

Itu sebabnya, sepanjang 2019 Indosat sangat agresif membangun BTS 4G. Pada Q1, Indosat membangun 4.965 BTS. Lalu pada Q2 membangun 2.859 BTS dan Q3 sebanyak 4.443 BTS.

Peningkatan jumlah BTS pada akhirnya mampu mengatrol pendapatan. Ahmad yang baru genap berusia 38 tahun, menyebutkan bahwa trend revenue Indosat dari kuartal 1 sampai ketiga tahun 2019 yang terus tumbuh, mencapai 14,5% YTD (year to date).

Pertumbuhan yang dialami oleh Indosat itu, merupakan yang tertinggi dibandingkan dengan operator selular lainnya di Indonesia.

Pada kuartal satu 2019, Indosat meraup revenue Rp 4,858 miliar, lalu meningkat lagi di kuartal dua menjadi Rp 5,103 miliar dan pada kuartal ketiga sebesar Rp 5,123 miliar.

Dari sisi jumlah pelanggan, terjadi peningkatan dari Q1-2019 terdapat 53 juta pelanggan, naik menjadi 57 juta pelanggan di Q2 dan Q3 mencapai 59 juta.

“Memang tidak terlalu besar peningkatannya, tetapi itu membuktikan apa yang kami lakukan sudah dalam track yang benar,” ujar Ahmad.

Dengan tren yang menujukkan peningkatan, terutama dari sisi revenue, Ahmad meyakini perusahaan yang dipimpinnya akan menutup 2019 dengan kinerja positif.

Karenanya berbekal performa yang semakin membaik di tahun ini, Ahmad pun optimis kinerja Indosat Ooredoo akan kembali pulih pada 2020.

Untuk mengejar pertumbuhan, pihaknya telah menyiapkan sejumlah strategi yang dilakukan secara berkesinambungan dalam tiga tahun ke depan. Strategi itu mencakup berbagai aspek yang mendorong growth engines maupun enablers.

Dari sisi jaringan, Indosat akan melanjutkan pembangunan jaringan selular yang semakin berkualitas, guna mencapai level video mobile network mumpuni yang diyakini akan menjadi poin penting dalam kompetisi di pada 2020.

Dari sisi konsumen, Indosat akan terus fokus memberikan nilai lebih dalam produk yang akan diluncurkan agar dapat meningkatkan kepercayaan pelanggan. Indosat pun akan lebih agresif dalam layanan B2B, yang akan menjadi mesin pertumbuhan lain.

Untuk mendukung program-program startegis yang telah disusun tersebut, menyiapkan dana Capex selama tiga tahun sebesar USD 2 miliar atau sekitar Rp 30 Triliun selama periode 2019-2021.

Dana tersebut, menurut Ahmad, berasal dari dana yang direncanakan akan dipakai selama 2019, yakni sebesar Rp 10,7 triliun. Hingga September lalu, total Capex yang sudah terpakai sebesar Rp 8,7 triliun.

Ahmad juga mengungkapkan bahwa semua project yang dikerjakan oleh Indosat dalam pengembangan jaringan akan selesai pada 15 Desember 2019.

Strategi lain yang dilakukan Indosat adalah meningkatkan efisiensi, baik dari sisi Opex maupun Capex. Perusahaan juga memberikan kesempatan lebih banyak kepada masing-masing regional untuk melakukan ekskusi bisnis sesuai dengan kesempatan dan kapasitas yang dimiliki.

TERBARU

Perluas Bisnis, WhatsApp Buka Lowongan Kerja di Indonesia

Jakarta, Selular.ID - Facebook terus melirik pasar Indonesia. Kali ini, platform perpesanan WhatsApp dilaporkan...

Peluncuran iPhone 12 Akan Ditunda

Jakarta, Selular.ID - Usai banyaknya prediksi waktu peluncuran iPhone 12 yang beredar, Apple rupanya...

Samsung Galaxy Note 20 Bakal Dirilis Agustus Tahun ini?

Jakarta, Selular.ID - Meskipun situasi pandemi Covid-19 tak kunjung usai, Samsung dilaporkan bakal tetap...

Latest