Friday, December 6, 2019
Home News E-Commerce YLKI soal Habolnas: RUU Perlindungan Data Pribadi Harus Disahkan

YLKI soal Habolnas: RUU Perlindungan Data Pribadi Harus Disahkan

-

Jakarta, Selular.ID – Hari Belanja Online Nasional, setiap tanggal 11 November menjadi hal yang dinikmati bagi masyarakat yang gemar berbelanja online. Khususnya di kalangan generasi muda milenial.

Harga yang lebih efisien (murah) menjadi pertimbangan utama, apalagi masih diiming imingi diskon, cash back, pay later, dan lain-lain. Tidak heran jika strategi marketing, iklan dan promosi para pelaku market place di Indonesia makin ofensif menjerat calon konsumennya.

Namun dari momen yang terus digaungkan pemain berbasis daring (online, e-commerce)
setiap tahun ini, Tulus Abadi, Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menyoroti pemerintah supaya secara ketat mengawasi praktik belanja online.

Khususnya, Kementerian Perdagangan, Kementerian Kominfo, Otoritas Jasa Keuangan, Badan POM, dan kementerian atau lembaga lainnya yang berkompeten. “Kuatnya fenomena belanja online, ironisnya, justru tidak paralel dengan kuatnya pengawasan oleh pemerintah,” ujar Tulus dalam keterangannya.

Oleh karenanya, menurut Tulus dari sisi regulasi, sangat mendesak untuk segera mengesahkan RUU Perlindungan Data Pribadi, dan RPP Belanja Online. Kedua regulasi inilah yang akan secara kuat memayungi konsumen dalam transaksi belanja online.

Dikatakan Tulus, jika kedua regulasi ini tidak segera disahkan, sama artinya pemerintah melakukan pembiaran terhadap berbagai pelanggaran hak konsumen dalam transaksi belanja online.

Dan supaya masyarakat tidak terjebak atau konsumtif dalam berbelanja di momen Harbolnas, Tulus memberikan masukan supaya masyarakat jangan terjerat prilaku komsumtif.

Yang pertama, konsumen tetap harus mengedepankan perilaku belanja yang kritis dan rasional. Belanjalah berdasar pada kebutuhan (need) bukan keinginan (want). Jangan terjerat bujuk rayu diskon, sebab banyak diskon hanyalah gimmick marketing, alias diskon abal abal. Cermatilah bentuk bentuk diskon yang diberikan, termasuk jenis barang yang diberikan diskonnya. Konsumen juga jangan makin konsumtif berbelanja dengan iming iming paylater yang pada akhirnya akan terjerat hutang.

Baca Juga :Twitter: Perbincangan Belanja Meningkat 2x Lipat Selama Harbolnas

Kedua, konsumen juga harus mengedepankan kewaspadaan dan ekstra hati hati dalam belanja online. Cermatilah profil pelaku usaha dari market place yang menawarkan belanja online yang bersangkutan. Jangan sampai konsumen dirugikan oleh transaksi belanja online dari market place yang tidak kredibel. Alih alih konsumen malah tertipu. Sebab berdasar data pengaduan YLKI selama 5 (lima) tahun terakhir, pengaduan belanja online selalu menduduki rating tiga besar. Dan ironisnya prosentase pengaduan tertinggi yang dialami konsumen adalah barang tidak sampai ke tangan konsumen. Artinya masih banyak persoalan dalam belanja online dalam hal perlindungan konsumen;

Ketiga, para pelaku market place juga harus mengedepankan strategi promosi, iklan dan marketing yang bertanggungjawab, dan mematuhi regulasi yang ada. Bukan malah sebaliknya, iklan dan promosi yang membius konsumen yang beda beda tipis dengan aksi penipuan.

Latest