Saturday, December 7, 2019
Home News Feature Perang Megapixel Kamera : Gambar Sempurna atau Sekedar Gimmick?

Perang Megapixel Kamera : Gambar Sempurna atau Sekedar Gimmick?

-

Jakarta, Selular.ID – Diujung masa kejayaannya, Nokia masih sempat meluncurkan varian 808 PureView, sebuah smartphone berbasis sistem operasi (OS) Symbian dengan kamera 41 Mega Pixel (MP).

Kehadiran 808 PureView yang pertama kali dipamerkan pada ajang MWC Barcelona 2012, jelas mengundang decak kagum. Pasalnya, ini adalah kamera pertama dengan pixel sebesar itu di ranah smartphone. Padahal saat itu di pasaran, kamera yang dibenamkan rata-rata baru sebesar 12MP.

Wajar jika publik pun menjulukinya sebagai monster kamera. Nokia 808 PureView disebut mampu menandingi kamera DSLR. Seperti pengambilan gambar dengan zoom in, sehingga dapat mempertajam obyek meski diambil dari jarak yang cukup jauh.

Kamera PureView juga diklaim bekerja dengan baik dalam kondisi pencahayaan yang cukup sulit, seperti dalam kondisi sunset.

Dukungan lensa Carl Zeiss menawarkan kualitas gambar yang sangat jernih dengan detail yang memukau. Hasil jepretan PureView juga bisa dicetak dalam ukuran besar, tanpa noise yang berarti. Hal itu berkat teknik over sampling yang mampu menekan sedemikian rupa jumlah piksel yang dihasilkan dari suatu hasil pemotretan.

Fitur lain yang terbilang paling inovatif di jamannya adalah blur atau bokeh, yang sebelumnya hanya terdapat pada kamera profesional.

Kemampuan menghasilkan gambar bokeh ini, lantaran kamera PureView memiliki focal length hingga 8.02 milimeter, jauh diatas focal length smartphone berkamera saat itu, yang masih berkisar pada angka 4 milimeter.

Inovasi Nokia dalam pengembangan kamera, pada akhirnya mendorong perlombaan fitur dan teknologi kamera oleh vendor-vendor lain, terutama smartphone berbasis Android yang mulai unjuk gigi pada 2000.

Meski demikian, butuh waktu lima tahun bagi smartphone Android untuk bisa mengembangkan kualitas kamera sejajar dengan Nokia 808 PureView.

Dimotori oleh vendor-vendor China, barisan smartphone berkamera dengan mega pixel besar, mulai menggebrak pasar. Salah satu brand yang konsisten di jalur ini adalah Vivo.

Pada Februari 2017, dalam upaya menyodok posisi elit, Vivo mengguncang pasar dengan meluncurkan V5. Smartphone itu diklaim sebagai yang pertama di dunia dengan fitur 20 megapixel dual front camera softlight.

Setelah V5, Vivo berturut-turut memperkenalkan generasi selanjutnya dari varian V yang merupakan flagship dari vendor asal China itu.

Terdapat peningkatan di sana-sini, mulai dari, layar, dukungan prosesor, kapasitas penyimpanan, hingga daya tahan batere. Namun, peningkatan pada megapixel kamera masih menjadi jualan utama.

Masing-masing V9 (diluncurkan Maret 2018) dengan 24 megapixel dan V15 (diluncurkan Februari 2019) yang sudah dibekali 32 megapixel dengan kamera pop up.

Explorasi megapixel pada fitur kamera terus menjadi fokus Vivo, saat vendor yang berbasis di Shenzen itu, memperkenalkan generasi selanjutnya, yaitu V17 Pro.

Smartphone yang resmi melenggang di pasar pada 23 September 2019 itu, sudah diperkuat dengan kamera utama 48 megapixel.

Upaya Vivo mengeskplorasi kamera sebagai jualan utama, didukung gaya peluncuran yang bombastis dan promosi yang konsisten, nyatanya tidak sia-sia.

Pada akhir 2017, Vivo sudah menyodok ke posisi elit. Riset IDC menunjukkan, Vivo sudah menggenggam 11% pasar smartphone dan nangkring di posisi empat. Padahal, pada kwartal pertama 2017, penguasaan pasar Vivo tak lebih dari 4% dan masih di berada di peringkat ke 10.

Pencapaian Vivo itu, terbilang istimewa karena mampu menjungkalkan banyak brand yang sebelumnya sudah kelotokan, seperti Lenovo, Evercoss, Advan, dan Asus.

Dengan momentum yang sudah tercipta, kinerja Vivo terus meningkat. Pada akhir 2018, meski masih berada di posisi empat, market share Vivo sudah membesar menjadi 15,9%.

Puncaknya pada kuartal ketiga 2019, Vivo mampu menorehkan sejarah baru dengan menduduki peringkat kedua di bawah Oppo.

Sesuai laporan IDC Q3-2019, penguasa pasar smartphone Indonesia resmi berganti. Setelah selama 6,5 tahun disandang Samsung, status itu kini diambil alih Oppo. Raksasa Korea Selatan itu bahkan terpental ke posisi tiga.

Sudah berada di posisi runner up, target Vivo tentu kini berubah. Vendor yang identik dengan warna biru itu, kini akan berusaha untuk mempertahankan posisi yang telah diraih, sekaligus berusaha menyodok posisi pertama yang kini digenggam Oppo.

Tentu saja, di era persaingan terbuka dan kompetitif, untuk mempertahankan posisi tidaklah mudah. Apalagi para pesaing terdekat juga membangun positioning yang sama. Termasuk inovasi dalam hal kamera yang selama ini menjadi jualan utama Vivo.

Tengok saja manuver yang dilakukan Xiaomi. Vendor yang dipersepsikan dengan harga murah namun punya spesifikasi bertenaga itu, mengunggulkan Redmi Note 8 Pro. Ponsel pintar berkapasitas 64 MP pertama di Indonesia.

Dengan bandrol hanya Rp3.499.000 untuk varian termahal (RAM 6GB dengan ROM 128GB), Redmi Note 8 Pro yang diluncurkan di Jakarta (17/10), tentunya menjadi buruan para MiFans, sebutan bagi penggemar berat Xiaomi di Indonesia.

Tak ingin ketinggalan, selang dua hari setelah peluncuran Redmi Note 8 Pro, vendor yang terbilang baru di Tanah Air, Realme juga menggebrak penguna smartphone di Tanah Air dengan memperkenalkan Realme XT.

Sama-sama mengusung 64 MP Quad Camera, Realme XT dibandrol Rp 4.499.000 untuk kasta tertinggi (RAM 8GB dengan ROM 128GG).

Bagi Xiaomi, peluncuran kamera dengan kapasitas 64 MP tampaknya hanya menjadi pembuka dari upayanya untuk meraih predikat sebagai pabrikan paling terdepan dalam hal pengembangan kamera smartphone.

Tengok saja, tak lama setelah memperkenalkan Redmi Note 8 Pro, vendor yang berbasis di Shenzen itu, merilis Mi Note 10, smartphone berkamera 108 MP.

Kecepatan Xiaomi dalam mengeksplorasi teknologi kamera, pada akhirnya menyulut Samsung untuk mengembangkan smartphone dengan keunggulan serupa.

Raksasa Korea itu diketahui telah mengembangkan kamera berlensa 108 MP. Sayangnya, belum diketahui smartphone seri apa yang akan memakai lensa denga kapasitas sebesar itu. Tetapi kemungkinan besar Samsung akan menyematkannya ke dalam Galaxy S11. Smartphone flagship itu, dikabarkan akan meluncur pada 2020 nanti.

Bukan Sekedar Megapixel

Tak dapat dipungkiri, saat ini pilihan pengguna untuk membeli smartphone telah banyak bergeser. Tidak semata menyangkut merek, desain atau harga semata, tapi sudah menjadikan jeroan dan beragam fungsi lain sebagai tolok ukur.

Seperti kapasitas penyimpanan, RAM, prosesor, performa, ukuran layar, kapasitas batere, hingga teknologi baru lainnya.

Meski faktor-faktor di atas sudah menjadi ‘ketentuan yang wajib’ bagi konsumen sebelum menentukan pembelian, namun nyatanya kamera tetap menjadi salah satu prioritas.

Itu sebabnya, vendor smartphone terus berusaha untuk mengeksplorasi kamera sebagai nilai jual, termasuk meningkatkan kapasitas mega pixel dan jumlah kamera yang disematkan.

Dalam kajiannya, Counterpoint Research menyimpulkan, sebanyak 50 persen smartphone yang terjual secara global akan memiliki tiga atau lebih sensor kamera pada akhir 2021.

Menurut para pakar industri, peningkatan jumlah kamera merupakan upaya merek untuk membedakan diri dari pesaing dan tetap menjadi yang teratas dalam benak konsumen.

“Ini harus dilihat sebagai perang pemasaran, yang memungkinkan merek memamerkan inovasi untuk fitur yang penting bagi konsumen ponsel pintar akhir-akhir ini”, ujar Navkendar Singh, Direktur Riset-Perangkat dan Ekosistem IDC India & Asia Selatan.

Singh menyebutkan bahwa ketersediaan ukuran sensor dan biaya terjangkau, dapat membuat vendor smartphone leluasa untuk meluncurkan model terbaru dengan titik harga yang terjangkau.

“Pada awal 2020, kita mengharapkan peluncuran smartphone dengan 92MP dan 108MP di pasar. Di luar kemampuan megapiksel tertentu, konsumen normal tidak dapat merasakan perbedaan dalam foto murni dari sudut pandang megapiksel”, tambah Singh.

Faktanya, hanya menambahkan besaran megapiksel, tidak sepenuhnya membuat gambar yang dihasilkan menjadi lebih berkualitas.

Ada beberapa faktor lain yang menentukan. Seperti sensor, ukuran bukaan, Image Signal Processor (ISP), algoritma perangkat lunak, AI (Artificial Intelligence), dan lainnya.

Bisa disimpulkan bahwa eksplorasi megapixel yang gencar dilakukan oleh vendor smartphone, sesungguhnya masih sebatas gimik pemasaran.

Meski demikian, kebanyakan konsumen sudah kadung meyakini bahwa semakin besar megapiksel yang ditanam dalam sebuah kamera smartphone, maka kualitas foto yang dihasilkan juga semakin bagus. Persepsi itu telah menjadi mantra yang ampuh bagi vendor smartphone untuk menjaring konsumen.

Latest