Sunday, November 17, 2019
Home News Feature Trend Spotting: Antara Kegagalan Wishnutama dan Kesuksesan Mukesh Ambani

Trend Spotting: Antara Kegagalan Wishnutama dan Kesuksesan Mukesh Ambani

-

Jakarta, Selular.ID – Siapa bilang ilmu ramal meramal hanya milik Ki Joko Bodo, Mbah Mijan, Mama Laurence (almarhum) atau Suhu Naga? Para entrepreneur dan top executive, dewasa ini pun wajib memiliki ilmu meneropong yang bakal terjadi masa yang akan datang.

Trend Spotting, demikian istilah yang selalu menjadi topik hangat diantara para CEO kelas dunia, terutama sejak hantaman krisis melanda perekonomian global, periode 2008 – 2009.

Saat itu, ribuan perusahaan bangkrut dan banyak CEO yang harus kehilangan jabatan, umumnya karena salah memprediksi arah pasar.

Mundurnya Ho Ching, istri Perdana Menteri Lee Hsien Loong pada 2009, setelah lima tahun menjabat sebagai CEO Temasek Holdings, merupakan cerita kelabu salah satu perusahaan pengelola dana pemerintah terbesar di dunia.

Ho Ching dianggap bertanggung jawab atas memburuknya kinerja Temasek. Diketahui sejak Desember 2007, Temasek telah menggelontorkan miliaran dolar AS ke dalam bekas bank investasi Wall Street, Merrill Lynch, yang menderita kerugian besar-besaran dari subprime atau investasi mortgage berisiko tinggi.

Sebelumnya karena kasus yang sama, CEO Merrill Lynch Stan O’Neal juga harus meletakkan jabatan. O’Neal mundur setelah bank investasi global itu mencatat kerugian hingga miliaran dolar AS, yang merupakan angka kerugian terbesar dalam 93 tahun sejarah Merrill Lynch.

Kini satu dekade kemudian, seiring dengan menderunya revolusi digital, gelombang disrupsi terus menyapu perusahaan-perusahaan yang tak siap dengan perubahan. Banyak yang bangkrut, meski pun mereka adalah para raksasa yang sudah puluhan tahun menguasai pasar.

Seperti Kodak, Disc Tarra, Payless Gymboree, Blockbuster, Tribune, The Independent, dan yang terbaru, Toys’R’Us. Mereka tak mampu menangkap sinyal perubahan yang didorong oleh kemajuan teknologi. Akhirnya hanya menjadi catatan sejarah.

Di Indonesia sendiri, disrupsi teknologi terutama didorong oleh pemanfaatan 4G LTE oleh operator selular, telah memunculkan peluang sekaligus kecemasan bagi organisasi bisnis, termasuk ancaman kebangkrutan.

Dengan hadirnya 4G, hampir semua bidang bisnis, kini telah dimasuki oleh pebisnis digital. Banyak diantaranya merupakan pemain baru.

Namun gelontoran dana jumbo dari venture capital, dengan cepat menyulap mereka menjadi unicorn bahkan decacorn.

Ekspansi para disruptor itu, membuat pengusaha yang sudah kelotokan di bidangnya masing-masing menjadi kebakaran jenggot. Memaksa mereka untuk berubah atau tinggal sejarah.

Contoh paling terasa di industri retail. Gerak cepat pemain-pemain e-commerce, seperti Lazada, Tokopedia, BliBli, Bukalapak, Blanja.com hingga Shopee, sukses menjadikan ritel-ritel tradisional sepi pembeli.

Imbasnya, beberapa perusahaan telah hilang dari peredaran, seperti Electronic Solution, Centro, Debenhams, Seven Eleven, dan Lotus Departement. Lainnya, demi bisa tetap bertahan, harus mengurangi gerai yang dimiliki, seperti Giant, Hero, Ramayana, dan Matahari.

Sebelumnya para pebisnis media sudah terkapar duluan. Media-media cetak banyak yang sudah gulur tikar, seperti Sinar Harapan, Tabloid Bola, Koran Tempo Minggu, Jakarta Globe, Majalah Hai, dan lainnya. Gara-gara smartphone, mayoritas pembaca, kini sudah beralih ke media-media online.

Di bisnis transportasi, kehadiran GoJek dan Grab, memberikan pukulan telak bagi operator-operator Taxi konvensional, seperti BlueBird, Pusaka Nuri, Express Group, Gamya, dan lainnya.

Begitu pun di bisnis leisure. Munculnya Traveloka, Pegi Pegi, AirBnB, Agoda, Airy, Red Dorz, dan lainnya, membuat pebisnis hotel dan agen tiket konvensional, harus menyusun ulang strategi agar bisa tetap bertahan.

Di industri keuangan dan perbankan, hadirnya pemain-pemain fintech (financial technology) dan e-money, seperti Go Pay, Link-Aja, Dana, dan lainnya membuat perbankan konvensional terancam.

Di industri penyiaran, pebisnis TV kini tengah menghadapi tekanan hebat karena migrasi penonton ke layar smartphone.

Ketimbang TV, kalangan muda kini lebih banyak menonton video lewat Youtube, Netflix, Viu, VideoMax, atau Hooq. Praktis, TV kini hanya ditonton oleh kalangan lanjut usia, atau segmen bawah yang masih doyan dengan tayangan komedi situasi, sinetron atau dangdut.

Sebelum TV, radio sudah kena imbas lebih dulu. Perannya mulai digantikan oleh beragam layanan music streaming, seperti Jook dan Spotify.

Setali tiga uang, di industri telekomunikasi, operator yang sebelumnya berjaya dengan mengandalkan layanan SMS dan voice sebagai cash cow, harus menemukan model bisnis baru.

Hadirnya beragam layanan OTT global, seperti Line dan WhatsApp, membuat pelanggan memiliki alternatif. Bahkan, layanan itu kini sudah sangat popular dan menggerus pendapatan operator.

Tak pelak, agresifitas pelaku-pelaku bisnis digital dalam memanfaatkan teknologi internet, melambungkan para pendiri sekaligus pengelolanya. Padahal mereka terbilang masih muda-muda, rata-rata baru 30 – 40an tahun.

Mereka memiliki visi yang kuat dalam mengembangkan bisnis di era digital yang menuntut inovasi dan kreatifitas. Dibarengi dengan kemitraan atau kolaborasi yang merupakan inti dari bisnis digital.

Sebut saja Nadiem Makarim (GoJek), Ferry Unardi (Traveloka), Ridzki Kramadibrata (Grab), Ahmad Zaki (Bukalapak), William Tanuwijaya (Tokopedia), Jason Lamuda (Berrybenka), Andrew Darwis (Kaskus), dan lainnya.

Kegagalan Wishnutama

Satu tokoh yang sebetulnya bisa masuk dalam deretan itu adalah Wishnutama. Namun kiprahnya tak lagi mencorong karena ia dinilai gagal membaca arah mata angin dalam mengembangkan NET TV.

Kita ketahui, dalam industri penyiaran TV, Wisnuthama sudah ditahbiskan sebagai ‘dewa’. Walau usianya masih muda.

Namanya melambung saat membangun Trans TV. Membuat stasiun TV milik pengusaha kakap Chairul Tanjung itu, berjaya dengan aneka program yang banyak disukai masyarakat.

Namun di tengah kesuksesan, Wishnutama memilih mundur dari TransGroup. Ia memilih bergabung dengan Indika Group. Mendirikan NET TV pada 2013.

Sebelumnya NET TV adalah stasiun TV anak-anak, Space Toon. Stasiun TV lokal yang hidup segan mati tak mau. Demi bisa bersaing, lulusan Emerson College, Boston itu, menyulap NET TV menjadi televisi glamor yang tak kalah dengan TV nasional.

Dengan dukungan teknologi HD, kualitas tayangan NET TV bahkan lebih unggul. Bahkan beritanya saja diproduksi dengan kamera-kamera sinematik. Memberikan impresi yang apik.

Belum lagi program-program kreatif lain yang banyak menghadirkan para pesohor di negeri. Seperti Ini Talk Show, Waktunya Indonesia Bercanda, OK-Jek, The Comment, dan lainnya. Hadirnya program-program kreatif itu, membuat NET TV dengan cepat memperoleh popularitas.

Sampai di sini, slogan “televisi masa kini” yang diusung NET TV, terasa sesuai dengan segmen yang dibidik, masyarakat kelas menengah yang tinggal di perkotaan.

Dengan adanya NET TV, kelompok ini mulai bisa menikmati siaran TV yang berbeda. Dari hanya sekedar dangdut, sinetron atau program-program alay yang terkesan tak mendidik, yang selama ini mendominasi tayangan TV nasional.

Sayangnya, program yang dikemas bagus tak selalu menghasilkan uang yang banyak. Jelas bahwa di dunia entertainment, idealisme kadang tidak nyambung dengan kepentingan bisnis. Itulah yang pada akhirnya terjadi pada NET TV.

Apalagi di industri televisi nasional yang sejauh ini, hidupnya tergantung dengan rating. Faktanya, segmen yang paling banyak menghasilkan uang adalah menengah bawah.

Di sisi lain, target penonton kalangan muda yang dibidik NET TV juga sudah berpindah ke layar smartphone. Anak muda kini sudah lebih gandrung menyaksikan video melalui Youtube. Nonton film lewat NetFlix. Dan bersosial media lewat Line dan Instagram.

Kombinasi keduanya, pada akhirnya membuat program-program yang diusung NET TV kalah bersaing. Visi Wishnutama yang ingin menyajikan tayangan televisi yang tak hanya sekedar berbeda namun juga berkelas, membentur tembok tebal yang sulit ditembus. Kualitas tinggi yang disajikan NET TV, tidak bisa menjangkau mayoritas penonton di Indonesia.

Alhasil, setelah enam tahun, rating program-program NET TV tidak banyak beranjak. Rating yang kecil, tentu membuat pemasukan iklan menjadi seret.

Merujuk pada hasil riset PT Sigi Kaca Pariwara, berdasarkan monitoring iklan TV Adstensity di 13 stasiun TV nasional, total belanja iklan sepanjang semester I 2019 mencapai Rp60,49 triliun. Tumbuh 10,84% dibandingkan semester I 2018 yang mencapai Rp54,57 triliun.

Sayangnya, jika stasiun TV lain mengalami peningkatan penjualan iklan, NET TV malah mengalami penurunan. Dari Rp1,20 triliun pada semester I 2018 menjadi Rp1,18 triliun pada semester I 2019, atau turun 1,23%.

Dengan biaya produksi jelas melebihi pendapatan dari iklan, tentu saja membuat investasi jumbo yang sudah dikucurkan seolah menjadi mubazir. Pada gilirannya memicu keretakan di tubuh manajemen.

Puncaknya sejak tahun lalu lalu, penyandang dana Indika Group resmi mundur alias pecah kongsi dengan pengelola Net TV. Tak pelak hal itu langsung memicu gonjang-ganjing.

Agar bisa tetap “On Air”, manajemen NET TV terpaksa melakukan efisiensi. Tak hanya dari sisi produksi namun juga dari SDM. Para karyawan secara sukarela diminta untuk mengundurkan diri demi perampingan organisasi.

Bagaimana akhirnya dari kejatuhan NET TV? Sejauh ini, publik masih menebak-nebak. Seperti halnya tayangan film, kita belum disuguhkan oleh klimaks cerita, apakah happy ending atawa sad ending.

Namun yang pasti, demi menghemat anggaran, beberapa tayangan yang kini tampil di NET TV adalah konten jadul, hasil produksi beberapa tahun lalu.

Seperti tayangan “Suami-Suami Takut Istri”. Tayangan lawas ini bahkan nongol di slot “Prime Time”. Sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Bagi Wishnutama sendiri, gonjang ganjing NET TV telah berdampak pada karirnya. Sejak November tahun lalu, ia sudah tidak menjabat sebagai CEO NET TV.

Posisinya digantikan oleh Deddy Sudarijanto yang sebelumnya menjabat komisaris. Sedangkan Wishnutama berpindah posisi sebagai Komisaris Utama. Pergeseran ini jelas menjadi pertanda bahwa visi dan kapabilitasnya, dianggap tidak lagi sesuai dengan kepentingan bisnis dan keuangan NET TV.

Tangan Dingin Mukesh Ambani

Berbeda dengan Wishnutama, Mukesh Ambani membuktikan bahwa tangan dinginnya, mampu membalikkan pasar industri telekomunikasi di India yang sebelumnya sangat kuat dicengkram tiga pemain. Yaitu Bharti-Airtel, Vodafone-Idea dan Tata DoCoMo.

Pada September 2016, orang terkaya di India itu meluncurkan layanan selular 4G dengan label Jio Reliance. Tak tanggung-tanggung demi menggoyang dominasi para incumbent, Mukesh menggelontorkan dana sebesar US$ 20 miliar atau setara Rp 266 triliun.

Dengan dukungan dana jumbo, Jio Reliance berani memberikan promo besar-besaran. Seperti kartu SIM gratis, panggilan suara gratis melalui jaringan 4G selama berbulan-bulan, dan data murah sebesar Rs. 22 (sekitar Rp4.500) per GB. Karena penawaran awal ini, basis pelanggan Jio melampaui 100 juta hanya dalam waktu 170 hari saja.

Ketika basis pengguna tumbuh, perusahaan tetap menawarkan paket data yang tetap terjangkau. Hanya Rs 3,17 (sekitar Rp650) per GB, tergolong termurah di dunia. Jio juga menawarkan konten gratis melalui banyak aplikasi termasuk JioTV, Jio Cinema, Jio News, dan Jio Saavn (sebelumnya Jio Music).

Pada 2017, perusahaan meluncurkan ponsel berfitur ‘pintar’ yang menjalankan KaiOS yang disebut JioPhone lengkap dengan aplikasi seperti Twitter dan Maps.

Penggantinya, JioPhone 2, diluncurkan setahun kemudian dan membawa aplikasi populer seperti Facebook dan WhatsApp ke platform.

Agresifitas Jio yang berani mematok tarif murah, benar-benar mengguncang pasar. Membuat masyarakat India dengan cepat berpaling dan menggunakan Jio.

Hasilnya mulai terlihat pada kuartal kedua 2019. Setelah bertahun-tahun mendominasi pasar, dua operator masing-masing Bharti Airtel dan Vodafone-Idea, harus rela posisi puncak direbut oleh Jio Reliance.

Dalam laporan triwulanan yang baru-baru ini dirilis, Jio mengungkapkan bahwa jumlah pelanggan telah mencapai 340 juta di seluruh negeri.

Jio mengungguli Vodafone-Idea yang basis pelanggannya turun menjadi 320 juta dari 334,1 juta. Sementara Airtel belum merilis angka kuartalannya, namun basis pelanggan yang dimiliki pada Mei 2019 sebesar 320,6 juta.

Pencapaian dari sisi pelanggan itu, melengkapi kinerja Jio yang sudah membaik dari sisi pendapatan yang tercermin sepanjang kuartal keempat 2018.

Tercatat, Jio meraih keuntungan sebesar 5,04 miliar Rupee (USD 78,9 juta) selama kuartal tersebut, dibandingkan dengan kerugian 50.15 juta Rupee pada periode yang sama di 2016.

Meski telah menjadi market leader, Mukesh mengatakan bahwa mesin Jio terus bergerak untuk mencapai peningkatan yang lebih tinggi. Taipan India itu, kini menargetkan dapat menembus 500 juta pelanggan di negara ini.

Untuk mencapai target tersebut, Mukesh menyebutkan bahwa pihaknya akan fokus pada empat mesin pertumbuhan baru, yaitu Internet of Things (IoT) untuk seluruh negara, rumah dan layanan broadband perusahaan serta boadband untuk UKM.

“Pendapatan dari masing-masing mesin konektifitas itu akan menghasilkan fiskal sendiri,” kata Ambani saat berbicara dalam Rapat Umum Tahunan (RUPS) Agustus lalu.

Dia juga mengatakan bahwa siklus investasi Reliance Jio selesai. Sekitar Rs3,5 lakh crore telah diinvestasikan dalam jaringan 4G berkecepatan tinggi. Dalam rencana investasi, Mukesh menambahkan, bahwa hanya investasi marjinal yang diperlukan.

Ambani mengatakan bahwa India adalah “gelap data” sebelum masuknya Jio ke pasar telekomunikasi.

“Jio telah membuat trafik data India bersinar cerah. Kini basis pelanggan Jio berada di lebih dari 340 juta. Potensi pertumbuhan sangat besar dan sekarang saya percaya setengah miliar pelanggan ada dalam jangkauan kami”, ujar Mukesh.

Dia mengklaim bahwa Jio tidak hanya menjadi operator terbesar di India tetapi juga operator terbesar kedua di dunia dalam satu platform.

Latest