Thursday, October 24, 2019
Home News Feature Saat Samsung Bukan Lagi Vendor Nomor Satu di Indonesia

Saat Samsung Bukan Lagi Vendor Nomor Satu di Indonesia

-

Jakarta, Selular.ID – Memasuki pertengahan tahun, sejumlah lembaga riset mulai mengeluarkan laporan terbaru mereka. Salah satunya adalah Canalys. Lembaga survey terkemuka ini, melaporkan bahwa penjualan smartphone di tanah air tumbuh 8,9% year-on-year (YoY) selama periode April sampai Juni 2019.

Hal ini menandakan kondisi pasar yang terbilang semakin membaik dari tahun-tahun sebelumnya.

Seperti diketahui, pasar smartphone di Indonesia, mencapai titik terendah di 2016 (pertumbuhan tahunan -3,3%) dan 2017 (pertumbuhan tahunan 0,6%), imbas dari diberlakukannya kebijakan TKDN sebesar 30% kepada seluruh vendor smartphone.

Setelah TKDN, Canalys menilai bahwa, aturan pemberlakuan IMEI yang baru saja diumumkan oleh pemerintah, akan menjadi tantangan selanjutnya. Vendor yang selama ini mengandalkan pasar BM, dipastikan akan langsung terdampak.

Dengan permintaan mencapai 40 – 50 juta unit ponsel per tahun, Canalys menyebutkan persaingan vendor smartphone, terutama di ranah online semakin memanas.

Menurut kajian Canalys, vendor-vendor kini mempercepat mesin ekspansi di pasar online, mengingat kalangan milenial sebagai konsumen terbesar, semakin menggandrungi belanja gadget melalui pelapak-pelapak daring.

Dengan kompetisi yang terbilang ketat, posisi top five pada periode ini mengalami perubahan. Untuk pertama kali Oppo mampu mengungguli Samsung sebagai vendor ponsel terbesar di Indonesia.

Menurut Canalys Oppo menyegel posisi pertama dengan pangsa pasar mencapai 26%, diikuti Samsung (24%), Xiaomi (19%), Vivo (15%) dan Realme (7%).

Dengan pencapaian tersebut, Oppo kini menjadi raja ponsel Indonesia mengungguli merk-merk lain. Penjualan raksasa China itu tumbuh 54% dari periode sama di tahun lalu, berkat cakupan offline yang kuat.

Sang jawara tahun lalu, Samsung, hanya mampu tumbuh sebanyak 10% saja. Hal itu menyebabkan posisinya bergeser menjadi kedua. Ini adalah kali pertama Samsung terjungkal dari posisi puncak, setelah merebut posisi itu pertama kali dari tangan Nokia pada 2012.

Bertolak belakang dari Oppo dan Samsung, Xiaomi malah mengalami penurunan. Market perusahaan terperosok sebanyak 9% hingga terlempar ke posisi ketiga pada laporan Canalys. Padahal sebelumnya Xiaomi berhasil tumbuh signifikan, mencapai 139,4% pada kuartal keempat 2018.

Isu validasi IMEI yang berhembus kencang, tampaknya membuat konsumen mulai berfikir ulang untuk membeli perangkat buatan Xiaomi.

Tak dapat dipungkiri, ketergantungan Xiaomi pada pasar BM (black market), mulai berimbas pada kepercayaan konsumen.

Meski Xiaomi menawarkan harga murah, konsumen tentunya tak ingin smartphone yang dibelinya, tak bisa digunakan, karena diblok oleh operator.

Lalu, di urutan keempat tetap bertengger vendor China lainnya, Vivo. Vivo yang masih sister company dengan Oppo (BBK Group), sukses menggenggam 15% market share, alias tumbuh sebanyak 62% YoY.

Pada urutan terakhir, Realme berhasil menyabet 7% pangsa pasar. Kehadiran Realme di posisi lima besar, membuat vendor asal Taiwan, Asus terpental.

Harus diakui, strategi mengusung teknologi smartphone terkini dan harga yang berani, seperti halnya Xiaomi, membuat Realme menjadi game changer.

Apalagi nama Realme rada mirip dengan Xiaomi. Sehingga bisa mengatrol brand awareness dengan cepat, terutama di kalangan muda yang gandrung dengan smartphone berspek tinggi, namun harga terjangkau. Padahal, kalangan itu merupakan segmen pasar yang selama ini menjadi penopang pertumbuhan Xiaomi di Indonesia.

Kejatuhan Samsung

Hasil survey Canalys pada kuartal kedua 2019, menunjukkan bahwa pasar semakin dinamis. Tak ada jaminan bagi vendor untuk bisa bertahan di posisi puncak. Model open market membuat mereka harus selalu kompetitif agar tetap berada di depan pesaing.

Pada periode ini, dua kejutan terjadi, yakni Realme yang sukses menyodok ke posisi lima besar. Padahal, Realme merupakan pendatang baru. Merek yang sebelumnya merupakan sub brand dari Oppo ini, baru meluncur ke Indonesia kurang dari satu tahun.

Kejutan kedua adalah keberhasilan Oppo menggusur Samsung di posisi puncak. Padahal, sejak meroketnya popularitas smartphone Android, Samsung terus memimpin pasar ponsel di Indonesia hampir satu dekade.

Meski demikian, keberhasilan Oppo mengkudeta Samsung sesungguhnya sudah bisa diduga. Pasalnya, sebagai challenger, perolehan market share Oppo terus membesar dari tahun ke tahun. Di sisi lain, Samsung justru semakin menciut.

Tengok saja laporan IDC pada Q3 2016. Periode ini Samsung masih menggenggam 32,2% pangsa pasar, disusul Oppo (16,7%), Asus (8,2%), Advan (6%), Lenovo (5,7%), selebihnya dikerubuti belasan merek lainnya.

Kemudian laporan IDC per kuartal ketiga 2017. Lima besar merk smartphone di pasar Indonesia, adalah Samsung, Oppo, Advan, Vivo dan Xiaomi.

Samsung memang masih bertengger di posisi puncak dengan perolehan 30%, menyusul di posisi kedua Oppo 25%. Tiga besar dibawahnya adalah Advan 8,3%, Vivo 7,5% dan Xiaomi 5,2%.

Ancaman Oppo terhadap Samsung, sesungguhnya mulai terlihat di periode ini. Meski masih berada di posisi runner up, Oppo semakin memepet Samsung. Berdasarkan laporan IDC tersebut, selisih di antara keduanya sangat tipis, yakni hanya 4,5%.

Padahal, jika kita melongok dua tahun sebelumnya, yakni Q4 2015, posisi Oppo bahkan belum masuk dalam lima besar. Secara berturut-turut periode itu diduduki oleh Samsung dengan raihan 24,8%. Disusul Asus (15,9%), Smartfren Andromax (10,8%), Advan (9,6%), dan Lenovo (6,5%).

Meski menyegel posisi puncak, pencapaian yang diraih Oppo, sesungguhnya belum sepenuhnya bulat. Pasalnya, pekan lalu, Counterpoint Research juga sudah mengeluarkan laporannya.

Berbeda dari Canalys, lima vendor smartphone teratas di Indonesia selama Q2 2019 versi Counterpoint adalah Samsung (27%), Xiaomi (21%), Oppo (17%), Vivo (9%), dan Realme (8%).

Terdapat perbedaan karena dua posisi teratas, masih tetap dikuasai oleh Samsung dan Xiaomi. Ini tentunya mengundang perdebatan.

Namun begitu, Samsung selayaknya tetap mewaspadai agresifitas Oppo. Karena dengan strategi pemasaran dan PR (public relation) yang lebih tepat, bisa saja momentum pasar, dapat berpindah ke pesaing terdekatnya itu.

Jika itu terjadi, bukan tidak mungkin Samsung benar-benar kehilangan mahkotanya. Kita buktikan kelak, siapa sesungguhnya penguasa pasar ponsel di Indonesia di penghujung 2019.

Latest