Sunday, August 18, 2019
Home News Feature Samsung Dalam Pusaran Konflik Korea Jepang (Bagian 1)

Samsung Dalam Pusaran Konflik Korea Jepang (Bagian 1)

-

Jakarta, Selular.ID – Ditengah perang dagang dengan China yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda, AS malah disibukan dengan pertikaian yang melanda dua sekutu terdekatnya, Jepang dan Korea Selatan.

Korea Selatan meminta AS untuk turun tangan guna membantu menyelesaikan pertikaian diplomatik yang semakin tajam dengan Jepang. Konflik tersebut sangat mengancam pertumbuhan perusahaan-perusahaan Korea, akibat terhambat pembuatan chip dan smartphone.

Harian China Daily melaporkan, Jepang dan Korea terlibat dalam pertengkaran yang sejauh ini mengakibatkan negeri matahari terbit itu, mengumumkan akan membatasi ekspor tiga bahan kimia yang digunakan oleh beberapa perusahaan teknologi paling terkemuka Korea.

Sebagai tanggapan, Korea meluncurkan rencana investasi besar-besaran untuk memproduksi bahan sendiri dan membatasi impor.

Politisi juga menyerukan anggaran sebesar KRW300 miliar (USD255 juta) untuk disisihkan untuk membantu perusahaan menangani krisis saat ini.

Menteri luar negeri Korea dilaporkan membahas masalah ini dengan Sekretaris Negara AS dalam upaya untuk meredakan ketegangan. AS tampaknya setuju untuk membantu memfasilitasi pembicaraan antara kedua negara.

Laporan terpisah dari Yonhap News Agency (12/7/2019) menambahkan seorang pejabat senior dari kantor luar negeri negara itu berada di Tokyo, terlibat dalam pembicaraan untuk mencoba dan meredakan pertikaian dan menghapus pembatasan perdagangan.

Di antara barang-barang yang dipengaruhi oleh pesanan Jepang adalah bahan spesialis yang digunakan dalam produksi chip dan tampilan smartphone, yang sangat penting dalam banyak elektronik yang diproduksi di Korea.

Dikutip dari laman disway.id, Ketiga barang kimia tersebut adalah Fluorinated polyamide, bahan baku untuk membuat layar HP atau televisi. Jepang menguasai 90 persen pasokan dunia.  

Photosensitising agent resist. Salah satu bahan memproduksi chips, otaknya HP. Jepang juga menguasai 90 persen pasokan dunia.

Produk lain adalah Hydrogen fluoride untuk membersihkan chips. Jepang menguasai 70 persen pasokan dunia.

Penghentian pasokan ketiga jenis bahan kimia itu, akan secara telak memukul produsen elektronik terkemuka, seperti Samsung dan LG.

Ekspor Samsung diprediksi bisa langsung terjun bebas. Padahal drum chips buatan Samsung menguasai 70 persen pasar drum chip dunia. Mencapai lebih dari Rp 1.000 triliun. 

Pertikaian antara kedua negara dipicu oleh gugatan yang dilakukan oleh wanita-wanita korban perang dunia kedua. Pada masa penjajahan, banyak wanita Korea yang dipaksa jadi pelacur di wisma-wisma khusus tentara Jepang. 

Masih ada 5.000 wanita itu yang hidup, dari jumlah keseluruhan sekitar 150.000 orang kala itu.  Mereka menggugat ke pengadilan. Secara sendiri-sendiri atau berkelompok-kelompok untuk meminta ganti rugi.

Gugatan mereka ditujukan kepada perusahaan perusahaan Jepang. Di masa penjajahan selama 35 tahun itu beroperasi di Korsel. Hampir 300 perusahaan Jepang berbisnis di Korsel saat itu.

Mereka menjadi produsen senjata, peluru dan kendaraan angkutan militer. Sebagian dari perusahaan itu masih berjaya sampai hari ini. Bahkan menjadi perusahaan global terkemuka. Seperti Nippon Steel, Mitsubishi Heavy Industries dan Sumitomo Metal Works.

Saat pengadilan masih dalam proses banding dan kasasi, Jepang menawarkan kompromi angka, namun ditolak.

Bulan lalu keputusan pengadilan di Korsel sudah final.

Mahkamah Agung sendiri sudah membuat putusan, yakni perusahaan-perusahaan Jepang harus memberikan ganti rugi. Antara Rp 1 sampai Rp1,5 miliar untuk tiap gugatan.

Putusan itu juga memerintahkan pembekuan saham perusahaan Jepang tersebut di Korsel. Termasuk perusahaan-perusahaan patungan.

Akankan intervensi AS, membuat Jepang dan Korea Selatan kembali rukun? Pertanyaan yang sulit dijawab, mengingat kasus ini bukan lagi persoalan para chaebol Korea. Ini sudah persoalan harga diri bangsa. Dari bekas negara jajahan ke penjajahnya. 

Bagi Samsung sendiri, dampak dari pelarangan penjualan tiga bahan kimia utama untuk proses produksi semikonduktor dan layar canggih smartphone itu, sudah langsung terasa.

Bloomberg melaporkan, raksasa Korea itu telah kehilangan nilai pasar sekitar 16 triliun won (USD13 miliar) hingga Senin (8/7/2019).

Latest