Tuesday, August 20, 2019
Home News Serangan Terhadap Huawei Berpotensi Ciptakan Perang Dingin Teknologi

Serangan Terhadap Huawei Berpotensi Ciptakan Perang Dingin Teknologi

-

Jakarta, Selular.ID – Keputusan tegas Amerika Serikat terhadap Huawei dan 70 perusahaan afiliasinya, membuat perang dagang antara Beijing dan Washington semakin memanas. Pemerintah China mengatakan bahwa Washington perlu memperbaiki “tindakan salah” untuk melanjutkan pembicaraan perdagangan setelah Huawei AS masuk daftar hitam.

Pasalnya, keputusan tersebut berdampak pada rantai pasokan global dan menghancurkan saham-saham teknologi, karena para investor khawatir perang dingin teknologi mulai membayangi.

“Jika Amerika Serikat ingin melanjutkan pembicaraan perdagangan, mereka harus menunjukkan ketulusan dan memperbaiki tindakan mereka yang salah. Negosiasi hanya dapat berlanjut berdasarkan kesetaraan dan saling menghormati,” kata juru bicara Kementerian Perdagangan China Gao Feng dalam briefing mingguan.

“Kami akan memonitor perkembangan yang relevan dan menyiapkan tanggapan yang diperlukan,” katanya, tanpa menjelaskan lebih lanjut.

Perang dagang antara AS dan China, telah menjadikan perusahaan kakap China seperti Huawei dan ZTE, menjadi target Washington dengan alasan mencegah praktek spionase. Pada akhirnya, hal ini berdampak pada perseteruan antar manufaktur global.

Konglomerat Jepang PanasonicCorp pada Kamis (16/5), memutuskan bergabung dengan daftar perusahaan global yang semakin berkembang.

Seperti halnya Google, Intel dan Qualcomm, dan ARM, Panasonic berencana melepaskan diri dari Huawei, produsen smartphone terbesar kedua dan pembuat peralatan telekomunikasi terbesar di dunia.

Sepekan setelah keputusan pelarangan terhadap Huawei oleh AS, Panasonic menyebutkan bahwa mereka telah menghentikan pengiriman beberapa komponen yang sebelumnya didatangkan dari Huawei.

Langkah itu dilakukan sehari setelah perancang chip Inggris ARM, mengatakan telah menghentikan hubungan dengan Huawei untuk mematuhi blokade pasokan yang dibuat AS.

Keputusan drastis dari ARM itu, berpotensi melumpuhkan kemampuan perusahaan China untuk membuat chip baru untuk smartphone masa depannya. Diketahui, Huawei menggunakan cetak biru ARM untuk mendesain prosesor yang memberi daya pada smartphone-nya.

Toshiba Corp Jepang mengatakan telah melanjutkan pengiriman ke Huawei setelah menangguhkan pengiriman sementara untuk memeriksa apakah mereka termasuk komponen buatan A.S.

“Apa yang kita saksikan adalah potensi konfigurasi ulang perdagangan global seperti yang telah terjadi sejak Perang Dunia II”, ujar kepala strategi ekuitas Saxo Bank, Peter Garnry.

Dalam mengurai polemik ini, Peter secara khusus menulis dalam sebuah catatan berjudul, “Apakah Anda siap untuk perang dingin di bidang teknologi?

Menurut Peter, dengan tren yang cenderung memanas, investor harus mulai berpikir tentang seberapa sensitif portofolio mereka terhadap guncangan yang terpapar rantai pasokan global.

Pendiri Huawei, Ren Zhengfei mengatakan kepada majalah keuangan Cina Caixin pada hari Kamis bahwa ia tidak melihat keputusan ARM untuk menunda bisnis dengan Huawei memiliki dampak pada perusahaan.

Dia mengatakan bahwa Huawei memiliki perjanjian jangka panjang dengan ARM dan berspekulasi bahwa perusahaan Inggris telah melakukan langkah seperti itu karena induknya, SoftBank Group Corp Jepang, sedang menunggu persetujuan AS untuk merger Sprint Corp, yang dimilikinya, dan T -Mobile US Inc.

Sebelumnya dalam wawancara pertama dengan sekelompok wartawan Jepang, Sabtu (18/5), Ren mengaku tidak kaget dengan keputusan drastis yang diambil Presiden AS Donald Trump, dan aksi boikot yang cenderung meluas.

“Kami sudah mempersiapkan hal ini,” kata Ren.

Ren yang kini berusia 74 tahun, mengatakan bahwa Huawei akan terus mengembangkan komponen sendiri untuk mengurangi ketergantungannya pada pemasok luar.

Huawei adalah perusahaan yang berkembang pesat dalam teknologi 5G tetapi tetap bergantung pada pemasok asing. Menurut harian bisnis Nikkei, perusahaan yang berbasis di Shenzen itu, membeli komponen senilai sekitar 67 miliar dolar AS setiap tahun, termasuk sekitar 11 miliar dolar AS dari pemasok AS.

Di sisi lain, pakar industri mempertanyakan klaim Huawei meminimalkan dampak dari langkah yang menyulitkan perusahaan untuk melakukan bisnis dengan perusahaan Amerika. Tidak ada pembicaraan perdagangan lebih lanjut antara negosiator Cina dan AS yang telah dijadwalkan sejak putaran terakhir berakhir pada 10 Mei.

Pada hari yang sama Presiden AS Donald Trump secara tajam meningkatkan tarif barang-barang Tiongkok senilai $ 200 miliar dan mengambil langkah-langkah untuk memungut bea atas semua impor Tiongkok yang tersisa.

China membalas dengan pungutannya sendiri atas impor AS, tetapi langkah Washington berikutnya terhadap Huawei yang membawa perang dagang ke fase baru, memicu kekhawatiran tentang risiko terhadap pertumbuhan global dan menguncang pasar keuangan.

Amerika Serikat menuduh Huawei melakukan kegiatan yang bertentangan dengan keamanan nasional, tuduhan yang dibantah Huawei.

Trump sedikit melunakkan pendiriannya pada pekan lalu, dengan memberikan izin kepada perusahaan untuk membeli barang AS, hingga 19 Agustus untuk meminimalkan gangguan bagi pelanggan.

Ren mengakui bahwa serangan terhadap Huawei akan berdampak pada pertumbuhan perusahaan. Namun ia meyakini, langkah-langkah yang dilakukan AS itu hanya memiliki dampak terbatas.

“Pertumbuhan Huawei dapat melambat, tetapi kami perkirakan hanya sedikit,” ujar Ren, kepada The Nikkei.

Alih-alih tunduk dengan serangan baru, Ren menegaskan bahwa perusahaannya tidak akan menyerah pada tekanan dari Washington.

“Kami tidak akan mengubah manajemen kami atas permintaan AS atau menerima pemantauan, seperti yang telah dilakukan pada ZTE,” tegasnya, seperti dikutip oleh The Nikkei, merujuk pada sesama raksasa telekomunikasi China ZTE yang juga menjadi sasaran Washington.

ZTE nyaris runtuh tahun lalu setelah perusahaan-perusahaan AS dilarang menjualnya komponen-komponen vital karena terus berhubungan dengan Iran dan Korea Utara.

Trump kemudian membalikkan keputusan itu. Namun sebagai imbalannya ZTE harus membayar denda sebesar USD1 miliar dan menerima pemantauan oleh Departemen Perdagangan AS.

Latest