Monday, August 26, 2019
Home News Telco Ericsson Patahkan 4 Mitos Seputar Manfaat 5G

Ericsson Patahkan 4 Mitos Seputar Manfaat 5G

-

Jakarta, Selular.ID – Ericsson baru saja merilis laporan ConsumerLab bertajuk 5G Consumer Potential yang mematahkan mitos industri seputar nilai 5G. Didukung oleh penelitian yang solid, laporan ini mengungkap realita pengguna yang mematahkan empat mitos industri seperti berikut:

  1. 5G tidak menawarkan manfaat jangka pendek bagi pelanggan
  2. Tidak ada penerapan 5G yang sesungguhnya, juga tidak ada harga premium pada 5G
  3. Ponsel pintar akan menjadi “silver bullet” untuk 5G: solusi tunggal ajaib yang memberikan layanan 5G
  4. Pola penggunaan saat ini dapat dijadikan landasan untuk memprediksi permintaan 5G di masa depan

Temuan utama dari penelitian ini mencakup fakta bahwa pelanggan berharap agar 5G dapat membantu mengatasi kepadatan jaringan di perkotaan dalam waktu dekat, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, di mana enam dari 10 pengguna smartphone menghadapi permasalahan jaringan di wilayah padat penduduk. Para responden juga berharap akan ada lebih banyak pilihan home broadband yang tersedia seiring dengan peluncuran 5G.

Laporan ini juga menghapus mitos di industri Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT) yang menyatakan bahwa pelanggan tidak ingin membayar premi (iuran berlangganan) untuk 5G.

Faktanya, menurut penelitian Ericsson, pengguna smartphone secara global mengaku bersedia membayar 20 persen lebih banyak untuk layanan 5G, dan setengah dari para early adopter sanggup membayar lebih, sebesar 32 persen. Namun di sisi lain, empat dari 10 orang pengguna tersebut juga mengharapkan use case baru, mode pembayaran yang mudah, serta jaringan 5G yang aman, selain kecepatan internet yang tinggi dan konsisten.

Temuan penting lainnya menyatakan bahwa pola penggunaan 4G saat ini tidak menunjukkan perilaku penggunaan di masa depan. Konsumsi video akan semakin meningkat seiring dengan perkembangan 5G. Pelanggan tidak hanya mampu mengakses video dalam resolusi yang lebih tinggi, tetapi juga dapat merasakan pengalaman video dengan format imersif seperti Augmented reality (AR) dan Virtual reality (VR).

Pada era 5G, pengguna juga berkesempatan untuk mengakses konten video di luar rumah empat jam lebih lama dalam seminggu, serta dapat menggunakan kacamata AR maupun headset VR selama satu jam tanpa jeda.

Head of Network Solutions Ericsson Indonesia Ronni Nurmal menyatakan: “Melalui penelitian ini, kami telah mematahkan empat mitos mengenai pandangan pelanggan terhadap 5G dan menjawab pertanyaan apakah fitur 5G memerlukan jenis perangkat baru, atau apakah ponsel pintar akan menjadi silver bullet untuk 5G. Pelanggan secara jelas menyatakan bahwa ponsel pintar tidak akan menjadi solusi 5G satu-satunya”.

Konsumen di Indonesia memiliki ekspektasi bahwa layanan 5G dapat tersedia dalam dua tahun

Di Indonesia, laporan tersebut menunjukkan bahwa sekitar separuh dari pengguna smartphone akan mengganti operator mereka dalam kurun waktu enam bulan jika operator yang mereka gunakan saat ini tidak menyediakan layanan 5G. Dengan meningkatnya kesadaran konsumen mengenai 5G, rata-rata responden percaya bahwa 5G akan diterapkan dalam dua tahun mendatang.

Pengguna smartphone bersedia membayar harga premium sebesar Rp30.000 untuk menikmati layanan 5G. Early adopter bahkan bersedia membayar lebih sebesar Rp50.000.

Hal tersebut sejalan dengan ekspektasi akan hadirnya layanan yang dapat memberikan pengalaman imersif untuk kegiatan olahraga dan berbagai acara lainnya, dimana AR dan hubungan telepon menggunakan holografik 3D akan menjadi dua terapan utama yang akan tersedia saat 5G hadir.

Berdasarkan prediksi pola penggunaan yang dilakukan konsumen, rata-rata penggunaan data ponsel melalui perangkat 5G dapat meningkat hingga 60GB/bulan, dan pengguna ponsel pintar dengan konsumsi data yang besar dapat menghabiskan 110GB setiap bulannya.

Di Indonesia, konsumen mengharapkan pengalaman baru berinternet dengan 5G, yang dapat membawa dampak positif bagi berbagai sektor dari aplikasi untuk konsumen hingga industri otomotif. 75% percaya kecepatan ultra-high internet dan konektivitas andalan yang dimiliki 5G dapat memfasilitasi orang-orang untuk bekerja di mana saja, sementara 67 persen mengatakan bahwa konektivitas internet 5G di mobil akan sama pentingnya dengan efisiensi bahan bakar dalam 5 tahun mendatang.

“Dengan mematahkan mitos-mitos industri ICT ini, kami menemukan fakta bahwa konsumen di Indonesia sungguh menantikan kehadiran 5G dan berharap generasi baru dari konektivitas mobile ini dapat menjadi game-changer. Bagi operator, hal tersebut menjadi keuntungan bagi pemain bisnis dan juga potensi bisnis berupa penambahan pendapatan sebesar 30 persen dari pasar 5G di tahun 2026,” tutup Ronni Nurmal.

Latest