Monday, August 19, 2019
Home News CEO Huawei Tegaskan Tidak Akan Tunduk Pada Tekanan AS

CEO Huawei Tegaskan Tidak Akan Tunduk Pada Tekanan AS

-

Jakarta, Selular.ID – Raksasa telekomunikasi China, Huawei, siap menghadapi tindakan keras Washington dan akan mengurangi ketergantungannya pada komponen AS, kata pendirinya kepada media Jepang.

Presiden Donald Trump secara efektif melarang Huawei dari pasar AS pada Rabu (15/5). Tak hanya melarang, Trump juga menambahkan Huawei bersama 70 perusahaan afiliasi, ke daftar yang akan membatasi penjualan AS ke perusahaan tersebut.

Sebelumnya, instansi pemerintah AS sudah dilarang membeli peralatan dari Huawei, di tengah meningkatnya perang dagang dengan Beijing yang membuat pertumbuhan ekonomi China melambat.

Baca juga: Masuk Daftar Hitam, Huawei Tentang Keputusan Pemerintah AS

“Kami sudah mempersiapkan hal ini,” pendiri dan CEO Huawei Ren Zhengfei, kepada sekelompok wartawan Jepang, Sabtu (18/5), dalam wawancara pertamanya sejak langkah drastis yang diambil Trump.

Ren yang kini berusia 74 tahun, mengatakan bahwa Huawei akan terus mengembangkan komponen sendiri untuk mengurangi ketergantungannya pada pemasok luar. Huawei adalah perusahaan yang berkembang pesat dalam teknologi 5G tetapi tetap bergantung pada pemasok asing.

Menurut harian bisnis Nikkei, perusahaan yang berbasis di Shenzen itu, membeli komponen senilai sekitar 67 miliar dolar AS setiap tahun, termasuk sekitar 11 miliar dolar AS dari pemasok AS.

Ren yang biasanya sulit dihubungi oleh media, telah keluar dari bayang-bayang dalam beberapa bulan terakhir demi menghadapi tekanan yang meningkat pada perusahaannya.

Latar belakang Ren yang tentara dan budaya buram Huawei telah memicu kecurigaan di beberapa negara, bahwa perusahaan itu memiliki hubungan dengan militer China dan layanan intelijen.

Dalam beberapa tahun terakhir, Huawei telah menjadi target kampanye intens oleh Washington. Taj hanya memblok pasar dalam negeri, AS bahkan terus berusaha membujuk negara-negara sekutu untuk tidak membiarkan China berperan dalam membangun jaringan seluler 5G generasi berikutnya.

Baca juga: 70 Perusahaan Terafiliasi Huawei Masuk Dalam Daftar Hitam AS

Sejauh ini, Jepang, Australia dan Selandia Baru telah masuk dalam kelompok negara yang mengeluarkan Huawei dalam pembangunan 5G. Namun selain Inggris, negara-negara Eropa belum sepenuhnya dapat dikendalikan Washington.

“Kami belum melakukan apa pun yang melanggar hukum,” kata Ren, kepada The Nikkei, seraya menambahkan langkah-langkah AS akan memiliki dampak terbatas.

“Pertumbuhan Huawei dapat melambat, tetapi kami perkirakan hanya sedikit,” tambahnya.

Alih-alih tunduk dengan serangan baru, Ren menegaskan bahwa perusahaannya tidak akan menyerah pada tekanan dari Washington.

“Kami tidak akan mengubah manajemen kami atas permintaan AS atau menerima pemantauan, seperti yang telah dilakukan pada ZTE,” tegasnya, seperti dikutip oleh The Nikkei, merujuk pada sesama raksasa telekomunikasi China ZTE yang juga menjadi sasaran Washington.

ZTE nyaris runtuh tahun lalu setelah perusahaan-perusahaan AS dilarang menjualnya komponen-komponen vital karena terus berhubungan dengan Iran dan Korea Utara.

Trump kemudian membalikkan keputusan itu. Namun sebagai imbalannya ZTE harus membayar denda sebesar USD1 miliar dan menerima pemantauan oleh Departemen Perdagangan AS.

Baca juga: Huawei Hanya Boleh Bangun 5G Non Core di Inggris

Ren adalah mantan teknisi pada People Liberation Army (PLA) China. Ia masuk dalam dinas tentara pada 1974, sebagai anggota Capital Construction Engineering Corporation yang dibentuk oleh militer untuk mengembangkan proyek nasional berskala menengah dan besar.

Setelah bertahun-tahun berseragam tentara, Ren memutuskan pensiun dari PLA pada 1982. Keinginan yang kuat untuk mengubah nasib, membuat ia merintis Huawei pada 1987. Meski hanya bermodalkan 20 ribu Yuan atau USD5.000.

Sebagai perusahaan kecil, Huawei melewati masa-masa sulit dengan menjual telekomunikasi switchboard buatan Hong Kong. Namun, setelah 15 tahun bekerja keras, Ren mengubah peruntungan Huawei dengan keuntungan penjualan mencapai USD30 miliar pada 2013.

Huawei sekarang mengklaim memiliki hampir 190.000 karyawan, beroperasi di 170 negara, dan melaporkan pendapatan lebih dari USD 100 miliar pada 2018.

Dengan keberhasilan tersebut, Huawei layak disebut sebagai kekuatan dominan di antara perusahaan sukses nasional China.

Namun, tiga dekade kemudian, ujian sesungguhnya mulai menghadang. Perang dagang antara China dan AS, membuat Huawei menjadi sasaran tembak yang bisa menjadi titik balik pencapaian perusahaan.

Mampukah Ren mengatasi tekanan AS?

Latest