Friday, October 18, 2019
Home News Feature 70 Perusahaan Terafiliasi Huawei Masuk Dalam Daftar Hitam AS

70 Perusahaan Terafiliasi Huawei Masuk Dalam Daftar Hitam AS

-

Jakarta, Selular.ID – Departemen Perdagangan AS mengatakan pada hari Rabu (15/5) bahwa pihaknya telah menambahkan Huawei Technologies Co Ltd dan 70 perusahaan afiliasi ke dalam apa yang disebut “Daftar Entitas”. Sebuah langkah yang secara tegas melarang raksasa telekomunikasi asal China itu, membeli komponen dari perusahaan AS tanpa persetujuan pemerintah.

Pejabat AS mengatakan kepada Reuters, bahwa keputusan terbaru itu akan menyulitkan Huawei, produsen peralatan telekomunikasi terbesar di dunia, untuk menjual beberapa produk karena ketergantungannya pada pemasok AS.

Berdasarkan pesanan yang akan mulai berlaku dalam beberapa hari mendatang, Huawei akan memerlukan lisensi pemerintah AS untuk membeli teknologi Amerika. Huawei sejauh ini tidak segera berkomentar.

Sekretaris Perdagangan Wilbur Ross, mengulang pernyataan Presiden Donald Trump, bahwa keputusan tersebut akan “mencegah teknologi Amerika dari yang digunakan oleh entitas milik asing dengan cara yang berpotensi merusak keamanan nasional AS atau kepentingan kebijakan luar negeri.”

Langkah dramatis terjadi ketika pemerintahan Trump secara agresif melobi negara-negara lain untuk tidak menggunakan peralatan Huawei dalam jaringan 5G generasi berikutnya.

Tindakan itu juga datang hanya beberapa hari setelah Trump memberlakukan tarif baru pada barang-barang China di tengah perang dagang yang meningkat.

Departemen Perdagangan mengatakan langkah itu dilakukan setelah Departemen Kehakiman AS mengeluarkan dakwaan terhadap Huawei pada Januari lalu, termasuk beberapa entitas yang mengatakan perusahaan itu berkonspirasi untuk memberikan layanan keuangan yang dilarang ke Iran.

Departemen Perdagangan mengatakan memiliki dasar yang masuk akal untuk menyimpulkan bahwa Huawei “terlibat dalam kegiatan yang bertentangan dengan keamanan nasional AS atau kepentingan kebijakan luar negeri.”

Huawei melaporkan pendapatan kuartal pertama sebesar US$ 27 miliar bulan lalu. Perusahaan yang berbasis di Shenzen itu, telah mengirim 59 juta smartphone pada kuartal pertama 2019.

Pada Maret 2016, Departemen Perdagangan menambahkan ZTE Corp ke daftar entitas atas tuduhan pihaknya mengorganisir skema rumit untuk menyembunyikan re-ekspor barang-barang A.S. ke negara-negara yang terkena sanksi yang melanggar undang-undang A.S.

Pembatasan mencegah pemasok untuk menyediakan ZTE dengan peralatan AS, sekaligus berpotensi membekukan rantai pasokan saingan Huawei, namun hanya bersifat jangka pendek. AS menangguhkan pembatasan dalam serangkaian penangguhan hukuman sementara, yang memungkinkan perusahaan untuk mempertahankan hubungan dengan pemasok A.S. sampai menyetujui kesepakatan pembelaan setahun kemudian.

Pada Agustus 2018, Trump menandatangani RUU yang melarang pemerintah AS menggunakan peralatan yang dipasok dari Huawei dan ZTE.

Senator dari Partai Republik Ben Sasse, mengatakan bahwa rantai pasokan Huawei tergantung pada kontrak dengan perusahaan-perusahaan Amerika. Dia mendesak kepada Departemen Perdagangan untuk melihat “bagaimana kita dapat secara efektif mengganggu musuh kita.”

Di sisi lain, imbas dari perang dagang yang telah berlangsung lebih setahun , membuat ekonomi China telah kehilangan tenaga sepanjang April 2019.

Kondisi tersebut bisa bertambah buruk, karena negara ekonomi terbesar kedua di dunia itu, masih akan menghadapi hambatan tarif baru dari Donald Trump.

Pada akhir pekan lalu, Trump meluncurkan kenaikan tarif 25% bagi produk impor China senilai USD200 miliar. Hal ini membuat produsen China terguncang. Dan ada kemungkinan, kenaikan tarif akan diperlebar ke semua barang-barang China yang masuk ke AS.

Melansir dari Bloomberg, Kamis (16/5/2019), produksi industri, penjualan ritel, dan investasi di China, semuanya melambat di April 2019, lebih buruk dari perkiraan ekonom.

Tercatat, produksi industri China sepanjang bulan lalu hanya tumbuh 5,4%, lebih rendah dari ekspektasi ekonom di level 6,5%. Sedangkan pertumbuhan industri pada Maret sebelumnya sebesar 8,5%.

Demikian pula dengan penjualan ritel di April yang mencapai 7,2%, lebih rendah dari perkiraan ekonom sebesar 8,6%. Dan Maret 2019, penjualan ritel mencapai 8,7%.

Adapun pertumbuhan investasi hanya mencapai 6,1%, berbanding perkiraan ekonom di 6,4%, dan pertumbuhan investasi pada Maret sebesar 6,3%.

Gangguan kredit dan konsumsi di dalam negeri ditambah dengan ekonomi global yang lebih lemah membuat China kehabisan mesin pertumbuhan untuk ekonomi yang stabil yang saat ini dibutuhkan.

Selain itu, imbas perang dagang yang meningkat membuat nilai tukar mata uang yuan melemah.

Data yang lemah ini mendorong ekspektasi agar pemerintah memberikan stimulus untuk meredam pukulan dari perang dagang yang meningkat.

“China mengalami penurunan ganda dan data itu sudah dikonfirmasi,” ujar Lu Ting, kepala ekonom China di Nomura Holdings Inc, Hong Kong.

“Kami berharap Beijing segera meningkatkan langkah-langkah pelonggaran atau stimulus untuk menstabilkan pasar keuangan dan meningkatkan pertumbuhan, meski ruang kebijakan saat ini lebih terbatas dari sebelumnya,” sambung Lu Ting.

Latest