Thursday, April 25, 2019
Home News Minggu Ini, Uni Eropa Siap Jatuhkan Lagi Denda Kepada Google

Minggu Ini, Uni Eropa Siap Jatuhkan Lagi Denda Kepada Google

-

Jakarta, Selular.ID – Induk usaha Google, Alphabet, kemungkinan akan kembali mendapatkan denda dari lembaga antitrust Uni Eropa (UE) pada minggu ini. Denda yang merupakan kali ketiga itu, dijatuhkan terkait dengan layanan iklan AdSense yang dimiliki Google.

Sumber yang mengetahui masalah tersebut mengungkapkan kepada Reuters, Jumat (15/3/2019). Namun sanksi yang dijatuhkan diperkirakan jauh lebih kecil dari denda sebelumnya.

Komisi Eropa pada 2016 membuka kasus ketiga terhadap mesin pencari internet paling populer di dunia dengan menuduh Google mencegah pihak ketiga menggunakan produk AdSense untuk menampilkan iklan pencarian dari pesaing Google.

Penyelidikan tersebut mengatakan, bahwa Google telah menguasai 80 persen pasar Eropa untuk intermediasi iklan pencarian selama sepuluh tahun sebelumnya. Google juga dituduh mempertahankan praktik anti-persaingan selama satu dekade.

Sebagai tanggapan, Google mengubah kondisi dalam kontrak AdSense dengan pihak ketiga. Memberi mereka lebih banyak peluang untuk menampilkan iklan pencarian yang bersaing.

Komisaris Persaingan Eropa Margrethe Vestager pada awal bulan ini mengatakan kepada wartawan bahwa dia sedang menyelesaikan kasus ini.

Namun ia menolak untuk mengomentari keputusan menyangkut AdSense. Google sendiri tidak segera menanggapi permintaan komentar terhadap rencana UE menjatuhkan denda selanjutnya.

Sebelumnya, Financial Times melaporkan bahwa Komisi Persaingan Eropa telah membahas persoalan denda tahap ketiga kepada Google yang bakal dijatuhkan Uni Eropa  pada minggu ini.

Tahun lalu, Vestager memvonis Google dengan rekor denda sebesar 4,34 miliar euro (US$ 4,91 miliar), karena menggunakan sistem operasi selular Android yang populer untuk memblokir saingan.

Vonis itu menyusul denda sebesar 2,4 miliar euro yang dikenakan pada perusahaan pada 2017 karena memblokir pesaing situs perbandingan belanja.

Namun kasus yang membelit AdSense, diperkirakan bukan merupakan kasus terakhir. Tuduhan terhadap Google karena menjalankan praktek monopoli di UE diperkirakan akan terus berlanjut.

Sejauh ini, para penegak antimonopoli Uni Eropa telah meminta testimony kepada para pesaing Google, apakah layanan pencarian yang dimiliki Google secara tidak adil menurunkan pencarian lokal milik mereka.

Hal itu mengacu kepada sebuah kuesioner yang dilihat oleh Reuters, sebagai sebuah langkah yang dapat mengarah pada kasus keempat.

Diperkirakan, layanan pemetaan online dan lainnya yang dimiliki Google, juga bisa segera menjadi sorotan para penegak antimonopoli UE.

Tudingan Google melakukan praktek monopoli telah memicu negara lain, untuk menyelidiki kasus yang sama. Diketahui, selain Eropa, Google juga tengah menghadapi persoalan serupa di India.

Diketahui, Komisi Persaingan India (CCI) selama enam bulan terakhir telah mengkaji kasus serupa dengan yang dihadapi Google di Eropa.

Seperti halnya tuduhan yang dilakukan UE, CCI mendapati bahwa Google telah menyalahgunakan dominasi pasarnya sejak 2011 dengan praktik-praktik seperti memaksa produsen untuk melakukan pra-instal Google Search dan browser Chrome-nya, bersama-sama dengan Google Play store app pada perangkat Android.

“Kasus ini serupa dengan Uni Eropa, namun penyelidikan yang dilakukan oleh CCI baru pada tahap awal,” kata salah satu sumber, yang mengetahui penyelidikan CCI.

Google menolak berkomentar terhadap proses penyelidikan yang tengah berlangsung. CCI sendiri tidak menanggapi pertanyaan yang diajukan Reuters.

Namun permintaan pengawasan atas tuduhan terhadap Google terkait dengan platform Android, belum pernah dilaporkan sebelumnya.

Ini bukan kali pertama Google berurusan dengan CCI. Tahun lalu, pengawas antimonopoli India mengenakan denda 1,36 miliar rupee (US$ 19 juta) pada Google dengan alasan “bias pencarian” dan penyalahgunaan posisi dominan.

Dalam kasus itu, CCI  menemukan Google telah menempatkan fungsi pencarian penerbangan komersial di posisi yang menonjol pada halaman hasil pencarian.

Google mengajukan banding atas keputusan itu. Perusahaan, mengatakan bahwa denda senilai US$ 19 juta dapat menyebabkan kerugian “tidak dapat diperbaiki” dan kehilangan reputasi.

Dengan meningkatnya status pengawasan CCI terhadap Google, otoritas di India terlihat memainkan peran yang lebih luas dari sekedar pasar.

Subscribe to Selular Newsletter

Dapatkan berita menarik seputar harga smartphone terbaru dan informasi telekomunikasi Indonesia.

Latest