Saturday, July 20, 2019
Home News Karena AdSense, Uni Eropa Kembali Denda Google Rp24 Triliun

Karena AdSense, Uni Eropa Kembali Denda Google Rp24 Triliun

-

Jakarta, Selular.ID – Untuk ketiga kalinya, Komisi Eropa (EC) mendenda Google. Raksasa mesin pencari itu, harus mengeluarkan kocek € 1,49 miliar atau Rp24 triliun karena memaksa pelanggan bisnis AdSense untuk menolak iklan dari para pesaing, seperti Yahoo dan Microsoft.

EC menyatakan denda itu dihitung sebesar 1,29% pendapatan Google pada 2018. 

Dalam pernyataan resmi, EC menjelaskan bahwa karena tidak mungkin bagi pesaing dalam iklan pencarian online untuk menjual ruang iklan di halaman hasil mesin pencari Google sendiri, maka situs web pihak ketiga adalah “titik masuk penting bagi pemasok lain dari layanan perantara iklan pencarian online untuk mengembangkan bisnis sekaligus mencoba bersaing dengan Google”.

Namun, investigasi yang dilakukan komisi persaingan EC menunjukkan bahwa raksasa pencarian itu memberlakukan klausul pembatasan dalam kontrak dengan situs web, sehingga mencegah pesaing menempatkan iklan pencarian mereka di situs web tersebut.

Tindakan itu termasuk menghentikan para publisher memasang iklan pencarian apapun dari pesaing di halaman hasil pencarian mereka, memaksa mereka memberikan ruang paling menguntungkan di halaman hasil pencarian untuk iklan dari Google, dan diharuskan meminta persetujuan tertulis dari Google sebelum membuat perubahan dalam cara iklan pesaing lain ditayangkan. 

Kasus iklan AdSense memicu komplain dari Microsoft pada 2010. Kedua perusahaan saling mengajukan komplain pada 2016. 

Margrethe Vestager, Komisaris EC yang bertanggung jawab atas kebijakan persaingan, mengatakan bahwa Google telah memperkuat dominasinya dalam iklan pencarian online dan melindungi dirinya dari tekanan persaingan dengan menerapkan pembatasan kontrak anti-persaingan pada situs web pihak ketiga. Praktek ini tergolong ilegal berdasarkan aturan antimonopoli UE.

Margrethe menegaskan bahwa, Google memperkuat dominasi dalam iklan pencarian online dan melindungi diri dari tekanan kompetisi dengan menerapkan pembatalan kontraktual antipersaingan pada website-website pihak ketiga.

“Pelanggaran tersebut berlangsung lebih dari 10 tahun dan menyangkal perusahaan lain kemungkinan untuk bersaing pada manfaat untuk berinovasi – dan juga manfaat yang diperoleh konsumen karena adanya kompetisi”, jelas Margrethe.

Keputusan itu muncul sehari setelah Google mengumumkan akan meminta pengguna browser Android dan aplikasi pencarian mana yang mereka sukai di Eropa.

Hal itu sebagai bagian dari langkah yang diambil Google untuk menenangkan Komisi Eropa setelah keputusan denda sebesar € 4,3 miliar yang telah dijatuhkan sebelumnya karena menyalahgunakan posisi dominan dari perangkat lunak yang mereka miliki.

Denda yang merupakan rekor itu, dikeluarkan pada Juli 2018 setelah penyelidikan selama tiga tahun. Diketahui, Google mensyaratkan bagi setiap developer untuk memasukkan aplikasi pada perangkat, termasuk browsernya Chrome, dan memposisikannya secara mencolok.

Sekedar diketahui, EC pertama kali mendenda Google sebesar € 2,42 miliar pada Juni 2017 karena membatasi pesaing pada laman perbandingan belanja. 

Google saat ini mencoba menaati aturan untuk menjamin level persaingan dengan proposal untuk mendorong perbandingan harga pesaing dan mendorong pengguna Android memilih browser dan aplikasi pencarian yang mereka inginkan.

Meski demikian, para pengkritik belum puas dengan langkah Google tersebut. Alhasil, kasus yang membelit AdSense, diperkirakan bukan merupakan sandungan terakhir bagi Google.

Tuduhan terhadap Google karena menjalankan praktek monopoli diperkirakan akan terus berlanjut. Layanan pemetaan online dan lainnya yang dimiliki Google, juga bisa menjadi sorotan para penegak antimonopoli UE.

Latest