Saturday, July 20, 2019
Home News Telco Jalan Panjang Uni Eropa Mendakwa Google Karena Praktek Monopoli

Jalan Panjang Uni Eropa Mendakwa Google Karena Praktek Monopoli

-

Jakarta, Selular.ID – Google telah malang melintang dalam industri internet global selama lebih dari satu dekade. Sepanjang itu pula, Google melibas para pesaingnya, seperti Yahoo, Microsoft, dan lainnya.

Kecuali di China yang memiliki Baidu, Google tak tergantikan sebagai mesin pencari paling popular di seluruh dunia.

Namun, dalam prakteknya perusahaan yang berbasis di Mountain View, California itu, ternyata menjalankan praktek bisnis yang tidak sehat.

Hal itu terungkap dari hasil penyelidikan yang dilakukan Komisi Anti Monopoli Uni Eropa. Sejak 2009, komisi yang mewakili 28 negara itu, telah melakukan investigasi menyeluruh terhadap model bisnis yang dijalankan Google.

Dari rangkaian penyelidikan, terbaru Google didenda sebesar 1,49 miliar euro (US$ 1,7 miliar/Rp 24 triliun). Denda itu dijatuhkan pada Rabu (20/3/2019) ditengah upaya Google berupaya meredam Komisi Persaingan Eropa.

Sehari sebelum jatuhnya vonis, Google diketahui telah menyodorkan proposal kepada Komisi Anti Persaingan UE. Proposal itu menyebutkan bahwa Google akan menaati aturan untuk menjamin level persaingan, dengan mendorong perbandingan harga pesaing. Google juga membebeskan pengguna Android memilih browser dan aplikasi pencarian yang mereka inginkan.

Namun UE tetap bergeming. Sanksi yang dijatuhkan itu, merupakan kali ketiga dalam dua tahun terakhir.

Tahun lalu, denda yang dijatuhkan kepada Google memecahkan rekor, sebesar 4,34 miliar euro. Sementara denda pertama senilai 2,4 miliar euro pada 2017.

Khusus denda terakhir, Komisi Eropa mengatakan bahwa Alphabet, induk usaha Google, juga terbukti telah mencegah pihak ketiga menggunakan layanan iklan AdSense dalam pencarian iklan.

investigasi yang dilakukan komisi persaingan UE yang berawal dari keluhan Microsoft, menunjukkan bahwa raksasa pencarian itu memberlakukan klausul pembatasan dalam kontrak dengan situs web, sehingga mencegah pesaing menempatkan iklan pencarian mereka di situs web tersebut.

Tindakan itu termasuk menghentikan para publisher memasang iklan pencarian apapun dari pesaing di halaman hasil pencarian mereka, memaksa mereka memberikan ruang paling menguntungkan di halaman hasil pencarian untuk iklan dari Google, dan diharuskan meminta persetujuan tertulis dari Google sebelum membuat perubahan dalam cara iklan pesaing lain ditayangkan. 

Margrethe Vestager, Komisaris EC yang bertanggung jawab atas kebijakan persaingan, mengatakan bahwa Google telah memperkuat dominasinya dalam iklan pencarian online dan melindungi dirinya dari tekanan persaingan dengan menerapkan pembatasan kontrak anti-persaingan pada situs web pihak ketiga. Praktek ini tergolong ilegal berdasarkan aturan antimonopoli UE.

Margrethe menegaskan bahwa, Google memperkuat dominasi dalam iklan pencarian online dan melindungi diri dari tekanan kompetisi dengan menerapkan pembatalan kontraktual antipersaingan pada website-website pihak ketiga.

“Pelanggaran tersebut berlangsung lebih dari 10 tahun dan menyangkal perusahaan lain kemungkinan untuk bersaing pada manfaat untuk berinovasi – dan juga manfaat yang diperoleh konsumen karena adanya kompetisi”, jelas Margrethe.

Vonis yang dijatuhkan UE, menunjukkan bahwa dibalik kemudahan masyarakat dalam mencari segala informasi di internet, terdapat sisi gelap bisnis yang dijalankan oleh Google selama ini.

Vonis tersebut diperkirakan juga akan semakin mendorong negara-negara lain untuk melakukan penyelidikan terhadap Google. Seperti yang saat ini dilakukan oleh India.

Di bawah ini adalah kronologis kasus antimonopoli yang disidik oleh Komisi Anti Monopoli UE terhadap Google, yang telah berlangsung selama satu dekade.

3 Nov 2009 – Situs perbandingan harga Inggris, Foundem mengeluh tentang pencarian online Google ke Komisi Eropa.

2010 – Microsoft mengeluh tentang praktik Google terkait dengan layanan iklan AdSense.

30 Nov 2010 – Komisi Eropa membuka penyelidikan atas dugaan bahwa Google telah menyalahgunakan posisi dominannya dalam pencarian online setelah terdapat 18 keluhan.

3 April 2013 – Google menawarkan konsesi yang terkait dengan pencarian online dan jaringan iklan AdSense untuk mengatasi masalah persaingan UE, tanpa mengakui kesalahan.

25 April 2013 – UE meminta umpan balik dari pesaing dan pengguna ke konsesi Google.

2013 – Grup lobi FairSearch mengajukan keluhan tentang praktik bisnis Google Android ke Komisi Eropa.

5 Februari 2014 – Google meningkatkan konsesi yang terkait dengan pencarian online.

Mei 2014 – Almunia mengatakan umpan balik dari pengadu akan sangat penting untuk menentukan apakah dia menerima konsesi Google.

September 2014 – Joaquin Almunia, Komisaris Persaingan Eropa pada waktu itu, mengatakan bahwa dia tidak akan dapat menyelesaikan kasus Google sebelum mandatnya berakhir pada bulan Oktober.

15 April 2015 – UE menagih Google dengan memblokir pesaing dari layanan belanja perbandingan harganya.

20 April 2016 – UE mengirim lembar tagihan ke Google yang menguraikan praktik anti-persaingan perusahaan terkait dengan pembuat ponsel cerdas dan pembuat aplikasi Android.

14 Juli 2016 – UE menetapkan biaya lain terhadap layanan belanja Google. UE juga menuduh Google mencegah pihak ketiga menggunakan produk AdSense dari menampilkan iklan pencarian dari pesaing Google – kasus ketiga terhadap perusahaan.

27 Juni 2017 – UE mendenda Google 2,4 miliar euro karena menggagalkan saingan situs perbandingan belanja.

18 Juli 2018 – Regulator antimonopoli UE mendenda 4,34 miliar euro kepada Google atas sistem operasi selular Android setelah penyelidikan selama tiga tahun.

20 Maret 2019 – Penegak antimonopoli UE kembali menjatuhkan denda 1,49 miliar euro ($ 1,7 miliar) kepada Google karena menghalangi pesaing dalam iklan pencarian online, dalam praktek yang telah berlangsung selama satu dekade. UE menyatakan denda itu dihitung sebesar 1,29% pendapatan Google pada 2018

Latest