Jakarta, Selular.ID – Seperti biasa setiap awal tahun, Samsung punya gawean besar. Raksasa Korea Selatan itu, dikabarkan tengah menyiapkan flagship terbaru, yakni Galaxy S10.

Tanggal peluncuran Samsung Galaxy S10 sudah dikonfirmasi perusahaan, yakni Rabu, 20 Februari 2019. Berarti kita akan melihat sosok smartphone teranyar Samsung itu, beberapa hari sebelum MWC 2019, yang akan berlangsung 25-28 Februari 2019.

Selain tanggal, Samsung sendiri telah mengungkapkan waktu dan lokasi peluncuran. Yaitu, pukul 11:00 waktu setempat (14:00 ET, 19:00 GMT) di Auditorium Bill Graham Civic di San Francisco, AS.

Dalam berbagai bocoran sebelumnya, Samsung terlihat all-out dalam menyiapkan S10. Tak tanggung-tanggung, akan ada tiga model dari  S10 yang akan diproduksi. Selain versi Galaxy S10 dan S10+, chaebol Korea itu juga akan mempersiapkan versi “mini” dalam jajaran smartphone tersebut.

Ketiga perangkat ini juga akan memiliki tiga kamera di bagian belakang dan kamera depan di bawah layar. Layar OLED yang melengkung di kedua sisi masih jadi andalan mereka. Namun tahun ini mereka menambahkan beberapa bumbu di bagian layar, seperti memiliki pemindai sidik jari di bawah layar.

BACA JUGA:
Samsung: Galaxy M Series Bukan untuk Melawan Xiaomi

Hebatnya, ketiga varian terbaru Samsung itu, dikabarkan sudah siap berjalan di jaringan 5G. Peluncuran di Amerika juga dikarenakan, negara itu sudah mulai mengaktifkan jaringan 5G pada tahun ini.  Itu artinya, Samsung berusaha memanfaatkan momentum 5G, yang diperkirakan dapat mendorong penjualan.

Selain iming-iming 5G, Samsung berusaha keras agar Galaxy S10 dapat menarik animo pengguna segmen high end, yang kini mulai banyak beralih ke Huawei, dengan fitur-fitur terdepan. Salah satunya adalah Bright Night.

Fitur ini secara teknis serupa dengan Night Sight milik Google yang telah tersedia untuk aplikasi Google Camera. Night Sight pada awalnya dirilis pada Pixel 3, tapi kemudian juga menyambangi smartphone Google terdahulu melalui pembaruan Google Camera.

Mengutip laporan The Verge, Night Sight dapat secara efektif membuat kamera ponsel dapat “melihat lebih terang” di dalam gelap. Hal ini tidak memerlukan penambahan hardware baru, karena Night Sight merupakan mode kamera baru untuk ponsel Pixel.

Terkait fitur serupa pada S10, Samsung dilaporkan menghadirkannya karena ingin memberikan pengalaman fotografi yang sama dengan Night Sight ala Google tersebut.

BACA JUGA:
Lampaui Samsung, Oppo Jawara di Thailand

Oleh sebab itu, Galaxy S10 disebut akan hadir dengan sebuah mode baru bernama Bright Night, sehingga pengguna bisa mengambil foto dengan lebih baik dalam kondisi minim cahaya.

Kinerja Menurun

Samsung sangat berharap, peluncuran S10 dapat membantu mereka kembali ke jalur positif. Dalam dua tahun terakhir, sang penguasa pasar itu memang tengah mengalami masa-masa suram dalam bisnis smartphone. Perusahaan tak ingin lagi terjebak dalam pusaran kegagalan, seperti yang terjadi pada pendahulunya S10, yakni Galaxy S9.

Imbas dari penjualan S9 yang diluar prediksi membuat kinerja Samsung anjlok. Raksasa Korea itu, mengalami penurunan pendapatan hingga dua digit pada Q4 2018. Disebabkan oleh anjloknya pengiriman dan harga yang jatuh di pasar yang stagnan tetapi sangat kompetitif.

Dengan para pesaing yang semakin agresif, terutama vendor-vendor China, prospek Samsung dalam mengarungi bisnis smartphone pada 2019 diprediksi masih belum pulih sepenuhnya.

Lee Jong Min, VP Samsung’s Mobile Communications Business, berharap kinerja bisnisnya meningkat pada kuartal saat ini sebagai hasil dari pertumbuhan penjualan model terbaru, yakni Galaxy S10.

BACA JUGA:
Usung Baterai 5.000mAh, Samsung Galaxy M20 Debut di Indonesia

Dia mengatakan permintaan untuk smartphone pada 2019 akan tetap datar, sementara average selling price (ASP) diperkirakan akan meningkat karena kecenderungan mengadopsi spesifikasi kelas atas termasuk layar besar, kapasitas memori lebih tinggi dan banyak kamera.

“Kami berharap kondisi bisnis ini tetap menantang terutama di pasar ponsel cerdas yang stagnan dan kenaikan beban biaya material”, ujarnya.

Divisi TI dan Komunikasi Selular mencatat penurunan 8,4 persen tahun-ke-tahun pada Q4-2018 menjadi KRW23,32 triliun. Untuk setahun penuh, pendapatan konsolidasi naik sedikit ke KRW100.7 dari KRW100.3 di 2017.

Penghasilan divisi tersebut cenderung meningkat pada kuartal saat ini, dibantu oleh rencana peluncuran smartphone Galaxy unggulan baru dan peningkatan pasokan peralatan 5G di Korea Selatan dan AS.

Secara kelompok, laba bersih Samsung di Q4 turun 39 persen menjadi KRW8,46 triliun, dengan pendapatan konsolidasi turun 10,2 persen menjadi KRW59,27 triliun.

Di luar bisnis selular dan chip memori, Samsung berharap bisnis jaringan semakin berkembang. Perusahaan melaporkan keuntungan berkat pembangunan peralatan 5G dan perluasan jaringan LTE.

Menurunnya kinerja Samsung sebenarnya telah disuarakan oleh para analis. Hal itu merupakan imbas dari penurunan tajam dalam permintaan memori dan penurunan penjualan smartphone.

Samsung sendiri mengakui, permintaan dalam bisnis memori diperkirakan akan tetap lemah pada kuartal pertama tahun ini. Disebabkan ketidakpastian musiman dan makro ekonomi, bersama dengan penyesuaian inventaris oleh pelanggan utama.