Wednesday, September 18, 2019
Home News Feature Setelah Bolt! Who’s Next?

Setelah Bolt! Who’s Next?

-

Jakarta, Selular.ID – Setelah mencapai tingkat kejenuhan (saturated) pada 2012, industri selular Indonesia kini bisa dibilang memasuki masa kritis. Indikasinya, terlihat saat pencapaian semester pertama 2018. Seluruh operator mengalami penurunan pendapatan, sehingga menyebabkan negative growth.

Pertumbuhan minus tersebut terjadi baik dari sisi pendapatan maupun Earning Before Interest Tax Depreciation Amortization (EBITDA). Masing-masing minus 12,3% dan minus 24,3%.

Ini adalah kali pertama, industri selular tumbuh minus. Padahal, dalam dua tahun sebelumnya masih tumbuh positif, yakni 10% (2016) dan 9% (2017).

Menurut Dirut Telkomsel Ririek Adriansyah, ada tiga faktor penyebab industri selular akhirnya mengalami negative growth.

“Pertama, kebijakan registrasi prabayar yang membuat jumlah pengguna menciut drastis. Kedua, menurunnya penggunaan legacy service (SMS dan voice). Ketiga, perang tarif khususnya data yang tak kunjung usai”, papar Ririek saat menyampaikan prediksi kinerja industri dalam Markplus Conference 2018, di Jakarta (6/12/2018).

Meski sedikit mereda dibandingkan periode 2007 – 2012, perang tarif sejauh ini masih menjadi momok bagi industri selular. Operator sebenarnya menyadari bahwa praktek tersebut tidak menguntungkan.

Namun, kompetisi yang ketat, membuat sebagian operator seolah tak punya pilihan, selain menjadikan harga sebagai instrumen untuk meraih pelanggan.

Sayangnya, di era data, penerapan tarif murah tetap marak. Padahal, revenue dari data adalah masa depan dari industri ini. Jika kita telisik, tarif paket data retail kebanyakan operator masih di bawah ongkos produksi.

Bahkan ada operator yang rela kasih 5GB free. Sudah pasti tidak ada dampaknya buat perusahaan. Sama saja isi jaringan tapi tidak ada revenue. Praktek bisnis seperti ini sebenarnya sudah tergolong Harakiri, bunuh diri gaya Jepang.

Soal tarif yang kelewat murah juga sempat dikritisi oleh Menkominfo Rudiantara. Memang penggunaan teknologi 4G LTE menyebabkan penyelenggaraan jaringan makin murah.

Ia pun menganggap persaingan yang kompetitif, akan terus memaksa operator selular menghadirkan layanan internet yang makin murah dan berkualitas.

“Prinsipnya, tarif harus terjangkau untuk masyarakat, namun juga berkelanjutan untuk industri,” ucap Rudiantara dalam satu kesempatan.

Meski berorientasi pada kepentingan publik, Rudiantara tidak sepakat apabila tarif internet dari operator selular terlampau murah.

Tarif kelewat murah, menurutnya, tidak memikirkan keberlangsungan industri telekomunikasi. Rudiantara menyebut aksi demikian lebih mirip dengan lembaga amal.

Apa boleh buat, operator sudah terjebak pada penerapan tarif murah yang seolah tak berujung. Ironisnya, di negara-negara lain tarif data bisa mencapai 10 kali lipat lebih mahal dibanding operator di Indonesia.

Sehingga turunnya layanan dasar (voice dan SMS), mulai bisa dikompensasi dari pendapatan data. Ujungnya, mereka bisa menjaga revenue dan EBITDA agar tidak terjun terlalu dalam. Bagaimana pun ini adalah tren global, akibat pergeseran pola komunikasi pengguna. Dari layanan dasar ke layanan data, sehingga operator perlu mengubah skema tarif.

Faktanya, akibat penerapan tarif data murah, operator telah terjebak pada efek gunting (scissor effect). Trafik data melesat tinggi, namun revenue yang didapat bukan lagi stagnan namun sudah cenderung menurun.

Pada akhirnya banyak operator yang sudah sesak nafas. Penerapan tarif data yang affordable justru membuat operator tak punya cuan alias laba.

Kalau tak ada laba, ujung-ujungnya operator tak bisa membangun dan memelihara jaringan, sehingga mengancam keberlangsungan usaha (sustainability).

Dengan sengkarut itu, tak perlu heran jika ada operator yang kembali tumbang, seperti yang dialami Bolt Internux. Karena ketidakmampuan membayar BHP terutang, pemerintah resmi menghentikan layanan anak perusahaan Lippo Group itu pada 28 Desember 2018.

Collapse-nya Bolt menambah deretan operator yang akhirnya tamat alias gulung tikar. Sebelumnya adalah Fren (2011), Axis (2012), dan Esia (2015).

Beberapa operator sejauh ini masih bertahan, namun dengan kondisi yang bisa disebut hidup segan mati tak mau. Sebut saja Ceria (Sampoerna Telecom) dan HiNet (Berca Hardaya Perkasa). Bukan tidak mungkin, operator yang pendapatannya terus-terusan minus alias kembang kempis juga akan senasib dengan Bolt.

Tumbangnya Bolt dan operator-operator sebelumnya, seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak. Kita berharap apa yang menimpa Bolt adalah yang terakhir.

Sebab kerugian akibat penutupan usaha suatu entitas bisnis sangat besar. Semua pihak, seperti mitra usaha, konsumen, masyarakat, hingga pemerintah, merasakan dampaknya.

Tutupnya Bolt menegaskan bahwa banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan jika kita ingin industri selular kembali kuat dan memberi kemaslahatan bagi masyarakat.

Sebagai regulator, pemerintah tak bisa lagi bersikap pasif. Diperlukan kebijakan yang lebih terarah dan responsif terhadap perubahan landscape industri. Sekaligus memberi kepastian semua pihak dalam berusaha.

Di sisi lain, operator perlu menjalankan pola bisnis yang lebih sehat. Tak lagi berfokus pada peningkatan jumlah costumer base, tapi lebih kepada peningkatan service demi mengejar high value customer. Buat apa punya banyak pelanggan, tapi revenue yang di dapat cuma kelas recehan.

Bagaimana pun untuk mengembangkan industri digital, peran operator sangat penting. Operator yang sehat akan membuat pembangunan jaringan jauh lebih massif dan berkualitas ke seluruh penjuru negeri. Sehingga akses terhadap mobile internet semakin terbuka dan menguntungkan masyarakat, tidak hanya di perkotaan saja.

Ditengah fenomena industri yang banyak terdisruspi karena kemajuan teknologi internet, kita tak boleh lupa bahwa industri telekomunikasi memiliki karakter yang berbeda dengan industri digital yang kini tengah berkembang pesat.

Secara nature, industri telekomunikasi adalah industri yang bersifat capital intensif, teknologi intensif dan tenaga kerja (labour) intensif.

Untuk menjalankan dan mengembangkan bisnis para investor di balik operator harus mau mengeluarkan uang dan modal yang besar. Alhasil, tidak bisa perusahan tidak melakukan investasi di bidang tersebut meski pun dalam kondisi merugi. Jika operator tak melakukan re-investasi, taruhannya sangat tinggi. Bisa berdampak pada market share dan revenue share.

Seperti yang dialami Indosat pada periode 2009 – 2012. Anak usaha Ooredoo Group itu memutuskan mengurangi Capex. Jumlah BTS yang dibangun misalnya tak sebanyak operator lain. Alhasil, dampak dari kebijakan tersebut masih terasa hingga kini. Kinerja Indosat jauh dibawah Telkomsel dan XL Axiata.

Di sisi lain, jika operator merasa tak mampu menjalankan bisnis secara baik, dan tak kunjung mencetak keuntungan, pilihan paling masuk akal adalah melakukan konsolidasi. Ketimbang terus berdarah-darah, opsi untuk melakukan merger maupun akusisi jauh lebih baik. Bukankah begitu?

Latest